Maskapai Ini Izinkan Penumpang Telponan Saat Penerbangan
Selasa, 15 Mei 2012 19:01 WIB
Fitraya Ramadhanny
Jakarta - Ponsel adalah benda yang dilarang digunakan saat penerbangan. Namun, rupanya hal ini tidak berlaku untuk maskapai Virgin Atlantic. Penumpang bisa berhalo-halo di udara.Lufthansa dan Qatar Airways pernah membolehkan penggunaan telepon. Namun hal itu sudah dihentikan begitu masuk banyak keluhan dan kekhawatiran penumpang.Seperti dilansir dari News.com, Selasa (15/5/2012), mulai hari ini, penumpang Virgin Atlantic di pesawat Airbus A330 dari London ke New York boleh berteleponan dengan ponsel. Bahkan, mereka uga boleh SMS-an dan berkirim email dengan GPRS pada ponsel masing-masing.Pesawat itu memiliki semacam pemancar sinyal ke satelit yang dipantulkan ke darat. Sistem baru ini diklaim tidak mengganggu instrumen penerbangan di pesawat tersebut.Sistem ponsel di pesawat ini tersedia di seluruh bagian kabin. Setiap penumpang nantinya dikenakan tarif roaming. Namun, ponsel para penumpang tetap harus dimatikan saat pesawat lepas landas dan mendarat, serta harus dimatikan sebelum masuk pada jarak 402 km dari wilayah udara AS.Karena bandwith terbatas, hanya 10 orang yang bisa memakai ponsel mereka bersamaan. Providernya untuk sementara hanya O2 dan Vodafone.Jubir Virgin Atlantic, Greg Dawson mengatakan walaupun ada permintaan serupa untuk penerbangan ke Australia, pihak maskapai belum akan merealisasikan fasilitas penggunaan ponsel dalam penerbangan ke Australia."Kami mendengarkan keinginan konsumen, konektivitas di angkasa selalu ada dalam permintaan mereka," kata Dawson.Layanan ini akan disiapkan juga untuk pesawat Boeing 747. Rencananya ada 20 pesawat yang siap dengan penggunaan ponsel ini pada akhir 2012."Banyak orang yang harus terbang 10 jam dan harus kirim SMS penting ke kantor atau bahkan mengingatkan orang di rumah untuk memberi makan kucing," jelas Dawson.Pengalaman berbeda dimiliki Qatar dari para penumpangnya. Saat fasilitas ini dijalankan, 80 persen penumpang menolak karena dianggap mengganggu tidur dan kenyamanan penerbangan. Lufthansa juga menghentikan layanan ini pada 2009 karena desakan mayoritas penumpang.Sedangkan, Qantas mencoba penggunaan akses internet via laptop untuk penerbangan antara Australia ke Los Angeles, AS. "Riset kami menunjukan penumpang ingin punya akses internet di pesawat, tapi mereka tidak suka dengan situasi orang berteleponan di sebelah mereka dalam penerbangan jarak jauh," kata seorang jubir Qantas.
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan











































Komentar Terbanyak
Ketika Ijazah Wakil Presiden Indonesia Dipajang Abadi di Kampus Top Belanda
Viral, Turis Indonesia Diduga Beri Makan Plastik ke Rusa di Nara Park
Bos AirAsia Sentil Makanan Singapore Airlines, Dibalas Netizen: Urus Delay Saja