Ketika Tetes Air Mata Jatuh di Masjidil Aqsa
Rahmat Hadi - detikTravel
Selasa, 15 Jul 2014 13:55 WIB
Jakarta - Serangan Israel di Palestina seperti saat ini, tentu menghambat traveler yang ingin berwisata religi. Padahal, banyak yang ingin pergi ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, masjid suci yang banyak dirindu umat Muslim di dunia.Mengingat dan mengenang saat-saat saya berkunjung ke Yerusalem beberapa waktu lalu, selalu terselip rasa sendu dan rindu akan Masjid Al Aqsa. Masjid suci umat Islam yang awalnya menjadi arah kiblat, ibarat memiliki wangi abadi yang takkan hilang ditelan zaman.Mengunjungi Al Aqsa, ibarat memasuki sebuah labirin kehidupan yang penuh dengan liku dan birokrasi. Semenjak meninggalkan King Abdullah Bridge yang merupakan pintu perbatasan antara Yordania dan Yerusalem, dimulailah segala rentetan pemeriksaan yang lumayan menguras tenaga dan juga waktu.Di pintu pemeriksaan, kami harus berbaris di bawah kawalan tentara-tentara muda bersenjata lengkap yang selalu menatap tajam ke para pengantre yang umumnya datang untuk beribadah, baik dari umat Muslim maupun Kristen.Seperti kita kenal, bahwa Yerusalem adalah kota suci tiga agama, yakni Muslim, Kristen, dan Yahudi, yang di zaman Khalifah Umar bin Khattab pernah menjalani kehidupan yang sangat damai. Selepas melewati pintu perbatasan, kami yang waktu itu tiba malam langsung menuju ke Hotel International yang terletak di pusat kota Yerusalem dan terletak tidak jauh dari Baitul Maqdis, Kota Tua Yerusalem.Setelah menerima kunci kamar, kami bergegas menuju kamar dan bersiap-siap untuk beristirahat. Karena, kami akan menuju ke Masjid Al Aqsa sebelum salat subuh.Saat subuh menjelang, kami bergegas menuju ke kompleks Baitul Maqdis dengan melewati jalan raya kota yang masih sepi. Setelah memasuki bangunan seperti tembok raksasa, kami mulai menyusuri lorong-lorong yang masih sepi.Kondisi gelap dan hanya diterangi beberapa lampu jalan, membuat kami harus berhati-hati melangkah, khususnya saat melewati beberapa tangga-tangga. Ada satu pemandangan yang sedikit membuat 'bergidik' saat menuju ke Baitul Maqdis yang belum pernah saya temukan sebelumnya, yakni di setiap sudut ada tentara bersenjata lengkap!Saat memasuki pintu gerbang Al Aqsa yang juga dijaga tentara, tampaklah kubah masjid "Dome of the Rock" yang berwarna kuning emas. Kakiku seperti gemetaran, bukan karena tentara bersenjata lengkap tadi, namun saya gemetaran karena terpesona oleh keindahan masjid yang menjadi ikon Palestina itu.Entah apa yang saya rasakan, tapi saya seperti merasakan sesuatu yang tak bisa diungkapkan. Rasa haru, kagum, terpesona, tak percaya, dan segala macam rasa bercampur aduk menjadi satu. Betapa tidak, saya sedang berada di tempat yang bersejarah dan pernah menjadi saksi sejarah dunia ini.Salat subuh yang saya laksanakan terasa berbeda dengan salat-salat subuh sebelumnya. Saya bisa merasakan kesenduan dan kesedihan dalam alunan ayat-ayat sang Imam masjid suci itu, yang tak ayal membuat air mata bercucuran sejak awal salat hingga salam.Selepas salat, kami beranjak meninggalkan Masjid Al Aqsa dan berjalan menuju pelataran Dome of the Rock yang pagi itu masih terkunci. Kami lalu melakukan kegiatan rutin, berfoto, lalu kembali ke hotel untuk sarapan dan akan balik ke tempat ini lagi.Sebelum mengunjungi Baitul Maqdis, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di dalam kota Yerusalem, di antaranya Bukit Olive yang berada di ketinggian, dan merupakan view point untuk menyaksikan Kompleks Masjid Al Aqsa secara utuh.Selanjutnya berziarah ke Makam Salman Al Farizi, salah satu sahabat dekat Rasulullah Muhammad SAW yang dimakamkan di Palestina. Selanjutnya kami menuju ke Baitul Maqdis dengan lewat Lion Gate, dimana kami akan melewati salah satu jalan yang juga ramai dikunjungi oleh umat Kristiani, yakni jalan salib atau Via Dolorosa. Dari situ kami menuju ke Dome of the Rock untuk masuk ke dalamnya.Di depan Dome of the Rock, banyak anak-anak Palestina yang juga akan masuk ke dalam. Lagi-lagi saya gemetaran, dan kali ini hingga merinding. Saya akan masuk ke dalam salah satu tempat yang sangat bersejarah bagi umat Islam, selain Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.Setiap sudut ornamen masjid saya amati, termasuk gua yang berada di bawah masjid yang dulu pernah menjadi tempat salat Rasulullah Muhammad SAW dalam peristiwa Isra Miraj.Selepas Dome of the Rock, kami masih berkeliling mengunjungi beberapa objek sejarah, di antaranya Gate Marocco. Dimana terdapat tempat tambatan Bouraq, hingga mengunjungi tembok ratapan yang berada di balik tembok Baitul Maqdis.Ada satu pemandangan umum yang akan kita saksikan saat berkunjung ke tempat suci ini, adalah tentara bersenjata lengkap selalu berjaga dimana-mana. Al Aqsa adalah masjid suci yang selalu menghadirkan kerinduan di setiap kali saya mengingat dan menatapnya.
(travel/travel)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































