Usai Tonton Royal Wedding, Ayo Jelajahi Spot Wisata Yogya

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Usai Tonton Royal Wedding, Ayo Jelajahi Spot Wisata Yogya

Budi Kristianto - detikTravel
Rabu, 23 Okt 2013 14:22 WIB
loading...
Budi Kristianto
Suatu fajar di Puncak Suroloyo
Gua Rancang Kencono dilihat dari dalam gua
Pesona air terjun Sri Gethuk
Patung Garuda di mulut tebing Pantai Ngobaran
Siap nyebur di Sungai Oyo
Usai Tonton Royal Wedding, Ayo Jelajahi Spot Wisata Yogya
Usai Tonton Royal Wedding, Ayo Jelajahi Spot Wisata Yogya
Usai Tonton Royal Wedding, Ayo Jelajahi Spot Wisata Yogya
Usai Tonton Royal Wedding, Ayo Jelajahi Spot Wisata Yogya
Usai Tonton Royal Wedding, Ayo Jelajahi Spot Wisata Yogya
Jakarta - Liburan ke Yogyakarta tidak hanya menonton kirab kereta Royal Wedding di tengah kota saja. Traveler pun banyak yang berburu spot wisata yang belum banyak terjamah di sekitar Yogyakarta.Backpacker selama 3D2N ini memiliki misi untuk berburu berbagai spot 'perawan' di Yogyakarta. Sungguh pengalaman yang menakjubkan dengan biaya yang bisa sangat rendah.Provinsi DI Yogyakarta memang sudah sejak lama terkenal dengan budayanya yang memukau. Lantas bagaimana dengan panorama alam di sekitarnya? Wah, kalau soal itu sepertinya tidak perlu diperdebatkan lagi.Berbagai panorama alam yang luar biasa tersaji semuanya di Yogyakarta, mulai dari gunung, waduk, gua, pantai, air terjun, hingga wisata mengarungi sungai. Namun, apakah mungkin mengarungi semuanya dalam 3 hari 2 malam?Beberapa waktu lalu kami mencoba untuk backpacker menjelajahi lokasi-lokasi 'perawan' di Kota Gudeg ini. Kami memulai perjalanan dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta menuju Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta menggunakan KA Progo.Berapa biayanya? Mulai tanggal 1 September besok harganya hanya Rp 50 ribu saja. Setelah sampai di Stasiun Lempuyangan, kami menyewa sebuah sepeda motor dengan biaya hanya Rp 40 ribu per 24 jam.Tapi sebelum memulai petualangan, terlebih dahulu saya menyewa sebuah kamar di homestay yang merupakan relasi dari Pamitran Rental Motor tempat saya menyewa. Untuk kamar biasa dengan kipas angin dan TV, biayanya sebesar Rp 90 ribu. Sementara, untuk kamar AC biayanya Rp 120 ribu. Murah meriah bukan?Perjalanan hari pertama pun dimulai dengan menjelajahi puncak utara Yogya, apalagi kalau bukan Gunung Merapi yang berdiri kokoh di sebelah utara Provinsi Yogyakarta. Target pertama kami adalah Embung Tambakboyo di daerah Condong Catur, sekitar 500 meter di sebelah utara UPN Yogyakarta.Siapa sangka di tengah kota Yogyakarta yang relatif padat dengan pemukiman penduduk, tersembunyi sebuah embung atau waduk nan hijau dan luas memanjakan mata? Sekitar 300 meter dari Embung Tambakboyo juga terdapat komplek Candi Gebang serta juga terlihat sebuah stadion megah di atas embung.Ya benar, sebuah stadion megah tersebut adalah Stadion Maguwoharjo, stadion kebanggaan dari Klub PSS Sleman. Target kedua yang kami telusuri adalah 'istana' Mbah Maridjan yang terletak di Dusun Kinahrejo, sekitar 30 km sebelah utara Yogyakarta.Setelah melalui jalur menanjak di sepanjang jalan, tibalah kami di Dusun Kinahrejo. Meskipun tahun 2010 lalu dusun ini pernah luluh lantak tersapu oleh awan panas Merapi, namun kini Dusun Kinahrejo telah bangkit.Perekonomian warga pun semakin meningkat seiring dengan ramainya wisatawan yang ingin sekedar berwisata melihat rumah Mbah Maridjan atau yang bermaksud mendaki Gunung Merapi. Ya, dusun ini merupakan dusun terakhir yang dilalui jika ingin mendaki ke Puncak Merapi.Dalam dusun ini terdapat bekas rumah mendiang Mbah Maridjan beserta berbagai peninggalan yang tersisa dari letusan Merapi 2010 lalu, seperti bekas mobil, motor, perabotan rumah tangga, atau bahkan tulang belulang sapi yang terbakar oleh awan panas Merapi.Tidak jauh dari rumah Mbah Maridjan terdapat jalur pendakian Merapi di Puncak Kinahrejo yang telah diperbaiki melalui program CSR dari PT Pertamina. Usai berkeliling di sekitar Dusun Kinahrejo, kami pun kembali lagi ke penginapan dan beristirahat untuk perjalanan hari berikutnya.Setelah di hari pertama kami menjelajahi puncak utara, perjalanan hari kedua kami agendakan dengan menjelajahi puncak selatan Yogyakarta. Lokasi tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah kawasan perbukitan karst Gunungkidul, yang seolah membentengi bagian selatan Yogyakarta dari serbuan ombak pantai selatan yang terkenal ganas.Target pertama kami adalah Gua Rancang Kencono yang terletak di Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Gunung Kidul. Keunikan dari gua tersebut adalah adanya sebuah pohon besar yang menjulang vertikal dari dalam gua hingga ke luar mulut gua.Setelah menuruni anak tangga hingga ke dalam gua, langsung terlihat jelas berbagai stalaktit dan stalakmit indah yang menghiasi atap, dasar, dan dinding gua. Meskipun bagian dalam gua sangat gelap, kita tidak perlu khawatir.Sebab, di bagian luar mulut gua terdapat guide yang juga menyewakan lampu senter dengan biaya yang relatif murah. Gua Rancang Kencono ini juga merupakan saksi bisu sejarah tempat persembunyian dan pertemuan Laskar Mataram kala menyusun strategi mengusir Belanda.Usai menjelajahi Gua Rancang Kencono, kami beralih ke air terjun Sri Gethuk yang berjarak hanya 1,5 km dari gua. Kita juga tidak perlu khawatir akan mahalnya harga tiket masuk wisata Gua Rancang Kencono dan air terjun Sri Gethuk. Hanya dengan Rp 5 ribu per orang kita sudah dapat menjelajahi keindahan kedua lokasi ini.Dari pintu masuk, kita dapat memiliki dua alternatif jalan untuk menuju lokasi air terjun, dengan menggunakan rakit menyusuri Sungai Oyo dengan biaya Rp 5 ribu/orang, atau jalan kaki sekitar 10-15 menit melintasi sisi sungai.Pesona yang dihadirkan oleh air terjun ini sungguh luar biasa. Bagaimana tidak? Dari atas, air terjun seolah terbelah dua oleh bukit kapur. Di bawahnya, terdapat kolam dan aliran air yang berundak-undak menuju Sungai Oyo yang indah berwarna kehijauan.Pengunjung pun dapat melompat dan berenang di Sungai Oyo ini dengan bantuan pelampung yang disewakan dengan harga Rp 25 ribu/ orang. Puas bermain di air terjun, kami langsung menuju target ketiga, yaitu Pantai Ngobaran. Meski berjarak masih sekitar 30 km dari air terjun Sri Gethuk dengan jalan yang berliku dan terjal melintasi perbukitan karst, lelah itu pun terobati dengan kecantikan pesona pantai yang dilihat dari atas bukit karang.Tidak hanya itu, pantai ini juga menyiratkan indahnya kerukunan beragama. Di atas tebing karang nan kokoh, berdiri sebuah pura yang berdampingan dengan sebuah masjid berserta patung Garuda yang menghadap ke laut, seolah hendak mempertontonkan kegagahan Sang Garuda.Dari atas area itu, kami dapat turun langsung ke bawah menuruni anak tangga menuju pantai. Deretan batu besar yang tersaji indah di tepi pantai menambah keelokan Pantai Ngobaran yang juga terkenal dengan deras ombaknya.Mengingat hari sudah mulai senja, kami beranjak meninggalkan Pantai Ngobaran menuju Yogyakarta. Berbeda dengan jalur berangkat, jalur pulang kami tidaklah melalui Jalan Wonosari, tetapi melalui Jalan Raya Panggang-Parangtritis.Melalui jalur yang baru diperbaiki dan diperlebar ini, kendaraan yang melintas pun relatif sepi sehingga waktu tempuh pun menjadi lebih pendek. Jalur ini berujung di Pantai Parangtritis melalui daerah perbukitan di sebelah timurnya.Dari sana, kami langsung menuju Pantai Depok, tempat pelelangan ikan yang berada di kawasan Parangtritis. Sebelum tiba di Pantai Depok, kami terlebih dahulu melewati kawasan gumuk pasir yang luas.Konon, gumuk pasir Parangkusumo dengan butiran putih nan lembut ini merupakan gumuk pasir terbesar kedua di dunia. Setiba di Pantai Depok, kami langsung mencari ikan yang dijual di tempat pelelangan ikan untuk segera dimasak di warung-warung makan yang memang tersedia di tepi pantai.Sambil menunggu makanan, kami juga menikmati panorama senja Pantai Depok dengan perahu-perahu nelayannya yang mempesona. Setelah makan, kami pun segera pulang menuju homestay untuk beristirahat sambil mempersiapkan diri menyambut fajar terakhir di Yogyakarta.Tidak seperti hari-hari sebelumnya, hari terakhir berada di Yogyakarta ini kami berangkat pukul 04.00 WIB. Misi kami adalah menyambut fajar di puncak barat Yogyakarta, yaitu di Puncak Suroloyo, Perbukitan Menoreh, Kulonprogo.Puncak Suroloyo terletak di Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo, atau sekitar 40-60 km dari Yogyakarta. Perjalanan menuju lokasi tersebut memang sangatlah berat.Bagaimana tidak? Di samping jalan yang terjal berliku, kami juga dihadapkan pada hawa dingin yang begitu menusuk dan kegelapan malam. Namun dengan tekad menuntaskan misi tersebut, berbagai rintangan itu pun kami lalui.Dua jam kemudian, perjuangan kami terobati dengan indahnya panorama fajar Puncak Suroloyo. Hamparan awan seolah berombak-ombak berada di bawah kami. Puncak bukit tempat kami berdiri laksana berada di atas 'samudera' awan dengan Gunung Merapi dan Merbabu tampak di kejauhan.Sayangnya, hamparan 'samudera' awan ini tidak lama, sebab seiring dengan terbitnya Sang Fajar, awan-awan tadi pun tercerai berai berganti dengan pemandangan bukit nan hijau. Sungguh pesona yang luar biasa dan tak terlupakan.Tidak berapa lama, kami segera beranjak dari lokasi dan kembali menuju hotel dan mempersiapkan berbagai keperluan untuk kembali ke Jakarta. Tidak lupa, kami menyempatkan diri untuk belanja oleh-oleh di Malioboro. Bagaimana, tertarik ikut mencoba?

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads