Berlari di Gunung Papandayan Demi Spaghetti Hangat
Farah Soraya - detikTravel
Selasa, 24 Sep 2013 10:19 WIB
Jakarta - Kehangatan kebersamaan saat liburan bisa terasa dengan cara sederhana. Salah satunya adalah dengan berlari hingga Tegal Alun di Gunung Papandayan, demi spaghetti bolognese hangat. Yummy!Cuaca gunung Papandayan, Sabtu pagi sangat cerah. Setelah menggelar tenda semalam karena baru sampai parkiran pukul 02.00 waktu setempat, kami mulai bersiap memulai pendakian sampai puncak.Diawali dengan doa, kami memulai langkah awal yang menjadi penyemangat untuk sampai ke atas sana. Rencana awal adalah hanya mendaki pulang-pergi atau tek-tok, tidak menginap. Oleh karena itu tenda dan fly sheet kami tinggalkan di pos, agar meringankan beban bawaan.Dari jauh, kawah Papandayan sudah menyemburkan asap belerangnya, beberapa pendaki mulai memasang maskernya saat menelusuri jalur bebatuan. Pendakian Gunung Papandayan yang mempunyai ketinggian 2.662 mdpl kali ini benar-benar bersifat santai.Kami tidak memaksa diri untuk mengejar sunrise maupun sunset, perjalanan ini murni acara untuk melepas kepenatan dan menyambut Ujian Tengah Semester (UTS). Saking santainya berjalan, saya dan satu teman turun ke aliran air yang masih mengeluarkan gelembung-gelembung dan menikmati halusnya lumpur di kawah tersebut. Katanya, lumpur ini bagus untuk kulit.Entah hanya sugesti atau memang khasiatnya terasa, setelah saya melumuri tangan dengan lumpur tersebut, saya merasa kulit saya menjadi halus. Perjalanan menuju Pondok Salada memakan waktu kurang dari 2 jam. Hanya beristirahat belasan menit, kami melanjutkan perjalanan menuju Tegal Alun, suasana Pondok Salada saat itu cukup ramai.Bagaimana pun, Papandayan adalah salah satu tujuan favorit para pendaki untuk mengisi akhir pekan panjang kali ini. Jam masih menunjukkan pukul 10.00 waktu setempat. Waktu ini masih terlalu dini untuk makan siang. Saya membawa spaghetti lengkap dengan saus bolognese, serta abon cabe.Makanan ini selalu saya jadikan senjata untuk menyemangati mereka, agar melanjutkan perjalanan ke Tegal Alun lalu ke puncak. Jalur yang dilewati dari awal mulai susah, harus lincah melompati rawa-rawa, beberapa dari kami terpaksa merelakan kakinya basah sampai betis beserta sepatunya karena tidak lincah melompat.Sesampainya di Hutan Mati, hujan membasahi kawasan ini dengan deras, ponco dikenakan dan kewaspadaan yang lebih dimulai. Kami melewati Hutan Mati dan menemui jalur dengan medan yang berbahaya.Karena tanahnya licin, kami menjadi ekstra hati-hati, langkah kami menjadi lambat. Sebelum sampai di Tanjakan Mamang, ada pendaki yang mengingatkan bahwa puncak longsor, dan perjalanan akan memakan waktu lebih lama, sekitar 1 jam 30 menit, lebih lama dari awal perkiraan kami yaitu sekitar 30β40 menit.Setelah diskusi dan diiming-imingi bahwa kita akan memasak spaghetti di ladang Edelweiss, kami melanjutkan pendakian dengan langkah berat, berat karena beban bawaan, dan menahan tiap langkah agar tidak tergelincir.Pukul 12.00 waktu setempat, kami sampai di Tegal Alun. Tidak banyak tenda yang didirikan di sana, mungkin belum banyak pendaki yang kesana, mungkin baru pagi hari, atau mengurungkan diri untuk jalan karena medan yang berubah menjadi rawan.Kabut yang sangat tebal menyambut kami, hingga urung kami menuju danau yang katanya berjarak hanya 15 menit saja dari Tegal Alun. Namun kami tidak mau mengambil risiko. Kami lalu memasang ponco dan menggelar matras dan mulai memasak untuk makan siang, bekal tenaga sebelum mengarungi medan licin lagi sampai ke parkiran.Spaghetti yang mengepul panas, dengan bumbu saus bolognese juga tambahan abon cabe dilahap habis oleh kami. Belum lagi salah satu teman yang menaburkan banyak abon cabe sehingga terlihat seperti memakan abon cabe dengan spaghetti, bukan sebaliknya.Ditemani kabut yang menyelimuti ladang Edelweiss, kehangatan terasa sembari bercanda dan berbagi makanan, serta cemilan yang dibawa seperti kerupuk seret, biskuit-biskuit, dan lauk-pauk lainnya.Setelah kenyang, kami tidak berlama-lama di sana, bersiap memulai perjalanan pulang ke bawah. Kami bersyukur sebelum kami memulai, ada pendaki yang menawarkan wedang jahe. Rasanya hangat sekali, menghangatkan dan menguatkan badan.Kami tidak berhasil sampai puncak karena longsor. Namun perjalanan ini merupakan momen seru, karena kami berhasil mencapai Tegal Alun dengan iming-iming spaghetti bolognese.
(dtvl/dtvl)












































Komentar Terbanyak
Saat Gibran Ikut Memikul Salib Paskah di Kupang
Setuju Nggak, Orang-orang Jepang Paling Sopan?
Bayangkan Hidup Tanpa Matahari: Kisah Desa dengan Hujan 'Abadi'