Dekat dengan Kematian di Tana Toraja
Selasa, 19 Feb 2013 14:20 WIB
Yun Damayanti
Jakarta - Tak hanya pesta kematiannya saja yang menarik di Desa Kete Kesu, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Makam di desa ini pun tak biasa dan seolah mengingatkan pada kematian. Jasad mereka yang meninggal dimakamkan d tebing batu atau gua alam.Yang menarik di Toraja bukan hanya pesta kematian, tapi makam-makamnya juga sangat menarik untuk ditelusuri dan dipelajari. Makam-makam ini menjadi penampakan toleransi di Kete Kesu.Desa adat Kete Kesu di Tana Toraja, Sulawesi Selatan memiliki luas sekitar 95 km2. Saat memasuki desa ini saya kagum memandangi deretan Tongkonan yang sudah ada sejak abad ke-8. Rata-rata kayu Tongkonan di sini belum diganti pernah diganti satupun. Salah satunya, bahkan telah mengalami tiga kali pemugaran dan kini sudah berusia 400 tahun. Dalam wilayah desa adat di Toraja, kita pasti akan melihat Tongkonan dengan lumbung-lumbung padi, sawah, peternakan, alun-alun atau sebuah lapangan untuk melaksanakan upacara dan ritual adat. Tak hanya itu, Tongkonan juga memiliki kuburan yang terdiri dari kuburan keluarga dan kuburan umum, serta hutan bambu.Bambu di Toraja memiliki bentuk yang sangat tinggi dan berdiameter lebih besar daripada yang pernah saya lihat. Ini sangat bermanfaat saat upacara pemakaman.Ketinggiannya memungkinkan jenazah bisa dimakamkan di dinding tebing yang paling tinggi dan menyangga peti-peti yang digantung. Semakin tinggi posisi seseorang dalam kehidupan sosial, maka semakin tinggi dia ditempatkan. Sedangkan untuk warga biasa akan dimakamkan di dalam liang-liang gua.Ada dua cara pemakaman di Kete Kesu, yaitu di gunung batu dan gua alam, atau makam rumah atau house grave atau dalam bahasa Toraja disebut patane. Hanya di Kete Kesu yang membangun dua macam patane. Patane dibuat dua macam, agar bisa mengakomodasi semua kepercayaan yang dianut masing-masing anggota keluarga.Mereka bisa menggunakannya, tanpa melanggar kepercayaan masing-masing demi memelihara kerukunan. Patane yang tidak menyatu ke tanah diperuntukan bagi umat Nasrani dan yang menyatu ke tanah untuk keluarga yang menganut agam Islam.Pengunjung bisa melihat bermacam-macam peti jenazah di sini. Saat awal menanjak gunung batu ada beberapa erong (peti mati orang Toraja-red), untuk perempuan maupun laki-laki. Bentuknya ada yang disimbolisasikan dengan bentuk alat kelamin dan ada yang memakai simbolisasi kepala hewan.Erong berkepala babi dibuat sebagai penanda peti perempuan. Karena di Toraja, babi dipelihara oleh perempuan. Sedangkan, erong berkepala kerbau menujukan peti untuk laki-laki. Ya, karena laki-laki di Toraja umumnya dalah petani dan sangat akrab dengan kerbau.Erong-erong itu sudah berusia sekitar 400 tahun. Erong yang dimasukkan ke dalam celah-celah batu di dinding gunung, rata-rata umurnya sekitar 500 tahun. Desa Kete Kesu sudah didaftarkan ke UNESCO sebagai cagar budaya warisan dunia. Sekarang desa ini sedang diperjuangkan baik oleh masyarakat Toraja maupun pemerintah.












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Potret IKN Dikembangkan Jadi Destinasi Wisata Berkelanjutan, Jadi Ibu Kota 2028