Libur Panjang, Saatnya Bertualang ke 'Afrika' di Jawa Timur

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Libur Panjang, Saatnya Bertualang ke 'Afrika' di Jawa Timur

- detikTravel
Selasa, 20 Mei 2014 11:23 WIB
Jakarta - Liburan super panjang di akhir Mei nanti adalah waktu yang tepat untuk bertualang. Taman Nasional Baluran di Situbondo, Jawa Timur adalah destinasi petualangan yang pas karena menawarkan pemandangan ala Afrika.Bermula dari keisengan berselancar di dunia maya yang begitu luas, hingga akhirnya terdampar pada sebuah gambar yang luar biasa kerennya. Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata gambar cantik itu milik seorang backpacker yang menghabiskan waktu di Taman Nasional Baluran. Taman ini terletak di Situbondo, Jawa Timur. Sekitar 7 jam perjalanan dari Surabaya.Latar belakang gunung, langit yang biru dan luas, serta kuningnya rerumputan membuat mata saya terpenjara cukup lama dalam foto itu. Bukan backpacker namanya kalau cuma kepengen doang. Harus diwujudkan! Salah satu cara mewujudkannya adalah dengan cara iseng, mengajak 3 teman kampus saya.Gayung bersambut, tugas saya saat itu adalah menghitung budget perjalanan. Ada dua opsi yang diajukan. Pertama, menggunakan kereta. Kendaraan utama para backpacker. Kedua, menggunakan mobil tentunya. Biayanya sih jelas lebih mahal kalau pakai mobil, hampir 50% lebih mahal dari naik kereta.Opsi kereta terpaksa digugurkan. Alasannya apalagi kalau bukan soal jadwal keberangkatan. Jadwalnya sama sekali gak ramah dengan jam para pekerja. Maklum, saya dan tiga teman kuliah dan kerja.Okay, setelah ketok palu menggunakan mobil, ternyata tugas belum selesai. Saya masih harus mencari penginapan. Satu temanku yang legendaris kebagian tugas cari mobil sewaan yang murah (bukan murah tapi termurah), maklum, namanya juga backpacker.Saya pun kembali menjelajahi dunianya Mbah Google. Mampir dari satu blog backpacker ke blog backpacker lainnya. Rata-rata sih mereka lebih memilih menginap di Bekol, Padang Savana di Taman Baluran. Okay, kami harus beda sendiri. Akhirnya, saya lebih memilih menginap di Pantai Bama. Pantai ini letaknya paling ujung dari kawasan Taman Nasional Baluran.Karena saya dan rombongan baru berangkat sore, jadi logikanya sampai sana malam dong? Sementara, jalan masuk dari pintu gerbang Taman Nasional Baluran ke Bekol, jaraknya 12 km.Dari Bekol ke Pantai Bama, jaraknya 5 km. Mending kita menginap di tempat yang paling ujung kan? Selain ketika bangun disambut dengan udara pantai, kita tidak perlu jalan bolak-balik Bekol-Pantai Bama-Bekol. Tapi cukup dari Pantai Bama-Bekol dan langsung keluar pintu gerbang untuk pulang ke Surabaya. Lebih efektif dan efisien.Saya pun booking guest house 'Kapidada' di Pantai Bama. Oh ya, Taman Nasional Baluran ini kawasan wisata yang terdiri dari Pantai Bama, Padang Savana Bekol, dan Gunung Baluran. Ada jalur tracking-nya juga kalau mau, tapi harus pakai guide. Konon sih, katanya di Gunung Baluran ada gua yang bisa buat mampir.Saya menyarankan Anda untuk booking guest house terlebih dahulu. Selain supaya bisa menginap di kawasan Taman Baluran, kita juga bisa masuk Taman Baluran, sekali pun datangnya pukul 24.00 WIB malam. Kalau tidak booking, bisa dipastikan kita dilarang masuk, dan harus menunggu pukul 8.00 WIB pagi untuk masuk. Nggak enak kan? Nggak bisa lihat matahari terbit di Pantai Bama.Saya booking untuk 8 orang, walau peserta finalnya cuma 7 orang. Setelah urusan booking guest house dan mobil selesai, saya dan 3 teman menentukan jam baik untuk berangkat.Sampai pada hari H, dimulailah kegiatan jemput menjemput. Jemputan terakhir di daerah A Yani. Isi bensin dulu biar gak kehabisan bensin di jalan. Senang rasanya bisa menemukan pintu gerbang Taman Nasional Baluran. Pegel dong duduk lama di mobil. Saya pun keluar menemui penjaga yang masih muda dan lumayan ganteng. Saya bilang kalau sudah booking Kapidada, dan akhirnya rombongan dipersilakan masuk.Seperti yang tadi sudah saya ceritakan di awal perjalanan, dari pintu gerbang ke Pantai Bama harus ditempuh sejauh 17 KM. Kalau jalan kaki ya lumayan, lumayan gempor kalau kata orang Surabaya.Jalannya duhh… Tidak usah ditanya deh! Jeleknya minta ampun. Jadi harus jalan pelan-pelan. Maka nggak heran kalau penjaganya bilang begini, "Untuk sampai ke Pantai Bama masih 1 sampai 1,5 jam lagi ya, Mbak. OMG!"Jangan ditanya gelapnya, cuma ada cahaya dari lampu mobil dan cahaya bulan. Sempat lihat rusa, lalu ketemu ular lagi asyik menyeberang, dan beberapa hewan (entah apa namanya, karena bentuknya seperti luwak), dan tentunya burung-burung kecil yang masih belum bisa tidur.Cahaya Bulan membuatku bisa melihat bentuk pohon dan gunung secara samar-samar. Betapa hebohnya kami bertujuh ketika melihat bayangan Gunung Baluran yang gagah itu. Serulah pokoknya, berjalan di tengah hutan Baluran dan tengah malam pula.Setelah sampai di Pantai Bama, saya mengira bisa melihat cahaya lampu. Ternyata salah. Tidak ada cahaya lampu sedikit pun. Hanya ada cahaya di salah satu bangunan di tempat penjaga guest house.Saya dan satu temanku sampai harus membawa senter dari parkiran mobil ke rumah penjaga. Setelah basa-basi, kami pun dipersilakan masuk ke Kapidada. Lumayan bagus. Kami memilih untuk menyewa satu bagian saja. Terdiri dari dua kamar, satu kamar mandi dan satu ruang tamu. Jadi ya, terpaksa tidur umpel-umpelan di dua kamar itu.Penderitaan belum berakhir. Ternyata, kami memang tidak boleh menggunakan listrik. Oh GOD! Kalau mau menggunakan fasilitas listrik, harus nambah Rp 150.000. Biaya sewa guest house-nya Rp 300.000 buat 7 orang. Murah ya? Tapi dasar backpacker, disuruh nambah Rp 150.000 pun ogah. Kan prinsipnya low cost high impact.Alhasil semua ponsel dimatikan, semua kamera dimatikan. Menghemat baterai. Ke kamar mandi harus pakai senter, gak berani deh kalau tanpa senter. Karena tiga perempuan ini nyalinya ciut, maka saya pun menerima usulan salah satu teman untuk tidur bersama. Iya bersama. Bertujuh.Eitsss, jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Jadi dua kasur di dua kamar, kami keluarkan. Lalu kami gelar di lantai. Satu kasur untuk para perempuan. Satu kasur untuk para pria. Dengan posisi tidur, kepala ketemu kepala. Aman kan?Pagi pun datang. Setelah salat subuh bergantian, kami satu persatu keluar guest house. Walaupun langit masih gelap, cuek saja. Walaupun pantainya masih surut juga cuek saja. Walaupun mendung, dan mataharinya naik secara malu-malu juga cuek saja, yang penting duduk di pantai.Main di pantai dan foto-foto di pantai. Oh ya, guest house-nya ini benar-benar terletak di tepi pantai. Jadi begitu buka pintu, view-nya sudah pantai, dan segerombolan monyet tentunya. Tapi keren dan recommended!Pantai Bama ini tenang banget, tidak ada ombak. Sangat tenang, udaranya segar banget. Sangat sepi, tapi ramai monyet. Pagi-pagi itu, warga monyet sudah pada bangun, berkeliaran main di pantai dan masuk ke guest house.Mereka mengambil satu bungkus makanan ringan yang kami bawa. Nakal. Saya dan 6 temanku main di pantai dari jam 5 pagi sampai pukul 07.00 WIB pagi. Hanya ada kami bertujuh. Wihh, berasa pantai pribadi, benar-benar tenang.Pukul 08.00 WIB pagi kami check out dan menuju Savana di Bekol. Wihh, sepanjang mata melihat cuma ada langit, awan putih, padang rumput yang hijau, sama gunung saja coba. Keren nggak tuh?Di Bekol ini baru ada sinyal. Selama di Pantai Bama, sama sekali tidak ada sinyal. Alhasil, hal pertama yang dilakukan saat turun dari mobil adalah ngecek ponsel. Baru berfoto-foto kemudian, jeprat-jepret, seru-seruan dan kembali ke mobil.Keren sih, tapi sayangnya bukan musim kemarau. Jadinya tidak kuning deh, tapi hijau. Sejuk gitu savananya. Tapi tidak apa-apa, keren kok view-nya. Serius keren!Sebelum ke pintu keluar, saya dan temanku sempat naik ke Menara, melihat seisi Taman Baluran. Berharapnya sih bisa lihat berbagai hewan yang sangar, tapi sayangnya lagi pada tidur, gak ada yang muncul. Ya sudahlah. Mereka juga butuh istirahat kan? Mungkin baru pada bangun pukul 10.00 WIB pagi.Lalu pulanglah kami, kembali menyusuri jalan yang sama. Kali ini diantar oleh para monyet yang sibuk berkeliaran. Sebelum benar-benar pulang harus foto-foto dulu dong di pintu gerbang, buat bukti kalau sudah pernah ke sini.Sebelum sampai di rumah masing-masing, makan malam lagi di daerah Petra, Surabaya. Surabaya rek! Barulah pulang ke rumah masing-masing. Dua hari satu malam, lumayan menyenangkan.Inilah pantai yang lebih keren dan menenangkan hati dibanding Pantai Papuma, Jember dan Pantai Segara Anakan, Pulau Sempu. Savana yang sejuk untuk ukuran savana, dan kawan seperjalanan yang luar biasa kerennya! (travel/travel)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads