Mentari 'menghadiahkan' kilau teriknya yang telah merubah warna coklat Sungai Sekonyer menjadi kilau-kilau menakjubkan. Meskipun kilaunya membuat saya sedikit memincingkan mata, tak menyurutkan semangat saya mendongakkan kepala ke atas untuk mencari makhluk-makhluk mempesona khas Kalimantan yang saya harap dapat ditemui. Tak hanya mendongakkan kepala keatas, saya juga selalu mengintai dengan seksama ke arah rawa-rawa, berharap melihat buaya, sang predator.
Kamis,14 oktober 2010,inilah hari yang paling saya nantikan sejak perjalanan ke kalimantan Tengah masih menjadi berupa seonggok rencana. Perjalanan idaman ke taman keajaiban,Taman Nasional Tanjung Puting. Setelah 25 menit perjalanan dari PangkalanBun menggunakan travel sewaan,akhirnya kami sampai di pelabuhan Panglima Utar, Kumai. Dan disinilah saya, berada diatas klotok, sejenis perahu motor yang akan membawa kami ke Taman Nasional Tanjung Puting, sekaligus menjadi tempat tinggal kami selama 3 hari kedepan.
Duduk di kursi nyaman bagian depan klotok menyusuri Sungai Sekonyer dengan pemandangan pohon nipah membatasi di sisi kiri-kanan sungai serta terpaan angin yang menyibakkan rambut akibat laju klotok, sungguh menentramkan hati. Setelah beberapa saat, rangkaian pohon nipah yang terbentang berganti dengan pohon rasau. Kedua pohon ini merupakan salah satu makanan orangutan, sementara, pohon rasau adalah salah satu makanan bekantan. Itulah sebabnya disepanjang perjalanan,saya tak henti mendongakkan kepala, menengok kekiri dan kekanan, karena terkadang kami melihat orangutan, bekantan serta monyet ekor panjang yang sedang bergelayut di pohon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayang, saya tidak menjumpai buaya,sang predator penguasa sungai. Menurut guide kami, Edy, hal ini karena kondisi sungai sedang tinggi. Kemungkinan melihat buaya akan lebih besar di bulan juni-juli saat kemarau menyurutkan air sungai. Deru mesin kelotok tidak menutupi kicauan burung rangkong, gantung,bubut serta burung raja udang yang juga dapat dilihat sepanjang penyusuran sungai. Disini terdapat sekitar 220 spesies burung.
1,5 jam menyusuri Sungai Sekonyer, kami tiba di Tanjung Harapan, posko pintu masuk Taman Nasional Tanjung Puting. Di posko ini kami harus membeli tiket masuk,serta harus menyerahkan fotocopi tanda pengenal.
Berselang sekitar 2 jam kemudian yang diisi dengan pemandangan kiri kanan, serta berbagai informasi dari edy sang guide membuat saya terkagum-kagum, karena ternyata begitu sedikit yang saya ketahui mengenai makhluk-makhluk istimewa ini,akhirnya kami sampai di persimpangan yang menuju kawasan konservasi Tanjung Puting.
Memasuki wilayah ini, warna air Sungai Sekonyer telah berubah hitam, hal ini disebabkan zat tanin yang dikeluarkan oleh tanaman. Sepanjang perjalanan, tak jarang klotok berhenti untuk memberikan kami waktu mengabadikan hewan-hewan yang berhasil ditemui. Kebetulan, masih ada waktu sekitar 2 jam lagi bagi kami untuk melihat waktu makan bagi orangutan yang selalu dilakukan jam 2 siang.
Setelah Perjalanan sekitar 1 jam lagi dari persimpangan,akhirnya kami sampai di Camp Lakey,tempat tujuan kami. Perjalanan sebelum mencapai Camp Lakey ternyata sudah merupakan suatu petualangan indah bagi kami. Petualangan sebelum berpetualang. Inilah yang ditawarkan taman keajaiban, Taman Nasional Tanjung Puting.











































Komentar Terbanyak
Potret Terkini Malaysia yang Selangkah Lagi Jadi Negara Maju
Ketika Perbedaan Bahasa Indonesia-Malaysia Mengundang Tawa
Gara-gara Protes Penerbangan Delay, Warga 62 Ditahan Polisi KLIA