Mengintip Tempat Bulan Madu Cleopatra di Turki
Sabtu, 05 Okt 2013 11:49 WIB
Wandra Aira
Jakarta - Turki sangat cocok untuk liburan bagi para pecinta sejarah yunani dan romawi kuno. Di sini, traveler pun bisa mengintip Kota yang diyakini sebagai tempat Cleopatra pernah berbulan madu. Seperti apa?Dikisahkan bahwa ternyata di zamannya, Ratu Cleopatra pernah berbulan madu di Kota Ephesus di suatu musim semi. Ephesus, Kota Yunani Kuno di sebelah barat dari Anatolia, Kota Selcuk, Provinsi Izmir.Kota ini adalah salah satu dari dua belas kota dari Liga Ionian dalam sejarah pemerintahan Yunani kuno. Sebelum perjalanan menuju Kota Kuno Ephesus, dalam perjalanan kami singgah sebentar di Ibukota Provinsi Izmir yaitu Kota Izmir.Kota ini terkenal dengan para wanita cantik. Sampai-sampai mereka mengibaratkan, diantara sepuluh wanita di Izmir, maka yang cantik ada sebelas orang. Kami juga menyempatkan diri mampir sejenak untuk foto di depan patung Meryem Ana atau Siti Maryam atau Bunda Maria.Sebagian teman lain juga berkesempatan mengunjungi rumah Meryem Ana, yang berada di satu kawasan dengan Ephesus satu hari sebelum kunjungan ke Ephesus. Rumah Bunda Maria atau disebut Panaya Kapulu terletak di selatan Ephesus di kaki Gunung Bulbul yang tenang dengan pemandangan indah.Pada awalnya, Meryem Ana dibawa ke Ephesus oleh pengikutnya karena Yerusalem sudah dianggap tidak aman lagi. Meryem Ana ditinggal dan akhirnya meninggal di tempat ini. Pada akhir tahun 1891, rumah ini ditemukan sesuai dengan detail yang digambarkan oleh Biarawati Catherine Emmerich.Esok harinya, perjalanan kami lanjutkan ke Ephesus. Di sini ada candi terkenal dengan nama Candi Artemis. Candi ini selesai dibangun 550 SM, dan merupakan satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno. Candi ini dirobohkan tahun 401 oleh sekelompok massa yang didalangi oleh St John Chrysostom.Ephesus dulunya adalah kota yang dikuasai oleh Lysimachia, salah seorang jendral perang Alexander Agung. Sepeninggal Alexander Agung, wilayah-wilayah taklukan diperebutkan dan dibagi-bagi oleh para jendralnya, karena Alexander mati muda dan tidak mempunyai anak sebagai penerusnya.Ephesus kemudian dikuasai oleh Kekaisaran Romawi pada 88 SM. Sempat terjadi pemberontakan, tapi kemudian berhasil dikuasai kembali oleh Romawi dibawah pimpinan Lucius Cornelius Sulla 2 tahun kemudian, sekitar 86 SM.Diceritakan bahwa Kaisar Romawi, Mark Anthonius dan Ratu Mesir Cleopatra pernah berkunjung ke Ephesus pada 33 SM, di musim semi untuk berbulan madu. Pada masa kaisar Augustus, 27 SM, Ephesus dijadikan ibukota untuk Provinsi Anatolia Barat dari Kekaisaran Romawi.Sejak saat itulah Ephesus berkembang menjadi kota besar di kala itu. Puncak kejayaan Ephesus terjadi pada abad ke-2 Masehi. Gempa juga pernah menghancurkan kawasan ini.Tur yang kami lewati berawalΒ dari puncak bukit, dimana sejarah kota ini berawal. Pilar-pilar marmer berjejer di sepanjang jalanan masuk yang juga terbuat dari batu marmer. Ada beberapa bangunan utama di kawasan kota kuno ini yang sempat saya ingat, antara lain:1. Odeon, teater yang dibangun oleh Vedius Antonius di tahun 150 Masehi, merupakan ruang perjamuan dan pertunjukan untuk skala sekitar 1500 orang.2. Candi Hadrian, relief ini bagian atasnya adalah imitasi, dan aslinya dipajang di Museum Arkeologi Selcuk Kusadasi, Turki. Relief ini dapat disimak pula dalam gambar mata uang Turki pecahan 20 Lira.3. CandiΒ Domitian, ini adalah teater atau stadion multi. Selain sebagai tempat pendidikan, tempat ini juga digunakan untuk pertunjukkan budaya dan gladiator. Di sinilah dahulu para Gladiator saling bertarung.Gladiator adalah budak petarung dan konon, bisa membeli kebebasannya jika telah memenangkan seratus pertarungan. Tugas gladiator hanya untuk bertarung melawan sesamanya maupun binatang buas.Mereka adalah para petarung yang sangat kuat di zaman Romawi Kuno. Pertarungan mereka menjadi konsumsi publik yang ekslusif di zaman itu dan sangat dinantikan. Semakin cepat mengalahkan lawannya, maka semakin hebat Gladiator itu dan tepuk tangan akan semakin membahana dan bergemuruh.Masih banyak lagi bangunan-bangunan yang kami lewati termasuk di antaranya reruntuhan pasar kuno, juga sarana-sarana umum lain seperti Perpustakaan Celsus, jalan-jalan kota dengan pilar-pilar di kiri kanannya, rumah sakit, Hamam atau pemandian umum.Kami juga melewati 'Rumah Cinta' yang berseberangan dengan perpustakaan. Diketahui kemudian bahwa ternyata ditemukan lorong bawah tanah yang menghubungkan Perpustakaan Celsus dengan 'Rumah Cinta' ini.Jadi konon dalam kisahnya, dahulu ketika para istri ke pasar, para lelaki pamit ke Perpustakaan. Namun sebenarnya mereka pergi ke 'Rumah Cinta'. Wah! Dari jaman dahulu ternyata banyak juga lelaki hidung belang ya!












































Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun