Hari Libur di Jakarta, Yuk Icip Rujak Shanghai di Petak Sembilan!

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Hari Libur di Jakarta, Yuk Icip Rujak Shanghai di Petak Sembilan!

Diandra S Caesarlita - detikTravel
Senin, 14 Okt 2013 12:38 WIB
Jakarta - Bagi pecinta kuliner, tak usah jauh-jauh pergi ke luar kota untuk menjajal makanan enak. Cukup merapat ke Petak Sembilan, Glodok, Jakbar, Anda akan menemukan Rujak Shanghai yang resepnya turun-temurun.Malam itu setelah kami menelusuri kawasan Asemka dan Petak Sembilan, tak terasa perut kami sudah berdendang. Kami menemukan sesuatu yang unik di kawasan yang biasa disebut kawasan Pecinan itu.Β Kawasan Petak Sembilan di Glodok, Jakarta Barat, adalah tempat yang tepat mencicipi Rujak Shanghai. Kuliner ini bisa kita temukan malam hari. Menurut Koh Alim, sang penjual Rujak Shanghai di Petak Sembilan, pelanggan yang datang rata-rata sudah menjadi langganan sejak dari orang tua mereka terdahulu.Berawal dari warung tenda yang mungil, Koh Alim mengembangkan usaha orang tuanya. Pilihan makanan yang ditawarkan di warungnya dimulai dari bubur ayam, kepiting soka hingga Rujak Shanghai.Rujak Shanghai hampir mirip dengan rujak juhi, namun bedanya rujak Shanghai menggunakan ubur-ubur, cumi, kangkung, bubuk koya dan saus tomat. Resep rujak Shanghai datang dari orang tua koh Alim yang memang ingin membuat sesuatu yang berbeda untuk memanjakan lidah pelanggannya.Lelaki paruh baya asal Tionghoa ini sangat ramah kepada setiap pengunjung yang datang. β€œMau makan apa mbak? Ada kepiting, ada rujak Shanghai.” ucap Koh Alim kepada kami.Β Kami rasanya ingin mencoba kuliner unik untuk santapan malam itu. Akhirnya kami memesan rujak Shanghai yang ditemani dengan kerang macan rebus. Wah, apa lagi itu kerang macan?Β Lagi-lagi kami terkejut karena nama makanannya yang sangat unik. Sembari menunggu pesanan kami datang, kami mengobrol santai dengan pemilik warung yang sudah berdiri sejak tahun 1948 itu.β€œRujak Shanghai ini dari orang tua saya, ia menciptakan sendiri. Awalnya namanya berasal dari bahasa Mandarin, You Yi Yung Shoi, kemudian diubah menjadi rujak Shanghai.” cerita Koh Alim.Β Tak lama setelah mengobrol, pesanan kami datang. Kami memang belum pernah mencicipi rujak Shanghai dan kerang macan sebelumnya. Tapi kalau dilihat dari penyajiannya tampaknya sangat menggugah selera. Benar saja, rasanya maknyus!Kangkungnya segar, cumi dan ubur-uburnya legit, ditambah dengan saus dan bubuk koya yang pas di lidah. Bagaimana dengan kerang macannya? Mengapa diberi nama kerang macan?Ternyata ukuran kerang yang lebih besar dan bercorak seperti macan lah yang membuat kerang macan berbeda dari kerang lain. Kerang macan menyajikan cita rasa yang gurih. Apalagi jika ditambah dengan sambal yang telah tersedia.Rujak Shanghai ini hanya bisa kita temukan di malam hari. Tapi ingat, jangan sampai kehabisan karena warung ini bisa dibilang laris manis. Saat kami ke sana banyak pengunjung yang datang dan pergi baik untuk makan di warung atau pun dibawa pulang.Β Menurut Koh Alim, pelanggan yang datang memang rata-rata sudah menjadi langganan sejak lama. Kebanyakan dari orang tua mereka terdahulu.Sambil menikmati Rujak Shanghai, kami berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan pelanggan di sana. Adrian yang saat itu datang dengan kekasihnya mengaku memang sudah sering makan di warung Koh Alim.Β Hampir setiap dua minggu sekali, pemuda yang berdomisili di Tangerang itu rela pergi jauh-jauh ke kawasan Petak Sembilan hanya untuk menikmati rujak Shanghai dan kerang rebus.Β β€œKita suka makan disini karena kerangnya besar. Makanan ciri khas disini itu rujak Shanghai, sausnya asam manis, itu yang bikin enak. Soalnya di Tangerang nggak ada,” ujar Adrian.Bagaimana soal harganya? Harga makanan disini cukup sebanding dengan rasa masakan yang disajikan. Kita hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 25.000 untuk satu porsi rujak Shanghai dan Rp 8.000 untuk satu porsi kerang macan yang berisi 10 buah kerang yang besar-besar. Tidak mahal kan?Β Koh Alim mengaku usahanya ini cukup menjanjikan. Ia dapat menghasilkan omset hingga Rp 45 juta per bulannya.Jika menggunakan transportasi umum, Anda dapat menggunakan bus Transjakarta. Anda dapat naik Transjakarta koridor I jurusan Blok M-Kota, lalu turun di halte Kota. Dari halte Kota menuju Petak Sembilan dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki.Β  (travel/travel)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads