Kilau Pagoda Emas di Yangon, Myanmar
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Kilau Pagoda Emas di Yangon, Myanmar

badaiguntur - detikTravel
Selasa, 26 Nov 2013 11:22 WIB
Jakarta - Kota wisata yang pernah terlibat konflik ternyata tidak mengurungkan niat traveler untuk berkunjung. Di Yangon, Myanmar, traveler bisa melihat budaya Buddha yang kental, serta melihat pagoda dari emas!Awalnya sama sekali tidak terpikir untuk pergi ke Myanmar. Namun tiket promo suatu maskapailah yang membimbing kami kesana.Mendarat di Bandara Yangon International yang relatif sepi namun bersih, kami segera menuju homestay inceran secara go show, maklum kartu kredit hampir tidak berguna.Sepanjang jalan, anggapan sebuah negara yang terbelakang kungkungan militer sekian puluh tahun sirna sudah. Mobil-mobil bermerk sudah cukup marak digunakan meski memang penampilan bangunan di sini sedikit lusuh dan agak kotor.Beberapa baliho menyambut pelaksanaan SEA Games Desember nanti juga menyambut kami. Namun ada yang lucu, tak nampak satu pun sepeda motor. Ternyata khusus di Yangon pemerintah melarang penggunaannya. Alhasil taksi marak digunakan untuk moda tercepat.Shwedagon Pagoda adalah kiblat utama kaum Buddhis di sini. Struktur bangunan mirip lonceng ini menjulang megah dan super mewah, terutama di malam hari, kenapa? Bangunan utamanya adalah emas dan permata yang berkilau. Wow!Menjulang setinggi 99,36 meter, pada ujung pagoda terdapat 500 kg emas dan 83.850 batu permata dengan total 1.800 karat. Disediakan pula teropong untuk melihat detailnya. Pokoknya traveler dibuat geleng-geleng kepala seharian di spot wisata utama Myanmar ini.Juga tidak kalah menarik bila keliling Kota Yangon dengan kereta rakyat. Meski sudah mengenakan sarung sebagaimana umumnya pria lokal, namun wajah saya masih terdeteksi built-up.Alhasil keliling 3 jam melewati sekitar 39 stasiun saya dikenai tiket wisatawan asing yaitu USD 3 (Rp 35.200). Padahal warga lokal membayar jauh lebih murah.Turisme di sini memang baru menggeliat. Baik hotel maupun homestay masih tertinggal jauh jumlahnya dibanding animo wisatawan asing yang ingin melihat mantan negeri tertutup ini.Rate harga hotel maupun homestay di Yangon cukup tinggi dibanding fasilitas setara yang bisa kita dapatkan di negara tetangganya seperti Thailand, Kamboja apalagi Vietnam.Ditambah lagi penggunaan taksi menjadi sebuah keharusan. Hal ini karena bus umum banyak yang tidak layak. Tentunya pasti menambah bujet tersendiri bagi wisatawan.Masyarakat Myanmar mempunyai kuliner yang bervariasi. Satu hal yang perlu dicatat, kebersihan dan hygienitas kurang diperhatikan. Sehingga kami menghindari membeli penganan terbuka di pinggir jalan, meski penampilannya menggugah selera.Bahkan di beberapa titik wisata tersedia semacam air minum gratis dari galon, namun gelasnya dikaitkan dengan semacam kabel telpon lawas. Tentu tidak ada tempat untuk mencuci gelas, alias dipakai ramai-ramai.Myanmar khususnya Yangon dengan budaya Buddha kental menjiwai kota, layak dikunjungi. Masyarakatnya cukup heterogen dan ramah.Penggunaan bahasa Inggris meski tidak umum, namun mereka cukup ramah terhadap orang asing dan pasti berusaha membantu sebisa mungkin, walau hanya dengan bahasa tarzan. Mingalarbar Myanmar! (dtvl/dtvl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads