Jakarta - Senin (14/08/2011) saya dan saudara berangkat dari Tasik untuk menjemput Ayah dan teman kerjanya dari Samarinda di Bandung. Sesampai di Cileunyi ayah mengajak saya untuk berendam air panas di Sariater. Saya pun sangat bersemangat karena memang sudah jarang berpergian ke tempat seperti itu. Di tengah perjalanan menuju Lembang, bau belerang pun terasa sangat menyengat dan ini tandanya kita sudah dekat dengan tempat tujuan.Sesampainya di Sariater kami langsung berganti pakaian dengan hanya memakai celana pendek. Keadaan di sana masih sepi karena memang pada saat itu masih sekitar pukul 03.30 WIB. Tanpa membuang waktu kami pun langsung menenangkan pikiran setelah berbulan-bulan kami dihadapkan dengan proyek pekerjaan pemerintah yang sangat rumit. Selang beberapa waktu, beberapa pengunjung sudah mulai berdatangan.Saat matahari mulai muncul terlihat sangat indah sekali. Memang menikmati sunrise sambil berendam dan meminum segelas coklat panas tidak bisa adigantikan dengan apapun.Tak berapa lama kami pun siap-siap untuk kembali melanjutkan perjalanan. Saya pikir kami akan langsung pulang tapi ternyata Ayah kembali mengajak saya untuk mendatangi Gunung Tangkuban Perahu.Jalan yang menanjak, pohon dimana-mana, kupu-kupu dan burung berterbangan, bau belerang yang menyengat, "Oh, memang tampak sekali keindahan bumi alam Sang Penciptaini." Teman kerja Ayah yang belum pernah ke Bandung mengaku bangga dengan keindahan Gunung Tangkuban Perahu.Satu jam kemudian kami pun beranjak dari "perahu raksasa yang terbalik" dan begegas untuk pulang ke rumah, Tasik. Sungguh, sesampainya di rumah pikiran dan badan kami pun serasa lebih rileks dan nyaman.
(travel/travel)
Komentar Terbanyak
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Nyeleneh! Jemaah Zikir di Candi Prambanan: Mau Lepaskan Kutukan Roro Jonggrang
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru