Kisah dari Amsterdam: Bagian 1. Berwisata Sambil Belajar di Nemo

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Kisah dari Amsterdam: Bagian 1. Berwisata Sambil Belajar di Nemo

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Kamis, 11 Agu 2011 14:55 WIB
Jakarta - Β 

Β 

Β 

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Β 

Schipol: Salah satu bandara tersibuk di Eropa

Setelah terbang lebih dari 12 jam dengan pesawat Cathay Pacific dari Hongkong , Pesawat Boeing 747 kami pun mendarat di pagi hari di Bandara Schipol. Bandara ini tampak sangat ramai dan tepat di bawah terminal terdapat stasiun kereta api yang dapat membawa kita ke pusat kota Amsterdam. Namun karena kita memesan hotel di Hoofddorp, kami tinggal keluar bangunan terminal yang disebut juga Schipol Plaza dan menunggu bus jemputan gratis ke hotel. Setelah menunggu bus sekitar 10 menit, bus pun datang dan tidak lama kemudian, kami sudah bisa cek in di hotel.

Menuju Amsterdam dengan Kereta Api

Setelah beristirahat sebentar kami memutuskan untuk memulai wisata kami ke pusat kota. Di hotel tersedia banyak brosur wisata dan juga peta kota Amsterdam. Kami juga bertanya di resepsionis bagaimana cara yang paling murah ke pusat kota, karena seperti juga di Helsinki, ongkos taksi tetap mahal untuk ukuran kantong kita. Ternyata lokasi hotel juga cuma 5 menit jalan kaki ke stasiun Hoofddorp, sehingga tidaklah susah untuk menuju pusat kota Amsterdam.

Kami segera berjalan dengan santai di kota Hoofddorp yangtampaknya sangat sepi di pagi hari itu. Namun yang membuat kami kagum adalah tersedianya jalur khusus buat sepeda. Negeri Belanda memang terkenal sebagai negri sepeda dan kami melihat banyak orang naik sepeda selama lawatan ke negri Belanda ini. Sesampainya di stasiun, cukup membeli Β tiket di mesin otomatis, harga sekali jalan 3.50 Euro untuk sekali jalan Wah mahal juga yah kalau dikonversi ke rupiah. Tiket harus divalidasi di mesin dan setelah itu kita masuk ke peron stasiun. Stasiun tampak sepi, hanya beberapa orang yang menunggu kereta.

Tidak lama kemudian, kereta ke Amsterdam Centraal via Schipol pun tiba dan kami segera naik ke gerbong. Kembali kami terkejut karena kereta juga tidak banyak penumpangnya. Kemudian memang terbukti bahwa kereta ke Hoofddorp Β dari Central dan sebaliknya memang selalu sepi penumpang.

Perjalanan ke Schipol hanya sekitar 7 menit, dan kemudian dilanjutkan ke Central lewat Lelystad hanya sekitar 16 menit saja. Sesampainya di Amsterdam Centraal, baru terlihat bahwa stasiun ini sangat besar dan cukup ramai. Nampak kereta dengan tujuan kota-kota lain di Negri Belanda dan juga kota-kota lain di Eropa. Bahkan ada cuga kereta cepat β€œthales” berwarna coklat tua Β ke Paris yang bisa berjalan ngebut dengan keceptan 300 km per jam. Andaikata di Indonesia ada kereta semacam itu, dari Jakarta ke Surabaya tentu hanya memakan waktu 3 jam .

Nemo, Museum yang bentuknya seperti kapal.

Keluar dari pintu gerbang utama Centraal station, kami belok ke kiri dan di hadapan kami sudah terdapat semacam halte tram yang ramai dengan beberapa tujuan dan rute. Sama seperti di Helsinki, ada papan elektronik yang menunjukkan no trem, tujuan, dan juga perkiraan waktu berapa menit lagi tram tiba. Β Namun untuk kali ini, karena sesuai peta yang kami miliki, tujuan pertama kami adalah Nemo, yang letaknya kira-kira 700 meter dari Centraal, jadi cukup berjalan kaki saja dengan santai sambil menikmati suasana Β kota Amsterdam.

Suasana kota Amsterdam sangat ramai, banyak orang berjalan kaki dan juga bersepda, tram, bus kota dan kendaraan lain lalu lalang. Tepat di sebrang stasiun terapt juga stasiun Metro, atau kereta bawah tanah . Kami belok kiri menuju Oosterdok , Dari kejauhan sudah kelihatan bentuk museum yang sepeti kapal selam dan berwarna biru. Kami menyusuri semacam pedestrian yang letaknya di ats laut. Di sebelah kanan Nampak sebuah bangunan dengan arsitektur cina bagaikan sebuah kelenteng, ternyata bangunan itu adalah sebuah restoran Cina.

Kurang 15 menit berjalan santai , kamipun tiba di pintu masuk Museum, ayah segerah membeli tiket untuk 3 orang. Harganya 12.50 Euro per orang.. Yang gratis ternyata anak-anak di bawah tiga tahun.. Wah, segalanya serba mahal juga yah..Tapi ini memang Eropa.Β 

Nemo ternyata bukan nama ikan

Kami segera masuk ke museum yang temanya memang Science Museum untuk anak dan remaja. Bukan berarti orang dewasa tidak menyukai. Ayah saya juga ternyata cukup menyukai permainan dan wahana yang ada di sini.

Berdasarkan informasi yang saya baca, Nemo pertamakali diresmikan oleh Ratu Beatrix pada 1997 dan kalau dari luar bentuknya seperti kapal, ternyata di dalamnya terdiri dari 5 tingkat yang isinya sains dan teknologi berbentuk pameran dan permainan interaktif . Β Nama Nemo tadinya saya kira dinamakan seperti clown fish yang terkenal dalam film kartun β€œFinding Nemo”, ternyata nama ini diambil dari bahasa Latin, Nemo artinya adalah anonym atau bukan siapa-siapa. Istilah nemo selama berabad-abad telah digunkan oleh orang yang yang berada di antara impian dan kenyataan. Yah di Nemo ini , kita memang dapat sekaligus menjadi ahli sains, ahli teknik, dan juga sekedar tukang mimpi.

Beberapa nama Nemo yang ada:

Di dalam sini saya dapat mengetahui bahwa selain ikan lucu dalam film nama Nemo juga telah dipakai dalam buku Jules Verne, β€œ20.000 thousand league under the sea”, juga dalam cerita klasik dari Yunani, yaitu Odyssey karangan Homerus. Dan masih ada satu lagi tokoh Nemo, yaitu tokoh kartun ciptaan Winsor Mccay pada 1910. Tokohnya bernama Little Nemo, yang dalam cerita ini bermimpi , Dalam mimpinya Nemo kecil terlibat dalam banyak sekali petualangan, dimana fantasi dan keyataan saling bercampur sehingga tidak lagi dapat dibedakan.

Lumayan nih, jadi tambah pinter sedikit setelah kesini walaupun baru 10 menit.

Beberapa wahana yang sempat kami lihat : Tentu saja yang saya masih ingat:

Ada banyak sekali wahana di sini dan tentu saja kami tidak dapat lihat Β semuanya. Kalau tidak perlu waktu lebih satu hari di gedung berlantai lima ini. Di antaranya terdapat : The exhibition every one electric, yang Β memamerkan kemajuan dibidang transportasi listrik. Juga yang cukup menarik adalah adalah β€œteen facts” yang meneceritakan Β segalahnya tentang dunia remaja umur belasan tahun seperti saya. Kerana keterangannya dalam bahasa Belanda dan Inggris, saya belum mengerti semuanya, untung ayah berbaik hati menerangkan untuk saya. Kakak lebih beruntung Karena sudah SMA Β jadi bahasa Inggrisnya lebih baik dari saya…he he.

Beberpa nama wahana lain yang saya masih ingat antara lain β€œamazing construction”, Β β€œyou me and electricit”y dan Β β€œThe Search for Life” . Masih banyak lagi yang lain dan saya tidak mencatat semuanya.

Pintu keluarnya ada di lantai lima

Yang menarik, setelah cukup lelah melihat, belajar dan bermain, kami terus naik sampai ke lantai paling atas yang ternyata merupakan atap dengan udara terbuka. Sebelum keluar ada semacam restoran dimana saya dapat memesan es krim kesukaan saya dan ayah minum kopi dulu. Setelah itu kami keluar ruangan dan ternyata menemukan atap yang berbentuk tera sdan ada tangga-tangga turun dengan landai hingga sampai ke jalan raya, Uniknya banyak orang duduk-duduk sambil berjemur menikmati matahari musim panas.

Kami berjalan pelan-pelan dan akhirnya sampai di level bawah dan segera meninggalkan Nemo untuk melihat-lihat tempat lain di Amsterdam. Sampai jumpa lain waktu dengan kelanjutan kisah lawatan saya di Belanda.

(travel/travel)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads