Terhipnosis Pesona Alam dan Budaya Dataran Tinggi Dieng
Selasa, 30 Jul 2013 10:25 WIB
Agung Setiono
Jakarta - Wisatawan mana yang tak terhipnosis dengan pesona dataran tinggi Dieng? Mulai dari wisata alam, sejarah sampai oleh-oleh lezat ada di sana.Dieng merupakan sebuah wisata alam dengan perpaduan unsur budaya keindahan peninggalan sejarah, telaga dan kawah berapi. Perjalanan kali ini dimulai dari sarapan bersama di Warung Pecel Bu Broto yang terletak di belakang Perpustakaan Universitas Negeri Solo (UNS).Hari itu memang hari libur bagi saya dan 5 teman saya untuk melakukan sebuah perjalanan yang cukup menyenangkan ke dataran tinggi Dieng. Kami pergi ke sana dengan 3 motor dan salah satu teman saya menggunakan vespa. Kami berangkat pukul 08.00 WIB menuju Wonosobo.Perjalanan melewati Kota Solo-Boyolali-Salatiga-Bawen-Ambarawa-Pringsurat-Temanggung-Parakan-Wonosobo. Kami sampai di Dieng pukul 11.30 WIB.Jalan yang paling menantang adalah jalan dari Wonosobo menuju Dieng. Kami melewati jalan pegunungan yang berliku dan banyak kelokan membuat suasana semakin menyenangkan. Setiba di sana, kami memasuki komplek wisata yang terdiri dari banyak obyek wisata.Pertama, kami singgah di Telaga Warna yang terbentuk di dataran tinggi ini. Warnanya hijau kebiruan karena pengaruh dari adanya kandungan kapur. Di sana Anda bisa mengambil belerang walaupun hanya di pinggiran telaga. Anda juga bisa berjalan di samping telaga yang sudah tersedia jalan setapak yang bisa dilalui.Dari telaga ini kami memasuki komplek kawah yang aktif. Ada Kawah Candradimuka, sebuah kawah yang mengepulkan air asap dan air panas ini membuat kita serasa mandi uap bila berada di sebelahnya. Kawah ini memang tidak begitu terkenal sehingga jalan menuju kawah masih sangat terjal dan bebatuan.Seusai menyambangi Kawah Candradimuka, berikutnya kami menuju Kawah Sikidang. Kawah ini terbesar di dataran tinggi Dieng. Letaknya berdekatan dengan Telaga Warna. Jalan menuju kawah ini dipenuhi dengan pipa-pipa raksasa yang sepertinya digunakan untuk industri pengolahan belerang.Konon katanya, kawah ini sering berpindah-pindah. Kawah yang satu kadang tidak aktif digantikan kawah di sebelahnya. Di sana Anda harus berjalan kaki cukup jauh karena komplek kawah agak berjauhan. Kita juga bisa benar-benar bisa merasakan berada di pinggir kawah yang mengepulkan asap dan mengalirkan air dan lumpur panas.Perjalananpun kami lanjutkan menuju Candi Arjuna dan candi yang lain di sekitarnya. Suasana candi di sana mirip dengan candi yang ada di Gedongsongo. Candi dengan ukuran kecil dan komplek candi yang agak berjauhan.Setelah menikmati panorama alam dataran tinggi Dieng, kami melanjutkan diri untuk menuju ke tempat oleh-oleh. Di sana kami berbelanja makanan khas Dieng yakni manisan carica, semacam manisan pepaya seukuran suwiran nangka yang rasanya asam manis.Kami juga bisa membeli keripik jamur dan jamu purwaceng khas Dieng. Purwaceng ini merupakan jamu yang digunakan untuk membangkitkan semangat dan mengobati pegal linu.Perjalanan pulang baru dimulai dari Dieng sekitar pukul 17.00 WIB. Kami berangkat dan sempat mampir makan di warung Lele Bajar. Lele goreng di deket Kledung pos pendakian Sumbing Sindoro. Kamipun hanya berhenti makan dan salat.Begitu juga di daerah Parakan, kami juga berhenti untuk istirahat di masjid. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Temanggung. Di sana kami mencoba jalan alternatif sampai Ambarawa. Ternyata, jalan ini sangat sepi dan berupa jalan bukit yang naik turun, melewati sawah dan hutan dengan sangat sedikit rumah penduduk.Yang paling berkesan adalah kami menjumpai kelelawar kalong yang ukuran sayapnya sebesar kepakan kedua tangan saat dikepakkan dan hampir menyambar kepala. Setelah sampai Ambarawa, kami melanjutkan perjalanan ke Solo dan tiba di rumah sekitar pukul 23.30 WIB. Happy Holiday!












































Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun