Perjuangan Menemukan Pantai Indah di Gunungkidul

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Perjuangan Menemukan Pantai Indah di Gunungkidul

robiatul adawiyah - detikTravel
Minggu, 15 Sep 2013 14:45 WIB
Jakarta - Traveling ke DI Yogyakarta, jangan cuma berkunjung ke Pantai Parangtritis. Sempatkan juga mampir ke daerah Wonosari, Gunungkidul. Jejeran pantai pasir putih bisa Anda temukan, meski ada banyak perjuangan untuk mencapainya.Berkunjung ke sini bukan perkara mudah bagiku. Terutama di saat mood tak bersahabat. Namun setelah pulang ke rumah, saya merindukannya.Akhir pekan lalu, saya, Kak Banak dan teman-teman dari Kota Pelajar liburan bersama. Rasa lelah dan memar-memar tubuh terasa setelah merebahkan diri di atas kasur single spring bed, dengan seprai bernuansa unggu kegelapan.Ya, memar, karena saya sempat tersandung batu dan jatuh membentur tempat sampah, berbahan dasar semen di Pabelan. Karena mandi hujan selama di Yogya, semua terasa semakin linu.Perjalanan dari Kota Yogya menuju Gunungkidul ternyata tidaklah mudah. Traveler harus sabar dengan jalanan yang panjang, berliku, sepi dan curam. Saya sendiri menikmati sekali perjalanan seperti ini. Namun dengan catatan, berangkatnya harus ketika matahari belum terbenam. Ini karena kalau matahari sudah terbenam, perjalanan tidak akan terasa nikmat.Sayang, syarat perjalanan menuju Gunungkidul yang tadi saya sebut malah saya langgar sendiri. Saya berangkat pukul 16.00 WIB dari Condong Catur. Dengan alasan ingin kemping di pinggir pantai dan menyingkat waktu, maka kami memilih jalan di sore hari setelah beberapa jam kedatangan saya dari Jakarta.Di tengah perjalanan, hujan lebat dan langit begitu gelap. Namun kami tak patah arang. "Lanjut!" begitu kata salah satu teman saya Ariel.Sebentar-sebentar, saya menanggalkan jas hujan yang hanya menutupi kepala jika air yang turun dari langit berkurang. Tapi nanti akan saya selimuti lagi jika mulai membesar. Belum lagi kehilangan jejak kawan di daerah Wonosari ketika jalanan menukik, meluncur, menanjak dan menerjang.Hari itu, awan bergumpal gelap seolah tak bosan mengikuti jejak kami. Saya yang hanya bermodalkan celana pendek, sendal outdoor dan jaket anti air hanya bisa berdoa agar diberi kekuatan untuk menempuh dingin di hujan malam. Ditambah rute jalan yang jauh, gelap dan di tengah hutan.Sepanjang perjalanan, saya tak henti-hentinya berdzikir, bermunajat kepada Sang Pencipta agar diberi kelancaran. Berlebihan memang, tapi mau apa lagi? Rasa takut dengan hal gaib nyata terasa karena posisi kami melewati lembah, hutan, sawah dan pohon-pohon tinggi lainnya.Belum lagi takut akan penjahat, karena jalanan sepi, dan gelap. Kondisi tubuh yang menggigil menambah tingkat kekhawatiran.Perjalanan ini pun ingin saya akhiri di Pantai Pok Tunggal. Pantai yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan. Padahal sebulan sebelum saya pergi, pantai ini belum menjadi mainstream, karena masih baru dikelola, akses dan informasi sulit didapat.Saya mencari tahu tempat ini lewat internet, tapi tetap penduduk daerah sana masih belum begitu kenal. Jadilah kami sering melipir untuk bertanya.Kekhawatiran memuncak ketika jalanan mulai sepi. Tak ada lampu penerang jalan bahkan pengguna jalan lain. Hanya saya dan kawan-kawan. Seram, bukan?Setelah ribuan halangan dan rintangin kami lewati, akhirnya Pok Tunggal terlihat. Nama Pok Tunggal disebut demikian karena diambil dari pohon kelapa yang tumbuh hanya satu batang atau tunggal.Sekarang pohon tersebut sudah tak ada. Sebagai gantinya, ada sebuah pohon entah apa namanya yang dijadikan simbol. Sama seperti Indrayanti, pantai ini tidak punya wisata air macam Tidung, banana boat misalnya, bahkan snorkeling. Namun keistimewaannya, pantai ini cocok untuk mendirikan tenda.Berdasarkan informasi di internet, di sana disediakan tenda untuk bermalam dengan tarif sewa Rp 60 ribu/malam. Lagi-lagi, malang sekali nasib kami. Tak ada satu pun penduduk lokal di pantai itu yang menyewakan. Sudah dicari-cari dan diusahakan tetap tak ada yang punya.Namun, kami punya pilihan terakhir, yaitu tidur di emperan warung. Beruntung sekali saya dan teman-teman, ada sebuah warung dengan sepasang suami-istri yang berjaga. Mereka rela halaman warungnya dijadikan tempat kami singgah. Enak juga tidur depan warung yang 24 jam nonstop.Pok Tunggal pada pagi hari tak begitu indah. Air laut surut, ombak pun terasa jauh. Selama surut, bebatuan karang dan padang rumput laut terlihat jelas. Saya mencoba menyusuri dan banyak hal baru yang saya temukan, sebut saja bintang laut bin gurita. Hewan ini baru kulihat ketika di Pok Tunggal saja.Pantai lain belum pernah kutemukan. Bentuknya seperti bintang laut dengan lingkaran di bagian tengah, memiliki lima tangan dipenuhi duri-duri yang tak terlalu tajam. Mirip gurita dan ia dapat berjalan dan lengket menghisap apa pun yang berada di dekatnya.Kemudian, saya menemukan semacam ulat bulu panjang di laut. Lucu karena tubuhnya mirip sekali ulat sutra. Bedanya, ulat ini jauh lebih panjang dan berwana mencolok. Lalu, ada lagi bulu babi. Banyak sekali yang bersembunyi di bawah lubang-lubang karang. Tak seperti bulu babi di Karimun Jawa yang berduri panjang. Bulu babi Pok Tunggal justru imut-imut. Durinya tak seheboh di Karimun.Semakin siang, air laut semakin pasang. Pada saat ini, payung-payung utuk berteduh yang disewakan penduduk lokal dipasang. Tarif sewanya hanya Rp 20 ribu/payung.Pok Tunggal ini memang indah. Ombaknya gemuruh kencang, air laut yang jernih dan pasir putih nan empuk lagi menyilaukan. Belum lagi tebing-tebing yang seolah memagari pantai ini. Subhanallah.Seketika, dalam menulis penutup di tulisan ini, saya luluh. Yang sebelumnya saya katakan liburan ini sangat maksa, kini saya sadar tak ada perjalanan yang tak berkesan.Sesulit apa pun jalan yang kita tempuh, maka akan sulit pula untuk dilupakan. Saya yakin akan merindukan masa-masa selama awal perjalanan, bersenda gurau dengan kawan-kawan, dan masih banyak kenangan lainnya.Terima kasih, Yogya. Kau tak pernah menghentikan torehan kisah di hidup ini. Terima kasih Kak Banak yang sudah mau berlari bersama di atas bintang-bintang Yogyakarta. (travel/travel)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads