Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 30 Jan 2012 12:05 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Melihat Kerukunan Antar Umat Beragama di Pura Lingsar, Lombok

Wenni Cristina
d'Traveler
Pura dan Kemaliq Lingsar
Pura dan Kemaliq Lingsar
Pura Lingsar1
Pura Lingsar1
Pura Lingsar
Pura Lingsar
Pura Lingsar 3
Pura Lingsar 3
detikTravel Community - Mungkin Anda sudah biasa mengunjungi Pura ketika Anda berjalan-jalan di Bali. Adanya Pura memang menjadi salah satu persamaan antara Bali dan Lombok.Tapi, pura yang satu ini bukanlah pura biasa. Bila Anda sedang berkunjung ke Lombok, jangan sampai melewatkan pura yang satu ini. Sekilas memang terlihat biasa, tetapi pura ini sangat istimewa. Berbeda dengan pura-pura lainnya karena dari pura ini Anda bisa melihat kerukunan antar umat beragama yang sekarang sudah sukar untuk dijumpai di negeri kita.Pura Lingsar, inilah namanya, merupakan pura terbesar dan tertua yang dibangun sekitar tahun 1714 M pada masa kejayaan Kerajaan Karangasem oleh Raja Anak Agung Ngurah. Pura ini terletak di Desa Lingsar, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Berada sekitar 15 km dari ibu kota Mataram.Pura Lingsar, kini dikenal menjadi simbol kerukunan antar umat beragama. Hal ini dikarenakan selain menjadi tempat ibadah umat Hindu, umat Islam suku Sasak yang beraliran Wetu Telu (Waktu Tiga) juga menggunakan pura ini untuk beribadah. Mereka hidup berdampingan dan mengelola pura bersama-sama. Untuk menjaga kedamaian, dilarang memakan atau menyembelih binatang-binatang yang dianggap suci oleh masing-masing agama di dalam dan di daerah sekitar pura. Bahkan sapi yang dianggap suci oleh umat Hindu dilarang berkeliaran sampai dengan radius 2 km dari Pura Lingsar.Ketika masuk ke dalam kawasan Pura ini, pengelola menyarankan pengunjung untuk menggunakan selendang yang diikatkan ke pinggang. Pemakaian selendang mempunyai maksud untuk menghormati pura ini yang dianggap suci oleh umat Hindu dan Islam.Pura Lingsar terdiri dari dua bangunan utama. Bangunan pura untuk umat Hindu dinamakan Gaduh sementara bagian untuk Suku Sasak disebut Kemaliq. Kemaliq artinya tempat keramat atau suci dan sakral. Di depan kedua bangunan tersebut terdapat dua rumah tinggal yang dihuni oleh Pemangku (pemimpin umat agama Hindhu) serta Amangku (pemuka adat Suku Sasak) yang keduanya terpilih secara turun temurun.Jika pura lain hanya melakukan upacara Pujawali sepenuhnya oleh umat Hindu, lain halnya dengan di Pura Lingsar. Di Pura ini upacara Pujawali yang diselenggarakan setiap purnamaning sasih kanem–menurut perhitungan penanggalan Bali atau jatuh sekitar bulan Desember pada penanggalan Masehi, umat Hindu dan Suku Sasak yang beragama Islam melakukannya secara bersama-sama.Para tetua merangkai upacara Pujawali di Pura Lingsar dengan tradisi perang topat (ketupat) yang merupakan simbol perdamaian antara umat Muslim dan Hindu di Lombok. Tradisi ini menjadi satu prosesi yang tidak bisa dipisahkan. Sebagaimana perang, tradisi ini memang tampak seperti layaknya sedang berperang. Namun, dalam hal ini, sesuai dengan namanya yang menjadi senjata dalam peperangan ini adalah topat (ketupat).Semua yang ikut dalam prosesi ini akan saling melemparkan ketupat kepada siapa saja. Tak ada yang cedera dalam upacara ini. Upacara dilaksanakan dengan penuh kegembiraan. Seusai berperang, ketupat yang menjadi senjata selama peperangan kemudian dipungut kembali untuk dibawa pulang. Ketupat ini diyakini sebagai berkah. Nantinya mereka juga akan menebarkan ketupat ini di sawah-sawah penduduk karena mempercayai dapat menyuburkan tanaman padi.Dalam perang topat, wanita yang sedang menstruasi dilarang ikut serta dalam prosesi ini. Selain itu, ketupat yang belum dilemparkan tidak boleh dibawa pulang. Perang topat bertujuan untuk mendapatkan berkah dan keselamatan, terutama bagi petani anggota Subak-sistem irigasi pertanian.Perang topat juga tak lepas dari adanya sebuah legenda. Konon,  di Lombok Barat dulu ada Kerajaan Medain. Raja Medain punya anak bernama Raden Mas Sumilir yang bergelar Datu Wali Milir. Suatu ketika ia menancapkan tongkatnya di tanah Bayan. Saat tongkat itu ditarik, air pun menyembur dan melaju deras. Dalam bahasa Sasak, melaju artinya langser atau lengsar. Dari legenda inilah maka desa ini diberi nama Lingsar.Entah bagaimana, Sumilir hilang di sana. Seisi istana dan warga mengalami kesedihan yang berlarut hingga 2 tahun. Suatu ketika keponakan Sumilir yang bernama Datu Piling menemukan pamannya di lokasi mata air tadi. Dalam pertemuan itu disebutkan, kalau mau menemui Sumilir, hendaklah datang ke mata air itu.Maka Datu Piling pun memerintahkan pengiringnya untuk menyambut pertemuan itu. Ketupat beserta lauknya dipersiapkan. Setelah itu Raden Mas Sumilir kembali menghilang. Tapi, sejak Sumilir menghilang untuk yang kedua kalinya, warga Lingsar kembali menikmati kemakmuran. Sumber air melimpah dan bisa untuk mengairi sawah.Sebagai rasa syukur akhirnya para keturunan kerajaan dan masyarakat sekitar melestarikan perang topat. Hal ini bertujuan untuk menandai saat dimulainya menggarap sawah.Dalam Pura ini juga terdapat sebuah kolam kecil dengan mata air yang dianggap suci oleh sebagian penduduk karena dipercaya mampu memberikan peruntungan. Para wisatawan biasanya melempar koin (uang logam) ke dalamnya dengan posisi badan membelakangi kolam sambil menyebutkan keinginannya dalam hati. Uniknya kolam ini adalah tingkat kedalamannya yang tidak pernah berubah.Di dalam kolam itu pula terdapat ikan tuna besar yang panjangnya mencapai 1 m. Konon, umur ikan tersebut sudah mencapai ratusan tahun. Kepercayaan masyarakat sekitar, pengunjung yang dapat melihat ikan tuna itu akan mendapat keberuntungan. Para wisatawan biasanya menggunakan berbagai cara agar ikan tersebut bisa keluar, seperti memancingnya dengan telur ayam rebus. Jangan heran, bila Anda berkunjung ke Pura ini, banyak yang menawarkan jasa menjadi pawang untuk memancing penampakan ikan tersebut.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA