Dieng, Awal untuk Sebuah Petualangan
Jumat, 09 Des 2011 11:14 WIB
Alfin_miftahul
Jakarta - Sebenarnya liburan ini hanyalah ide iseng dari teman-teman. LIburan ini direncanakan sebagai pengisi waktu disaat liburan akhir semester di bulan Januari. Saya pun sama sekali tidak ada gambaran untuk berlibur. Kebetulan, Izra mengajak saya untuk berlibur ke Dieng. Inilah awal saya bertemu dengan teman baru, yaitu Anis, Norma, Dani, dan Umi. Mereka merupakan teman satu fakultas sedangkan saya beda sendiri.Sabtu (16/01/2010), menjadi awal petualangan saya berlibur ke luar Jogja bersama dengan teman-teman. Fantastis! Kami berenam berangkat pukul 07.00 WIB menuju Dieng. Perjalanan ini kami tempuh selama kurang lebih 5 jam. Sesampainya di daerah Banjarnegara, Norma menjadi seorang penunjuk jalan. Tapi, nyatanya ia lupa dengan arah jalan menuju ke lokasi wisata Dieng. Saya sempat berfikir, kok bisa ya padahal dia asli orang Banjar? Untungnya kami sempat melihat baliho besar tentang lokasi wisata Diesng maka perjalanan kami lanjutkan dengan aman.Udara dingin itu menusuk tulang, apalagi di antara kami berenam hanya Norma saja yang terbiasa dengan udara dingin. Sisanya terbiasa di alam tropis. Belum lagi jalan yang naik terus karena turunnya sesekali saja dan motor Izra jadi korbannya. Karena dia yang membonceng Anis, yang notabene gendut. Tidak lama kemudian kami sampai juga di tujuan pertama, yaitu Telaga Warna.Telaga ini berwarna hijau dan memiliki pemandangan yang eksotis sekali. Tidak terhitung berapa jepretan kamera, yang penting momen ini harus diabadikan. Rautan kecapean di wajah kami terhapus oleh indahnya pemandangan di Telaga Warna. Belum lagi ada bule yang lewat, kesempatan ini tidak kami lewatkan untuk berfoto dengannya.Ada kejadian menegangkan yang menimpa kami. Dimana saat kami mengunjungi gua yang konon ceritanya pernah digunakan bersemedi oleh Presiden Ir. Soekarno-Presiden pertama RI. Namanya remaja, kami bergurau canda tanpa memerdulikan pengunjung lainnya. Akhirnya kami ditegor oleh salah satu pengunjung, Dani pun spontan menjawab apa adanya tanpa melihat kepada siapa yang menegur.Pengunjung tersebut merasa dihina oleh perlakuan Dani. Tidak terima temannya yang perempuan malah memarahi kami, "Kalian ini sejak saya melihat dari depan sana sudah tidak punya sopan santun, ini tempat keramat. Jangan sampai penjaga di sini murka akibat ulah kalian. Kalian menghina kami," ucapnya menggebu-gebu. Dani pun merasa bersalah dan meminta maaf kepadanya. Saat itu kami juga merasa ketar-ketir. Tapi, perempuan itu menyuruh Dani untuk masuk ke gua menemani penjaga yang masuk. Padahal sebelumnya gua itu tertutup bagi pengunjung. Kami berlima sangat mengkhawatirkan Dani, takut terjadi sesuatu kepadanya. Tidak lama berselang Dani keluar gua tanpa luka sedikit pun dan masih waras. "Alhamdulillah."Saat kami menanyakan kondisi dia di dalam gua, dia hanya menjawab santai, "Aku tidak apa-apa, malah aku diceritain tentang persemedian Ir. Soekarno di gua ini oleh penjaganya." walah Dani.Usut punya usut, ternyata pengunjung yang marah tadi adalah para petapa dari Banten, "Pantesan."Puas di Telaga Warna, perjalanan kami lanjutkan ke Dieng Theatre. Karena jaraknya yang tidak begitu jauh. Dieng Theatre seperti bioskop kebanyakan, bedanya cuma di pemutaran filmya. Di sana kami dipertontonkan kisah asal mula dataran tinggi Dieng. Sungguh pengalaman yang berharga. Tapi, sebagian dari kami tidur pulas, termasuk saya, "Kecapean soalnya."Akibat cuaca yang tidak mendukung, akhirnya diputuskan untuk langsung menuju ke rumah Norma. Waktu itu pukul 17.00 WIB, kami kehujanan dalam perjalanan pulang. Lucunya hanya tiga orang yang bawa, agar bisa adil jadi setiap orang hanya memakai satu setelan jas hujan saja. Saya pun hanya memakai setelan atas saja. Itulah serunya jalan bareng, kami nikmati saja. Tepat adzan maghrib kami sampai ke rumah Norma. "Alhamdulillah sampai dengan selamat." Kami pun istirahat dan tertidur pulas.Minggu (17/01) keesokannya, sehabis sholat Subuh kami mengelilingi kebun teh yang ada di sana. Sekalian muter-muter di Desa Jatilawang. Benar-benar desa yang indah dengan udara yang sejuk dan menawan. Tepat pukul 10.00 WIB kami berpamitan ke tuan rumah. Norma tetap di rumahnya, Anis pulang ke desanya, Umi ke Pemalang, sedangkan saya bersama Izra, dan Dani balik ke Jogja. Perjalanan yang indah dan sulit terulang.Liburan di Dieng benar-benar menjadi awal petualangan kami. Selanjutnya kami terus menjadi bolang walau tidak selalu berenam. Pantai Glagah di Purworejo, Baturraden di Purwokerto, Pantai Siung dan Pantai Drini di Gunungkidul, Air Terjun Tawamangu di Karanganyar, Pantai Pangandaran di Ciamis, Gunung Bromo di Probolinggo, dan Gunung Lawu di Karanganyar yang terakhir wisata Kopeng di Magelang berhasil kami sambangi. Kami sadar alam memang diciptakan untuk dinikmati dan disyukuri. Akhirnya kami menamakan diri kami BFC alias Bolang Fans Club.Semoga semangat bertualang tidak pudar hingga akhir zaman!











































Komentar Terbanyak
Viral Bule Inggris Menangis Lihat Sampah, Bukit Pergasingan Langsung Ditutup
Viral Sawah Bergaya Sabana di Prambanan, Petani Protes Lahan Jadi Tempat Bikin Konten
Citilink Ngegas, Armada Jadi 43 Pesawat, Terbang Lagi dari Bandung Mulai 17 Agustus