Karimun Jawa Bagian Tiga: Eksotisme Pesisir Surga Jawa

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Karimun Jawa Bagian Tiga: Eksotisme Pesisir Surga Jawa

Rainer Oktovianus - detikTravel
Rabu, 07 Des 2011 09:44 WIB
Jakarta - Jantung masih berpacu dan ingatan masih membekas ketika kapal mulai menjauh dari Pulau Menjangan Besar. Betapa tidak, puluhan gerombolan hiu berenang bersama kami disana. Rasa penasaran terpuaskan sudah setelah kami sempat memegang kulit sang predator laut yang terasa kasar seperti debu-debu serpihan kaca. Kini saatnya bersantai, bersantap, dan bermain di Pantai Tanjung Gelam.Kedua jarum jam bersetubuh tepat di angka duabelas dan masing-masing kami melompat keluar kapal menuju tepian pantai. Air sejuk menyapa kaki telanjang memberikan sensasi sejuk keseluruh tubuh melawan terik mentari diatas kepala. Pasir pantai Tanjung Gelam ini putih menghampar jauh, di sisian terlihat pohon kelapa dan dibawahnya ada sebuah warung kecil menjual gorengan dan minuman.Tapi, kami sudah membawa persediaan sendiri, yaitu ikan yang siap dibakar dan juga Jawil. Saya sendiri heran mendengar Jawil. Apakah itu sejenis ikan, cumi atau apa? Ternyata Jawil adalah hewan laut bercangkang yang mempunyai kaki, sejenis kerang. Kru kapal mendapatkan Jawil dari menyelam dekat situ rupanya. Ikan dan Jawil pun dibakar menggunakan kayu bakar dengan bumbu cabai dan bawang.Nampaknya tak ada yang istimewa kalau cuma dilihat tapi rasanya...juara! Ikannya merupakan ikan Bandeng dan Jawil dipecahkan dari cangkangnya sebelum dibakar. Kemudian dipotong-potong dan dibagikan ke kami dengan nasi tentunya. Rasa daging Jawil seperti cumi-cumi tapi dibagian kakinya cukup keras. Rasanya asin pedas gurih bercampur jadi satu. Yumm!Selesai makan pantai pun menjadi tempat bermain kami. Saya asik membaca buku di pasir dibawah rindangnya pohon kelapa, sementara Lisa sibuk mencari kerang. Roby dan Hally bermain air yang amat jernih tak jauh dari tempat saya dan Lisa. Saya kemudian membawa kamera dan menjelajah pulau ini yang sebenarnya 20 menit bisa dijalani dengan mudah. Ada beberapa bebatuan besar disana-sini diselingi sinar mentari yang mengintip dari daun-daun pohon kelapa.Tak lama kami dipanggil oleh salah seorang kru kapal yang memegang sebuah benda asing. Begitu kami dekati ternyata benda tersebut adalah bulu babi! Berwarna hitam lengkap dengan kulit yang menyerupai jarum-jarum panjang menyelimuti permukaannya yang mirip sebuah bola yang sangat tajam. Hati-hati ya karena durinya beracun, kata kru tersebut. Tidak ada yang berani menyentuh jadi saya ambil sebuah batok kelapa yang sudah terkelupas dan saya letakkan bulu babi diatasnya.Unik banget, saya yang sebelumnya belum pernah sedekat ini dengan bulu babi yang merupakan hewan laut. Tiba-tiba si kru tadi bilang, yuk kita bakar dan makan dagingnya. Kami semua terdiam dengan benak yang penuh rasa jijik. Tapi saya sangat penasaran jadilah hanya saya dan Hally yang berani mencoba pertama kali untuk makan bulu babi. Kata penduduk sana, bulu babi memang bisa dikonsumsi walaupun bukan makanan pokok. Sebuah perapian kecil disiapkan dan duri-duri bulu babi itu dibersihkan dengan pisau sampai tidak tersisa.Setelah bersih langsung diletakkan di atas api dan tak sampai lima menit diangkat. Awas panas lho, kata si Kru. Lalu bulu babi yang gundul dan sudah matang itu dibelah menjadi dua. Isinya seperti telur ikan berwarna abu-abu dan banyak cairan. Nah, yang dimakan itu adalah daging yang ada di dinding "cangkang" bulu babi itu. Butiran-butiran yang menyerupai telur ikan adalah kotorannya.Β Saya yang mencoba pertama kali. Rasanya hangat di tangan, saya korek dagingnya dan langsung saya lahap di mulut. Asin dan amis adalah rasa yang pertama saya rasakan. Hally kemudian mencoba sementara Lisa dan Roby menutup mulut dengan handuk sambil menunjukkan rasa jijik di raut muka masing-masing. Lumayan, saya bilang karena memang tidak sejijik yang saya lihat. Mungkin kalau tidak ada makanan dimanapun bulu babi bisa menjadi alternatif cemilan. Hahaha! Benar-benar pengalaman yang unik di Karimun Jawa dan patut dicoba!Matahari mulai menurunkan dirinya diujung horison laut. Senja mulai tampak dan kami berempat hanya duduk di pasir sambil menikmati waktu yang seperti berhenti di saat indah seperti ini. Warna merah bercampur keemasan mendominasi suasana saat itu. Sampailah di akhir petualangan kami di Karimun Jawa karena esoknya kami harus pulang ke Jakarta. Rasanya ingin berlama-lama lagi disini tapi rasa puas menyelimuti masing-masing diri kami.Β Terimakasih alam atas segala petualangan dan suasanya yang tidak akan bisa kami temui di ibukota. Kami berjanji akan menjaga kebersihan dan keasrian alam supaya yang lain bisa ikut menikmati di masa mendatang! (travel/travel)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads