Ikut Tawaf di Stupa Terbesar di Kathmandu
Redaksi Detik Travel - detikTravel
Selasa, 13 Sep 2011 10:38 WIB
Jakarta - Nepal merupakan salah satu negeri di atap dunia yang eksotis. Selain itu, kentalnya budaya dan agama dalam kehidupan rakyatnya membuat negeri ini terus bertahan di tengah-tengah derasnya perubahan dunia.Berkunjung ke negeri ini, membuat kita seakan-akan terlempar ke masa lampau dimana waktu seakan-akan berhenti. Keindahan alam, keunikan budaya, dan keramah-tamahan rakyatnya merupakan aset utama yang membuat Nepal tetap menjadi surga wisatawan. Terutama bagi backpackers dan yang hobi naik ke puncak gunung.Kathmandu, Sebuah Kota di Lembah HimalayaLetak negeri Nepal yang tinggi di antara puncak-puncak Himalaya memang eksotis. Hal ini pula yang memberikan sedikit tantangan bagi pesawat yang akan mendarat di sini. Pesawat kami harus terbang tinggi melewati puncak-puncak gunung dan kemudian turun menujuh lembah di mana bandara Tribuwan berada.Setibanya di bandara yang tampak cukup ramai, tetapi sederhana dan tidak terlalu besar. Pemegang paspor Indonesia cukup membayar visa on arrival seharga 25 USD dan sesudah itu dapat melenggang masuk ke Nepal.Untuk menuju hotel, Β kami memesan taksi di bandara dengan harga sekitar 550 Rupee. Dan, tak lama kemudian kendaraan sedan yang tampaknya merupakan taksi sangat sederhana buatan India pun meluncur melalui jalan yang juga sederhana menuju ke hotel kami di daerah Boudha. Β Hotel ini merupakan sebuah resort yang jaraknya sekitar 6 kilometer dari pusat kota Kathmandu. Untungnya hotel menyediakan shuttle bus gratis ke pusat kota.Namun, keramahan sang supir yang akhirnya menjadi pemandu wisata selama kunjungan saya ke Nepal memang cukup membekas, bahkan lama setelah saya kembali. Dia juga banyak mengajari kami bahasa Nepal yang ternyata banyak kemiripan dengan bahasa sansekerta sehingga ada beberapa kata yang sama dengan bahasa Indonesia. Kata anggur adalah salah satunya.Akhirnya disepakati untuk memulai wisata di Kathmandu dan tempat-tempat lain di Nepal keesokan harinya. Berarti sore ini kami mempunyai waktu luang sendiri untuk berkelana secara mandiri di Kathmandu.Boudahnath, Stupa Terbesar di NepalSetelah cek-in di hotel kami yang cukup megah dan dibangun berdasarkan arsitektur Newari, yaitu arsitektur tradisional Nepal. Kami melihat-lihat suasana di dalam hotel, Terdapat taman-taman yang luas dan hijau. Di kejauhan, ada sebuah stupa besar berwarna putih, dihiasi dengan bendera kecil warna-warni yang digantungkan pada seutas tali yang berpusat di pucak stupa. Boleh juga berkunjung ke sana sore ini, demikian kaim memutuskan tujuan pertama di Kathamandu ini.Untuk ke Boudhanath, tinggal jalan kaki sekitar 5 sampai 10 menit, demikian keterangan petugas concierge di hotel. Akhirnya dengan perlahan kami menyusuri jalan berdebu di depan hotel menuju stupa .Kontras dengan hotel yang tampak mewah dan hijau, jalan-jalan di kota Kathmandu memang sedikit unik. Kondisi jalan pada umumnya kurang baik, banyakΒ berlubang dan juga berdebu. Namun, banyak kendaraan umum baik bus sedang maupun kendaraan sejenis mikrolet yang lalu lalang. Semuanya diisi penduduk lokal. Sambil berjalan pelan menyusuri toko-toko kecil. Akhirnya kami pun sampai ke Boudhanath.Ikur Arus Penziarah ke BoudanathSore itu, banyak di jalan di dekat pintu masuk Boudhanath tampak ramai sekali dengan wisatawan dan juga penziarah. Akhirnya kami terjebak di tengah-tengah penziarah dan dapat masuk dengan santai menuju ke halaman kompleks.Di sekitar stupa utama yang tingginya sekitar 36 meter ini banyak terdapat kuil-kuil agama Budha Tibet yang dihias dengan penuh warna-warni. Selain itu banyak juga penjual asongan yang menawarkan cendera mata baik berupa T-shirt, dan pernak-pernik agama Buddha Tibet.Kami sempat masuk ke salah satu kuil yang paling besar. Kuil ini berlantai tiga dan dari lantai paling atas pemandangan ke Stupa dapat dinikmati dengan leluasa. Secara tidak sengaja kami memperhatikan arus kerumunan orang yang terus berjalan mengelilingi stupa. Waktu itu saya kurang paham apa yang mereka lakukan. Setelah memperhatikan sekitar lima menit ternyata mereka memang mengelilingi stupa sambil sekali-kali menyentuhkan tangannya ke dinding stupa.Wah menarik juga. Akhirnya kami turun dari kuil dan mencoba bergabung dengan arus orang yang berkeliling.Tawaf Keliling Stupa BoudahnathKami hanya berjalan mengikuti arus berkeliling seakan-akan tawaf. Uniknya, kalau kita tawaf di Kabah di Tanah Suci, arah putaran berlawanan dengan jarum jam sehingga posisi Ka'bah akan selalu berada di sebelah kiri. Sedangkan tawaf di stupa terbesar di Kathmandu ini arah gerakan adalah searah jarum jam sehingga posisi stupa akan selalu berada di sebelah kanan.Kalau dari atas kuil tadi kami memperhatikan orang-orang sekali-kali menyentuh dinding stupa. Rupanya terdapat semacam silinder dari logam yang dapat berputar. Kita menyentuh silinder tadi sambil membuatnya terus berputar.Benar-benar sebuah pengalaman yang menarik di stupa yang juga telah menjadi salah satu warisan dunia versi Unesco ini.Masuk Gratis ke BoudhanathLucunya lagi, kami baru sadar bahwa pada kunjungan pertama ini kami telah masuk secara gratis karena menyamar menjadi orang Nepal. Rupanya wajah kami yang berdebu setelah menyusuri jalan di Kota Kathmandu membuat pasar kami mirip orang Nepal?Pada kunjungan kedua bersama supir yang merangkap guide, kami harus membayar tiket resmi sebagai orang asing sebesar 75 Rupee. Pengalaman menarik masuk ke stupa gratis dengan tidak sengaja menyamar menjadi orang Nepal yang berziarah dan juga sekalian ikut tawaf di Stupa Boudanath.
(travel/travel)












































Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun