Dream Destination Papua
Terenyuh Melihat Senyum Polos Murid SD Inpres Jiwika
Minggu, 09 Des 2012 10:20 WIB
Keken_Hamzah
Jakarta - Β Sekolah ini tidak terlalu besar, terdiri dari ruangan besar yang diberi sekat. Bangku dan papan tulis tampak rusak. Namun para siswa tetap ceria. Inilah cerita saya mengunjungi SD Inpres Jiwika di Distrik Kurulu, Wamena.Kepala Sekolah SD Inpres Jiwika, Sakeus Daby mengakui bahwa jumlah siswa yang aktif di sekolah ini hanya sekitar 50 persen saja. Dari 145 siswa yang terdaftar, hanya 75 orang yang sering mengikuti proses belajar mengajar.Sisanya memilih bermain di perkampungan atau dilarang oleh orang tua pergi ke sekolah.Inilah potret pendidikan di Indonesia Bagian Timur. Kurang sarana dan prasarana menjadi cerita basi yang tak kunjung selesai. Dibutuhkannya tenaga ahli, terutama pengajar ilmu komputer berikut fasilitas penunjangnya, menjadi satu angan yang belum terwujud.SD Inpres Jiwika adalah satu dari 16 sekolah dasar yang ada di Distrik Kurulu. Sekolah ini didirikan tahun 1981 dan kini memiliki 10 orang guru.Beberapa di antaranya didatangkan dari Makassar, dan sebagian lagi berasal dari Wamena. Bahkan, ada guru yang secara sukarela mengajar. Misalnya Bapak Pilatus Logo yang sudah 5 tahun mengajar pelajaran agama di sekolah ini."Saya dulu angkatan pertama SD sini, jadi saya ingin coba bantu kembangkan. Dulu saya diberi honor oleh gereja tapi sekarang tidak lagi. Dulu sempat ingin berhenti tapi saya malu kalo lihat semangat anak-anak disini untuk sekolah. jadi uang tidak begitu penting," ujar Pak PilatusSiswa-siswi di SD Inpres Jiwika berasal dari dua desa, yakni Obia dan Kumima. Mereka terbagi dalam enam kelas yang tiap kelasnya diisi oleh 5-30 orang.Beberapa di antara mereka datang ke sekolah mengenakan seragam. Namun ada juga yang memakai baju biasa karena orang tua yang belum mampu membelikan seragam.Menurut Bapak Sakeus, mereka bersekolah secara cuma-cuma tanpa dipungut biaya. Karena itu, untuk menutupi kebutuhan operasional dan administrasi sekolah, para guru hanya mengandalkan dana BOS yang turun setiap 3 bulan sekali.Meskipun tenaga ahli dan tenaga pengajar terbatas, namun siswa-siswi SD Inpres Jiwika mendapatkan pelajaran yang berstandar nasional, seperti IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Matematika dan Bahasa Inggris.Satu hal lagi yang disayangkan adalah tidak adanya fasilitas olahraga di sekolah ini. Hanya ada satu bola voli yang sering dipakai bermain bola oleh anak-anak. Akibatnya, bola tersebut kini telah rusak."Karena tidak ada fasilitas olahraga, anak-anak biasanya diajari baris berbaris saat pelajaran olahraga," ujar sang kepala sekolah, Pak Sakeus.Terharu rasanya melihat senyum para siswa. Di tengah keterbatasan mereka dalam menuntut ilmu, banyak hal kecil yang membuat mereka bahagia. Bernyanyi bersama, contohnya, membuat para siswa ini terlihat sangat semangat memulai pelajaran.Di pundak siswa-siswi ini, ada harapan yang digantungkan para generasi Tua di wamena. Merekalah putra putri daerah yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.Semoga suatu hari nanti, segala fasilitas yang mereka butuhkan dapat terpenuhi dan kehidupan para guru semakin sejahtera.Hidup Putra Putri Wamena !Β












































Komentar Terbanyak
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Nyeleneh! Jemaah Zikir di Candi Prambanan: Mau Lepaskan Kutukan Roro Jonggrang
Melawai Plaza: Markas Perhiasan Jakarta yang Melegenda Itu Tak Lagi Sama