Libur Panjang di Yogyakarta, Yuk Lava Tour Keliling Merapi
Jumat, 23 Mei 2014 15:40 WIB
Aji Muhawarman
Jakarta - Masih ingat dengan letusan Gunung Merapi yang menimpa Yogyakarta dulu? Setelah kejadian itu, ada alternatif wisata lain di Yogyakarta yang memacu adrenalin, yakni Lava Tour. Di sini, turis bisa mengelilingi Merapi dengan jeep 4WD.Rasanya tak pernah habis rangkaian kata untuk menceritakan Kota Yogyakarta. Tak pernah habis pula spot wisata, tempat kuliner enak, dan suvenir khas kota yang terletak di provinsi yang diberikan keistimewaan dalam hal pemerintahan ini.Saking istimewanya, bahkan mampu menginspirasi sebuah grup band untuk membuat lagu yang mengisahkan kota ini. Yogyakarta memang selalu menawarkan pesona yang menggoda bagi para travelers.Atas undangan seorang sahabat dan hasrat untuk menuntaskan rasa penasaran kami terhadap promosi tentang kota ini, saya dan beberapa rekan mahasiswa FKM UI memutuskan untuk mengisi liburan akhir semester ini dengan berwisata bersama ke Kota Gudeg ini.Meskipun sebagian dari kami sudah pernah beberapa kali ke Yogyakarta, tapi tidak mengurangi sedikit pun semangat kami. Bergaya ala backpackers, kami putuskan untuk menggunakan sarana transportasi umum kereta ekonomi dan menginap di rumah sahabat kami di daerah Bantul.Bagi sebagian kalangan, tentu bukan suatu yang nyaman menggunakan kereta ekonomi, termasuk saya. Tapi tetap saya paksakan untuk merasakannya dengan alasan kebersamaan. Dan benar saja, terus terang selama perjalanan saya tidak bisa tidur dengan nyenyak, walaupun kini kereta ekonomi telah dilengkapi dengan Air Conditioner (AC).Berbeda dengan beberapa rekan saya yang ternyata sangat enjoy, bahkan ternyata ada istilah 'ngolongers' yang diberikan kepada para penumpang kereta yang beristirahat dibawah kursi penumpang dengan beralaskan koran atau kardus.Sembilan jam berlalu, akhirnya sampailah kami di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Sesampainya di sana, kami telah dijemput oleh kerabat dan langsung menuju rumah makan terdekat untuk sarapan. Disinilah petualangan dimulai.Liburan kami di Yogyakarta diawali dengan menyantap kuliner soto ayam kadipiro. Meski terlihat biasa, hanya soto yang berisi ayam suwir dan kol yang dicampurkan jadi satu dengan nasi dalam sebuah mangkuk, tapi rasanya sungguh membedakan dengan soto-soto lainnya.Layaknya kuliner Yogyakarta yang sederhana namun spesial, semangkuk soto pun ludes tak bersisa. Selanjutnya kami rehat sejenak di sebuah rumah sahabat kami di Desa Piyungan, Bantul, yang terasa menyejukkan karena dikelilingi oleh sawah dan bukit hijau. Di sini kami bersiap untuk petualangan yang sesungguhnya. Apa itu? Jelajah Merapi! Yes!Jelajah Merapi atau lava tour menjadi alasan utama yang membuat kami semua excited untuk pergi liburan. Setahu saya belum ada kota lain di Indonesia yang menawarkan perjalanan semenarik dan semenantang ini.Wisata offroad berlokasi di Kabupaten Sleman, di daerah yang dulunya terkena dampak langsung dari erupsi gunung merapi yang terakhir kali meletus tahun 2010.Karena medannya yang memang berat penuh tanjakan berbatu dan berpasir, maka dibutuhkan kendaraan khusus. Untuk itu kami menyewa tiga buah jeep 4x4 yang sanggup menaklukan medan berat merapi.Brum, adventure pun dimulai. Perjalanan bermula dari sebuah rumah penyewa kendaraan offroad yang juga peternak sapi perah. Menurut cerita sang pengemudi, ternyata dalam radius 5-6 kilometer dari puncak merapi, 90% penduduknya adalah peternak sapi perah yang menjadi pemasok bahan baku utama sebuah produsen susu formula ternama.Oke, kita lanjutkan dengan perjalanan menuju wilayah yang akan kami tuju. Hanya butuh waktu sekitar 20 menit dari titik awal keberangkatan dengan jeep khusus untuk mencapai lokasi yang menjadi saksi bisu keganasan merapi.Sepanjang perjalanan, tampak wajah-wajah penuh kesenangan bercampur ketegangan terpancar dari para sahabat. Tak lupa selama perjalanan, kamera digital dan kamera HP terus mengabadikan moment-moment yang dilalui.Begitu tiba di 'pintu masuk' area off road merapi, nyali kami langsung diuji. Pengemudi dengan sengaja melewati jalur yang tidak biasa dilalui mobil biasa.Seketika teriakan kecemasan dari para penumpang membahana memecah kesunyian. Ternyata rute selanjutnya sebagian besar adalah medan off road yang benar-benar menguji keberanian para wisatawan.Bagi yang memiliki riwayat penyakit jantung atau asma, sebaiknya tidak mencobanya. Selain karena memacu cepat denyut jantung, juga karena tingginya kelembapan udara di sana.Sebelum mencapai lokasi terakhir penjelajahan kali ini, kami singgah sejenak di 'museum' yang berupa sebuah rumah yang hancur terkena luncuran awan panas merapi. Konon suhunya mencapai ratusan bahkan ribuan derajat celcius.Di dalamnya dipajang kerangka motor, rangka sapi, gelas, handphone, bahkan gamelan yang juga menjadi bukti otentik kemurkaan alam kala itu. Yang paling monumental adalah sebuah jam erupsi yang ternyata menunjukkan waktu erupsi Gunung Merapi saat itu.Percaya tidak percaya, jam tersebut berhenti pada pukul 12.05 tepat pada saat erupsi Merapi yang terjadi pada 5 November 2010. Disini kami bertemu dengan beberapa turis lokal dan asing lainnya.Setelah berfoto-foto sebentar di museum tersebut, kami meneruskan trip jelajah Merapi menuju tempat menarik lainnya di wilayah tersebut. Adrenalin kami pun kian memuncak seiring dengan raungan mesin kendaraan dan makin meningginya jalur yang kami lewati.Tak sabar rasanya ingin menikmati keindahan puncak merapi dari jarak dekat. Dalam hitungan menit, akhirnya kami sampai juga di sebuah bukit terjal yang dikelilingi kawasan pasir halus hingga bebatuan besar.Sambil digelayuti mendung dan rintik hujan, nampak jelas di sekitar kami, terlihat uap keluar dari bongkahan bebatuan dan pasir. Terbayang betapa panasnya kandungan material di dalamnya, bahkan hingga tiga tahun lebih paska letusan, masih menyisakan uap udara seperti itu.Sore menjelang dan rintik hujan tak juga mereda, akhirnya tak berapa lama kami meninggalkan spot itu untuk beringsut menuruni kawasan Merapi dan kembali ke tempat permulaan kami berangkat.Dalam perjalanan pulang, kami menyempatkan untuk mampir ke sebuah batu raksasa yang disebut masyarakat setempat dengan 'batu alien' yang bila diperhatikan dengan seksama batu besar tersebut memang tampak seperti kepala mahluk planet lain seperti yang sering terlihat di film-film.Setelah sempat menjajal sebentar medan offroad yang memang disiapkan di dekat lokasi batu alien, kami pun mengakhiri perjalanan 'lava tour' ini.Walaupun sempat mengalami kendala teknis karena kendaraan yang kami tumpangi mogok dan perlu didorong, namun kami dapat dengan selamat tiba di rumah penyewa jip.Tanpa diduga, di sana sudah menanti suguhan berupa segelas susu sapi segar! Wah, rasanya terbayar semua ketegangan, kelelahan, dan dahaga kami usai menapaki kawasan Merapi yang tanpa terasa memakan waktu tiga jam lamanya. Terpuaskan dengan semua suguhan alam tadi, kami semua kembali ke penginapan kami di daerah Bantul.Malamnya kami menikmati santap malam berupa oseng-oseng mercon. Dinamakan mercon karena rasa pedasnya yang luar biasa. Santapan ini terbuat dari potongan daging sapi (tetelan/kikil) yang dibumbui cabe merah, cabe rawit, dan bawang yang ditumis sehingga mampu meledakkan rongga mulut penikmatnya sampai bercucuran keringat.Dihidangkan dengan sepiring nasi menjadikan sebuah sajian khas berselera yang belum saya jumpai di tempat lain. Bagi yang berminat menyicipinya, ada beberapa warung lesehan oseng mercon di jalan KH Ahmad Dahlan, berdekatan dengan kawasan Malioboro. Dijamin bikin ketagihan.Sekali lagi Yogyakarta telah memberikan pengalaman traveling yang seru dan berbeda, dalam wujud tempat dan makanan yang belum pernah dikunjungi dan dirasakan oleh kami selama ini.Rasanya perjalanan kali ini terasa sempurna mengisi masa liburan kami. Masih banyak objek wisata dan kuliner yang belum sempat kami datangi dan cicipi. Mungkin lain waktu kami akan kembali ke kota ini. Sebagaimana kutipan lirik lagu dari Kla Project:"Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu, izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi,"












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru