Ini adalah hari pertama perjalanan tim 9 kloter 2 menuju Banten. Destinasi pertama yang akan didatangi yaitu Labuan, untuk kemudian lanjut ke Pulau Peucang. Tapi, segala yang ada di rundown hari ini tidak keseluruhannya terlunasi. Kenapa?
Check-out dari Grandkemang Hotel pukul 07.00, saya dan Bella, ditemani pendamping, Arif Budiman dan A' Maman (supir) segera beranjak ke Banten. Dalam perjalanan melewati tol Jakarta-Merak, yang menjadi jeda perjalanan hanya istirahat sarapan di Rest Area, serta Dzuhuran di Labuan. Sampai kemudian sekitar pukul 13.00, kami berhenti di Jalan Perintis Kemerdekaan, Labuan, Banten, di Balai Taman Nasional Ujung Kulon, bertemu Pak Julianto untuk mengurus perizinan. Dibantu A' Yayus (Seksi Pengelolaan TN Ujung Kulon), kami beranjak ke Sumur untuk menyeberang ke Pulau Peucang.
Soal tersesat, memang tidak terjadi. Tapi, kendala yang membuat perjalanan kami jadi jauh lebih lama adalah karena hujan deras sejak di Labuan. Di beberapa titik menjelang wilayah Sumur malah ada genangan lumayan mengganggu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akhirnya, kami (harus) voting apa akan mundur keberangkatannya atau saat itu juga berangkat dalam kondisi agak mengkhawatirkan. Keputusannya: kami pending berangkat ke Pulau Peucang sampai esok (5 Oktober) karena masalah teknis. Sayang sekali. Padahal, penginapan di Peucang sudah diatur. Ah, tapi ya sudah tidak apa-apa. Di balik ketidakberuntungan hari pertama, rombongan dibantu A' Yayus mencari penginapan di sekitaran daerah Sumur, Banten.
Ada tiga tempat yang bisa dipilih jika ternyata Anda mengalami aral yang sama seperti kami. Pertama, yang paling dekat dengan tempat kapal tertambat adalah Citra Ayu, semacam penginapan berbentuk rumah penduduk (homestay) yang dikenai harga per malamnya sekitar Rp75.000. Murah? Memang. Tapi dengan fasilitas yang sangat seadanya; hanya dua single bed dan kipas angin di dalam kamar. Lalu, pilihan lain, adalah penginapan bernama HGM yang berdesain natural, dengan dinding-dingding gubuk dan atap-atap jerami. Kalau yang ini, kisarannya adalah Rp150.000/malam. Terakhir, yang masih agak dekat dengan dermaga adalah Rhino. Nah, kalau yang ini menawarkan dua pilihan ruang menginap. Yaitu, per kamar sekitar Rp250.000/malam, atau per paviliun (satu rumah, kamar tidur 3 buah, dan toilet 2 buah) seharga Rp500.000/malam. Akhirnya, Rhino yang bangunannya berkonsep kayu, kami pilih sebagai penginapan sebelum ke Pulau Peucang.
Sekadar tips, jika mengalami situasi persis seperti Saya dan Bella mengenai masalah penyeberangan ke Pulau, tetaplah berpikir jernih. Dengarkan pendapat si empunya kapal dan nakhoda. Mereka tidak akan mengatakan siap berangkat jika kondisi laut tidak memungkinkan--walaupun kita sendiri tidak yakin soal keamanannya. Tapi, kalaupun ternyata ketika nakhoda dan pemilik kapal sudah siap dan kita sebagai penumpang ragu-ragu untuk pergi menyeberang, jangan memaksakan diri. Berangkatlah menyeberang ketika kita siap karena perjalanan akan cukup lama, sekitar 2 jam. Dan, butuh keyakinan kuat untuk berada di laut selama itu.
Rute angkutan umum Jakarta-Sumur:
- Dari Kali Deres-Labuan, naik saja bis namanya Murni atau Asli, turun di Terminal Labuan.
- Dari Terminal Labuan-Kantor TN Ujung Kulon di Labuan, naik ojek motor (negotiable), turun di Karet. Atau, naik angkot dua kali ganti, turun di pasar; warna hitam - @Rp5.000.
- Kelar masalah perizinan, balik lagi ke terminal, lalu naik Elf ke Sumur Rp20.000-Rp35.000 (paling akhir pukul 09.30-10.00), turun di rumah H. Sukroni (Pak Haji Koni), salah satu pemilik kapal motor untuk menyeberang ke Pulau Peucang. Pilihan lain, Kang Apin, dll.
- Lalu, dari Sumur ke Pulau Peucang, Rp3.500.000.
- Alternatif lain jika ternyata kehabisan elf Labuan-Sumur:
Dari terminal, ada Elf Labuan-Serang tapi lebih penuh daripada Labuan-Sumur. Ada sampai sore.












































Komentar Terbanyak
Waspada! Ini Daftar Pangkalan Militer AS di Seluruh Dunia yang Harus Kamu Tahu
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5
Gara-gara Monyet, Komodo di Singapore Zoo Telan Boneka yang Dilempar