Banyumulek, Pottery Village, dan Kulit Telur
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Banyumulek, Pottery Village, dan Kulit Telur

Melissa Carolina - detikTravel
Jumat, 23 Sep 2011 09:47 WIB
loading...
Melissa Carolina
Guci bermotif batik
Pengrajin dan anak kecil
menempel hiasan dari kulit telur
Banyumulek, Pottery Village, dan Kulit Telur
Banyumulek, Pottery Village, dan Kulit Telur
Banyumulek, Pottery Village, dan Kulit Telur
Jakarta - Suatu pagi, hari pertama di Tanah Mutiara. Pulau baru yang menurut orang–orang sangat indah. Meskipun berdekatan dengan Bali, pulau ini bisa dibilang berbeda 180 derajat dengan Bali. Jika di libur hari raya seperti sekarang ini, Bali bisa sangat penuh, sedangkan Lombok cukup lengang. Tak ada tumpukan mobil dan orang di daerah wisata. Bahkan, di daerah Pantai Senggigi yang latar belakangnya cukup terkenal. Sampai tempat-tempat makan pun rata-rata tutup.Sehabis sarapan pagi dengan dua bungkus mi goreng, kini kaki siap melangkah untuk menjelajah pulau ini. Minimal ke daerah-daerah yang menurut orang patut dan wajib dikunjungi. Pukul 09.00 WIT, rombongan kecil berjumlah lima orang ini siap berangkat. Tujuan pertama adalah Pottery Village. Sebuah desa yang menghasilkan barang-barang gerabah. Dalam bayangan kami semua penduduk di desa tersebut membuat gerabah di rumah masing-masing. Namun, bayangan itu bubar saat melihat bahwa desa bernama Banyumulek yang terkenal dengan kerajinan gerabahnya itu hanya terdiri dari satu area luas dengan dua buah bangunan besar. Bangunan yang satu berfungsi sebagai showroom untuk barang-barang yang akan dijual dan satu lagi adalah workshop pembuatan barang-barang.Barang-barang yang mereka hasilkan memang unik dan beraneka ragam. Rata-rata terbuat dari tanah lempung atau tanah liat yang dibentuk, dibakar, kemudian dicat. Untuk hiasannya mereka menggunakan kulit telur yang dibentuk dan ditambahi hiasan dari cat tembok. Harga barang-barang yang dijual di tempat ini beraneka ragam. Tapi, tetap saja menurutku cukup mahal. Harga satu buah tatakan gelas saja bisa mencapai Rp35.000,00 sedangkan gelas kecil diberi harga Rp50.000,00.Alhasil, di sana kami hanya melihat-lihat proses pembuatannya tanpa membeli barang satu pun. Tadinya kami naksir dengan gelas yang berbentuk teko teh dengan hiasan ukiran. Namun, setelah tahu harganya, kami memutuskan untuk tidak jadi membelinya daripada mubazir tidak terpakai.Agar tempat ini lebih maju dan terkenal, sepertinya harus dipikirkan kembali pengelolaan dan penataan barang-barang hasil gerabah tersebut. Tidak ketinggalan harga-harganya juga harus diperhatikan, agar tidak hanya turis-turis mancanegara yang bisa membeli tapi juga turis lokal.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads