Rhino Trip Ujung Kulon
Naik Kapal ke Ujung Kulon, Seru!
Jumat, 22 Jun 2012 13:15 WIB
Fitraya Ramadhanny
Jakarta - Selain lewat darat, cara paling gampang untuk masuk ke jantung Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) adalah dengan naik kapal. Perjalanan yang asyik bersama matahari terbit, menjadi pengalaman yang seru.Pulau Peucang adalah favorit para petualang. Tapi detikTravel, bersama WWF, sejumlah media dan para blogger Blogdetik, punya tujuan lain pada Minggu (17/6/2012) pagi itu. Pulau Handeuleum yang jadi tujuan kami.Pagi masih gulita di Pantai Cinibung, Kecamatan Sumur, Pandeglang ketika saya dan rombongan menanti sebuah pelita di tengah lautan. Itulah cahaya dari KM Sinar Bone 2 yang menunggu kami untuk berlayar ke Ujung Kulon.Perahu motor bolak-balik mengantar sekitar 20-an orang ke atas kapal dan ombak yang tenang pagi itu mengiringi kami pergi. Jarum jam arloji menunjukan angka 06.15 WIB. Semakin jauh kami ke tengah lautan, bentangan Gunung Honje semakin jelas, dari gelap, membiru dan semakin terang perlahan-lahan.Rupanya, Sang Surya muncul dari balik Gunung Honje. Dia membawa sinar keemasan untuk dibagi bersama bumi Ujung Kulon. Pendar cahayanya memantul dan membentuk garis panjang di lautan. Hanya damai yang kami rasakan dari atas kapal yang dibuai ombak.Teman perjalanan kami adalah kapal-kapal dengan nelayan yang asyik mencari ikan. Setelah sekitar 1 jam 15 menit, KM Sinar Bone 2 mendekati Pulau Handeuleum. Matahari sudah naik lebih tinggi dan menyelinap ke balik awan dan menyisakan berkas-berkas cahaya panjang.Kami melompat turun ke dermaga. 'Balai Taman Nasional Ujung Kulon P Handeuleum' demikian tulisan pada sebuah tembok panjang. Suara kicau burung menemani langkah riang kami ke bagian tengah pulau, berupa sebuah tempat luas seukuran lapangan sepakbola.Di tempat ini, kami harus melapor ke pos TNUK sebelum masuk ke Cigenter, tujuan kami selanjutnya untuk mencari jejak badak. Handeuleum memiliki kamar untuk akomodasi yang bisa disewakan. Tapi di tengah pulau, ada yang menarik perhatian kami semua.Dua ekor rusa tengah asyik merumput, induk dan anaknya. Si anak tampak memperhatikan kami yang mendekat, khawatir. Sementara ibunya tetap santai. Kami berhenti mendekat dan berharap lensa tele kamera kami cukup untuk menjangkaunya. Jepret! Jepret! Kamera kami beraksi, tanpa blitz tentu saja.Si anak rusa sempat lari, tapi si induk memanggilnya. Mereka lantas menepi dan pergi menghilang ke balik pepohonan.Sisa waktu kami yang tidak lama di Pulau Handeuleum digunakan untuk menikmati pemandangan kapal karam di tepi pulau. Kano-kano yang akan membawa kami sudah siap, kaki pun beranjak meninggalkan pulau kecil cantik ini untuk menuju Cigenter, mencari jejak Sang Badak.












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Sebut Bali 'Neraka Dunia', Dispar Badung Bereaksi
Terkuak! WNA Punya Lahan di Proyek Akomodasi Wisata, Caranya Pinjam Identitas Warlok
Penundaan Massal di Bandara-bandara AS, Ada Apa?