Ini Dia Carstenz Pyramid, Atap Dunia di Timur Indonesia
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Dream Destination Papua

Ini Dia Carstenz Pyramid, Atap Dunia di Timur Indonesia

Husni Mubarak Zainal - detikTravel
Kamis, 29 Nov 2012 11:55 WIB
loading...
Husni Mubarak Zainal
Carstenz Pyramid dengan salju abadi, tampak dari helikopter
Carstenz Pyramid, senantiasa berselimut awan tebal, seperti negeri di atas awan
Kumpulan salju-salju abadi di puncak-puncak pegunungan Jaya Wijaya
selimut salju di salah satu sudut Carstenz Pyramid, menarik untuk di jejaki!
salah satu danau di dataran landai saat mendekati puncak pegunugan sudirman. Biru memantul layaknya membeku
Ini Dia Carstenz Pyramid, Atap Dunia di Timur Indonesia
Ini Dia Carstenz Pyramid, Atap Dunia di Timur Indonesia
Ini Dia Carstenz Pyramid, Atap Dunia di Timur Indonesia
Ini Dia Carstenz Pyramid, Atap Dunia di Timur Indonesia
Ini Dia Carstenz Pyramid, Atap Dunia di Timur Indonesia
Jakarta - Siapa yang tidak mengenal Pegunungan Jaya Wijaya dan salju abadinya? Sedari kecil saya sering mendengarnya dari buku pelajaran Geografi. Kali ini saya berkesempatan melihatnya secara langsung dan apa yang saya rasakan? BUNCAH!Seumur hidup saya baru melihat salju. Sekali itu di sebuah kota kecil di pinggiran German. Hawanya yang dingin dan suasana langit yang kelabu membuat saya dengan mudah menyimpulkan salju tidak semenyenangkan yang sering saya tonton di fim-film bertema natal di akhir tahun.Tetapi hari ini melihat selimut putih tebal bentukan alam untuk sekali lagi di sebuah titik tertinggi timur negeri ini mengubah persepsi saya. Carstenz Pyramid lebih dari semua yang pernah saya bayangkan tentang salju, karena Carstenz Pyramid sungguh maha megah!Kesempatan ini hadir saat Tim Dream Destination Papua diajak oleh Tim Freeport untuk berkeliling kawasan highland dan lowland Timika dengan menggunakan helikopter jenis bel puma berpenumpang 11 orang. Saya dan tim Dream Destination Papua memulai perjalanan di lapangan terbang Mozes Kilangin-Timika dengan tujuan Helipad 66 di Tembagapura dengan sebelumnya singgah di bandar udara Mulu.Sejak pertama helikopter mulai melesat ke udara, saya telah dibuat takjub oleh pemandangan hutan Papua yang sungguh layak dijuluki Zamrud Khatulistiwa. Bentangan karpet hijau jauh terhampar hingga ke ujung cakrawala berhias aliran-aliran sungai. Sungai ini meliuk membelah hutan, gunung dan lembah sebelum akhirnya jatuh dan tumpah dalam bentuk air terjun yang tersembunyi di rimbunnya hutan hujan.Helikopter layaknya berdansa di udara! Menukik naik semakin tinggi ataupun berputar turun membelah lembah, membawa kami melihat pemandangan magis lintasan-lintasan awan yang seperti lautan. Saya merasa dibawa masuk ke negeri Avatar.Belum habis kekaguman saya saat kami berkesempatan singgah di Bandar Udara Mulu yang berpagar Pegunungan Sudirman. Helikopter mengudara lagi menuju Tembagapura, sebuah kota maju yang tersembunyi di tengah dataran tinggi Timika. Helikopter kami akan singgah sementara untuk menurunkan penumpang dan mengisi bahan bakar, sebelum membawa kami menyaksikan pemandangan yang tidak akan kami lupakan seumur hidup, salju abadi di puncak pegunungan tertinggi di Indonesia...Jantung saya berdegup lebih kencang dan pegangan saya menguat saat helikopter mulai terbang menanjak membelah awan yang menutupi barisan Pegunungan Sudirman. Saya berusaha menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, tapi apa daya oksigen yang semakin menipis membuat saya tidak dapat berbuat apa-apa.Β Tubuh saya mengigil menahan suhu 0 derajat yang menelusup masuk ke rangka-rangka besi helikopter kami.Pilot dan co-pilot mulai mengeluarkan tabung oksigen dan masker, tampaknya di ketinggian 14.000 kaki di atas permukaan laut ini kami semua mengalami sensasi kekurangan udara. Saya memutuskan untuk mengurangi pergerakan tubuh, mencoba memberi porsi oksigen yang lebih kepada otak.Β  Β β€œCarstenz Pyramid, ada di sebelah kiri!” melalui alat komunikasi yang terpasang di headset kami, pilot memberikan orientasi arah. Saya seketika mengedarkan pandangan ke sebelah kiri.Apa yang saya lihat kemudian, masih membuat saya merinding hingga saat saya menuliskan jurnal ini!Hamparan pegunungan hitam berkilau dengan puncaknya yang tertutup salju tebal berwarna putih luas terhampar hingga ke ujung cakrawala. Gumpalan awan melayang di bawahnya, bagaikan bantalan lembut yang menopang pegunungan yang kokoh. Sesekali beberapa puncak dihiasi awan tipis, ataupun semburat matahari yang memberi warna kuning keemasan di permukaan salju yang tersebar merata. Saya dibuat merinding menyadari bagaimana bentangan waktu ribuan tahun tidak merubah detil pegunungan ini.Carstenz Pyramid adalah salah satu dari beberapa puncak diPegunungan Jaya Wijaya. Terletak di ketinggian 16.023 kaki di atas permukaan laut dan berbalut salju abadi, Carstenz Pyramid layak menyandang gelar salah satu atap dunia.Β Puncak yang namanya berasal dari nama penjelajah belanda Jan Carstenz yang pertama kali melihat puncak ini, hening tak dihuni satupun mahluk hidup.Beberapa belas menit waktu yang kami lewati dengan berkeliling di atas ketinggian udara ini menjadi pengalaman hidup yang tidak mungkin saya lupakan. Di akhir perjalanan,Β  satu doa saya panjatkan; Berharap suatu hari nanti, saya dapat menjejakkan kaki di salju abadi pegunungan ini. Semoga Tuhan merestui...Dream Destination Papua adalah program yang diselenggarakan oleh detikTravel, myTrans dan PT Freeport Indonesia. Selama 12 hari, 3 pemenang yaitu Keken, Anisa dan Husni akan menjelajah Papua dari Timika, Merauke, sampai Jayapura. Simak terus perjalanan mereka di situs perjalanan kesayangan Anda, detikTravel.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads