Potret Alam, Suku, dan Budaya Mentawai di Pulau Siberut
Sri Anindiati Nursastri - detikTravel
Rabu, 18 Apr 2012 17:50 WIB
Jakarta - Tato hanyalah satu dari ratusan hal yang identik dengan Kepulauan Mentawai. Untuk menyelami keindahan alam, keramahan suku asli, serta keluhuran budaya di kepulauan ini, ada baiknya Anda memulai dari pulau terbesarnya: Siberut.Tak banyak orang yang rela mengarungi berjam-jam perjalanan laut, 155 kilometer jauhnya dari pesisir Sumatera Barat. Alih-alih pesiar, kapal yang digunakan pun tak cukup bagus untuk dinaiki penumpang. Belasan jam perjalanan seringkali membuat wisatawan mabuk laut, apalagi bila ombak Samudera Hindia sedang ganas dan langit sedang bermuram durja.Sebutlah ini salah satu ujian Anda untuk menuju Pulau Siberut. Pun, sebutlah diri Anda pemberani jika sudah melewati ganasnya Selat Mentawai itu.Secara administratif, Pulau Siberut termasuk dalam wilayah Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. Siberut adalah yang terbesar di antara empat pulau di Kepulauan Mentawai. Dengan isolasi maksimal, Siberut menawarkan lebih dari sekadar panorama alam yang indah. Yang menjadi sebab para traveler rela mengarungi lautan untuk menjajak pulaunya adalah: suku Mentawai.Mengutip situs Indonesiatourism yang dikunjungi detikTravel, Rabu (18/4/2012), suku Mentawai hidup dengan keharmonisan tingkat tinggi pada alam sekitar. Bagi suku berpaham matrilineal ini, segala mahluk hidup termasuk juga hewan dan tumbuhan punya roh masing-masing. Selama ribuan tahun, mereka hidup menyatu dengan alam dan menolak adanya modernisasi.Tolakan modernisasi ini bukannya tanpa sebab. Mentawai dikenal sebagai salah satu suku paling terisolir di Indonesia, sekaligus yang paling terjaga budayanya. Salah satu budaya Mentawai yang terkenal tentu saja tato tradisional, yang menjadi identitas masyarakat setempat. Tato ini punya beragam bentuk, dengan beragam makna pula.Sebutlah, Pulau Siberut hadir bagi para traveler yang haus budaya.Hidup bersanding dengan suku asli Mentawai itu, keindahan alam yang ditawarkan Pulau Siberut tak bisa dipandang sebelah mata. Pantai pasir putih dan laguna biru muda berderet di pesisir timur, selatan, dan tenggaranya. Kontras dengan itu, pantai landai berombak kencang di bagian barat pulau adalah surga bagi para peselancar.Hutan hujan tropis memenuhi sebagian wilayah barat pulau, tergabung dalam wilayah konservasi Taman Nasional Siberut. Hutan ini menjadi habitat beberapa spesies hewan langka seperti monyet, tupai, dan burung endemik Kepulauan Mentawai. Di bagian utara dan selatan pulau, terdapat air terjun yang konon luar biasa cantik. Anda bisa menyambangi keduanya dengan bantuan penduduk lokal sebagai pemandu.Lucu sekaligus miris mengingat fakta bahwa mayoritas wisatawan berasal dari mancanegara. Oleh karena itu, satu kewajiban bagi para traveler domestik untuk ikut melestarikan budaya di Pulau Siberut.Bulatkan tekad Anda untuk mengarungi Selat Mentawai. Tinggallah bersama suku asli yang ramah di Uma, rumah tradisional khas mereka. Perkenalkan diri Anda pada Kerei, dukun yang dituakan di suku Mentawai. Hiruplah semilir angin dan berlarilah sepanjang Pantai Masilok, Pantai Sagulubek, dan Pantai Sikabaluan.Setelah puas berlari, hempaskan tubuh Anda di laut nan biru. Jadilah saksi keindahan bawah lautnya: aneka koral dan anemon yang jadi habitat ikan-ikan warna pelangi. Terkadang melintas pula, si pintar lumba-lumba dan si ikan duyung alias dugong. Sehabis itu, ambil papan selancar dan bermainlah bersama gulungan ombak. Rasakanlah hempasan satu dari ombak terbaik di dunia!Berjalanlah melewati hutan dan libaslah medan berlumpur. Jangan hentikan langkah ketika bertemu kera, tupai, dan burung-burung endemik yang menjadi teman perjalanan Anda. Hiruplah aroma petrichor yang dihasilkan dedaunan sekitar, lalu rasakan percikan air terjun yang dinginnya menggigit tulang.Kalau kata penulis dan fotografer Agustinus Wibowo, "Semakin kita berjalan, semakin kita menemukan diri." Maka, Pulau Siberut akan 'menemukan kembali' diri Anda sebagai traveler yang cinta pada budaya bangsa sendiri.
(travel/travel)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Sebelum Bikin Patung Macan Putih Gemoy, Seniman di Kediri Sempat Mimpi Aneh