Pertama Kali ke Bromo, Selalu Ada Perjuangan!
Minggu, 20 Okt 2013 13:45 WIB
Dhinz Milito
Jakarta - Bromo adalah salah satu tempat yang paling diincar turis saat traveling ke Jawa Timur. Tapi, mencapai kawasan Bromo tidak bisa dibilang mudah. Apalagi bagi turis yang baru pertama kali ke sana.Perjalanan ini kami lakukan pada Tahun Baru 2012. Sore menjelang pergantian tahun, kami berencana menghabiskan malam tahun baru di Gunung Bromo. Nah! Waktu itu kami berencana berangkat 4 orang, tapi ada teman lainnya yang ingin ikutan.Akhirnya kami sepakat berangkat 6 orang dengan berkendara sepeda motor, menggunakan 3 motor. Sebagai pemimpin grup, kebetulan saya yang mengkomando. Kami berenam berencana berangkat pukul 14.00 WIB, untuk menghindari macet di daerah Porong-Sidoarjo, Jawa Timur.Biasanya saat akhir pekan atau hari libur, jalanan di sana macet. Tapi apa yang terjadi? Teman-teman tidak tepat waktu, tampaknya ini sudah menjadi tradisi di negara kita.6 orang itu adalah saya Dhinz, Ted, Nun, San, Wid, Zul. Akhirnya kami berangkat jam pukul 16.00 WIB. Kebetulan waktu itu Surabaya diguyur hujan, namun kami nekat berangkat.Dengan segala persiapan kami berangkat, tapi ada satu teman yang harus dijemput. Perjalanan kami belum mencapai 0,5 km, motor yang di kendarai Wid mogok. Kita sepakat memperbaiki kendalanya. Ternyata businya kemasukan air.Kami perbaiki motor sendiri dan akhirnya bisa melanjutkan perjalanan. Kami pun melanjutkan perjalanan, melalui jalan di Porong yang katanya macet. Tapi alhamdulillah jalanan lancar, mungkin karena hujan.Hampir pukul 19.00 WIB, kami tiba di Pasuruan tepatnya di Bangil. Lagi-lagi motor Wid mogok! Kami perbaiki lagi dengan mengganti businya. Lalu kami jalan lagi.Kami berjalan melalui jalur Tongas, tepatnya Probolinggo paling barat. Pukul 21.30 WIB kami tiba di kaki Gunung Bromo.Sekarang giliran motor saya yang tidak kuat melaju di tanjakan. Akhirnya saya menyuruh Nun turun dan berjalan kaki dahulu. Singkat cerita, pukul 22.30 WIB kami tiba di penginapan yang ternyata sudah penuh.Kebetulan Ted pintar bernegosiasi. Akhirnya kami dapat penginapan meski relatif mahal, seharga Rp 350 ribu. Setelah menaruh barang dan merebahkan tubuh sejenak, kami berencana berjalan-jalan di sekitar penginapan, menikmati bakso khas Bromo, yakni bakso pikul. Gerobak bakso dipikul oleh penjual.Kebetulan teman saya juga sedang berada di Bromo. Saya coba membuat janji dan bertemu di sana. Singkat cerita, paginya kami menuju Bromo menggunakan motor. Kami menikmati keindahan panorama Bromo dan bercengkrama di sana.Tiba saatnya pulang, kami berencana pulang melalui jalan yang dilalui saat berangkat. Tapi apa yang terjadi? Ada longsor di bawah. Kami harus putar haluan dan kembali ke Gunung Bromo untuk mencari jalur lain.Jalur yang kami lalui adalah jalur ke Pananjakan, yaitu bukit tinggi dengan jalan terjal dan menanjak. Terpaksa harus ada yang jalan kaki saat melewati tanjakan, ditambah jalannya rusak dan berbatu.Sampailah di tengah-tengah Pananjakan, tahu apa yang terjadi? Rantai motor saya putus! Bisa Anda bayangkan, di tengah gunung, rantai putus. Mau beli juga pasti mahal, juga jauh dari tempat penjualan onderdil motor.Tapi Tuhan berkehendak lain, Wid yang berjalan di belakang saya tahu jika motor saya terhenti karena rantai putus. Wid memberi tahu bahwa ada rantai di belakang rantai saya. Rupanya ada rantai motor lain Β dibuang oleh pemiliknya.Akhirnya saya ambil rantai itu dan saya sambung sendiri. Alhamdulillah rantai bisa disambung dan dipakai hingga pulang.Kami pun pulang dengan selamat melalui jalur Nongko Jajar Pasuruan. Di perjalanan pulang, kami menikmati durian khas Pasuruan, lalu lanjut pulang disertai guyuran hujan.Tiba di Surabaya kami mampir di tempat saudaranya Ted, lalu kami makan, cuci kaki, serta istirahat sejenak sebelum pulang ke rumah masing-masing.Itulah perjalanan kami yang penuh tantangan. Pesan kami untuk traveler lain, jangan lupa memeriksa kendaraan yang akan dipakai untuk perjalanan jauh. Selalu ada perjuangan saat pertama kali ke Bromo!












































Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun