Singapura, Wisata Tiga Budaya Dalam Satu Negara

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Singapura, Wisata Tiga Budaya Dalam Satu Negara

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Jumat, 29 Jul 2011 16:24 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
ugc
Singapura, Wisata Tiga Budaya Dalam Satu Negara
Jakarta -
Selama berabad-abad lamanya, Singapura selalu dianggap sebagai bagian dari Malaysia. Itu setidaknya sampai negarawan Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles, berhasil ke pulau itu pada tahun 1819. Menyadari lokasi tersebut strategis dan bisa berperan penting dalam perdagangan regional, Raffles tak membuang-buang waktu. 

Dia kemudian segera merumuskan kesepakatan dengan suku Melayu setempat dan mendirikan pos perdagangan yang kemudian dikenal sebagai Singapura.

Pada saat Raffles tiba, penduduk Singapura tidak lebih dari ratusan orang. Selama bertahun-tahun, imigrasi warga dari Malaysia ke Singapura meningkat hingga 13 persen atau sekitar setengah juta dari penduduk Singapura dari etnis lainnya. Konsentrasi penduduk Melayu terbesar berada di Kampong Glam yang juga dikenal sebagai Distrik Melayu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Daya tarik terbesar di Kampong Glam ini adalah Masjid Sultan. Masjid ini awalnya dibangun antara tahun 1824 hingga 1826 atas perintah Sultan Hussein Shah Melayu. Masjid yang berdiri saat ini sebenarnya dibangun kembali pada tahun 1928. Masjid ini unik dengan bentuk kubah emasnya yang khas. Sultan Masjid juga sering disebut sebagai masjid nasional Singapura.

Dikutip dari Arab News, Kamis (28/7/2011),sebetulnya jauh sebelum Raffles mendirikan pos perdagangan di Singapura, pedagang Arab sering melakukan transaksi perdagangan dengan penduduk lokal maupun pedagang dari negara lain di lokasi tersebut.

Singapura mungkin negara yang kecil tapi perlu diakui mereka memiliki beragam budaya dari beberapa negara yang melebur menjadi satu. Sepertinya sulit menemukan satu tempat di mana budaya China, Malaysia dan India melebur jadi satu yang bisa menandingi singapura.

Menjelajahi berbagai jalan di kawasan Little India tak seperti berjalan di Mumbai, Delhi atau kota lain. Di Little India, semua orang berbicara menggunakan bahasa Hindi. Mulai dari orang yang datang dan pergi ke semua tempat, termasuk tanda penunjuk arah dan papan reklame.

Di sini, wanita mengenakan baju sehari-hari khas India, Sari. Setiap pedagang kaki lima menjual cabai dan rempah-rempah India. Bahkan bila pengunjung berhenti sesaat, maka akan tercium aroma khas bumbu masakan India.

Dihiasi berbagai macam warna lampu, jalanan Little India ini sangat sibuk dengan hilir mudiknya orang membali berbagai macam barang. Kurang dari 10 persen dari jumlah penduduk Singapura merupakan penduduk keturunan India. Sementara penduduk mayoritasnya merupakan keturunan etnis China.

Hampir 75 persen penduduk Singapura merupakan orang keturunan China dan mereka tersebar di seluruh tempat di Singapura. Namun bila wisatawan ingin melihat secara langsung budaya China maka disarankan untuk segera meluncur ke satu kawasan bernama Chinatown.

Chinatown di Singapura adalah sebuah tempat yang menjual berbagai pernak-pernik khas Negeri Tirai Bambu. Bangunanannya pun khas arsitektur negeri China. Bahkan, beberapa dari bangunan tersebut merupakan kuil dan museum agama Budha. Semua tempat tersebut merepresentasikan negara China termasuk ukiran berbentuk naga yang biasanya terletak di setiap gagang pintu.


(feb/vit)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads