Tangan-Tangan Jahil di Jembatan Barito

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Sendia Berka|44149|KALTENG & KALSEL|48

Tangan-Tangan Jahil di Jembatan Barito

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Senin, 22 Agu 2011 13:09 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Laba-laba indah di Jembatan Barito
Penjual makanan dan minuman di Jembatan Barito
Coretan-coretan dan poster merusak mata
Ulah tangan-tangan jahil
Pasangan sejoli di Jembatan Barito
Tangan-Tangan Jahil di Jembatan Barito
Tangan-Tangan Jahil di Jembatan Barito
Tangan-Tangan Jahil di Jembatan Barito
Tangan-Tangan Jahil di Jembatan Barito
Tangan-Tangan Jahil di Jembatan Barito
Jakarta -

Jembatan besar dengan tiang berwarna kuning 'tertangkap' oleh penglihatan mata saya dari kejauhan. "Itu yang namanya Jembatan Barito", ujar Gary, pendamping saya dan Yuga selama perjalanan. Setelah mengakhiri penjelajahan di Kalimantan Tengah selama 10 hari, akhirnya kami memulai penjelajahan di Kalimantan Selatan.

Jembatan Barito adalah hal pertama yang saya sadari bahwa saya sudah mulai 'menyentuh' Kalimantan Selatan. Tak mau terlewatkan mengabadikan jembatan yang sangat besar ini, akhirnya kami minta diturunkan oleh sang supir disisi jembatan. Kami menyuruh supir terus melaju mencari tempat melewati jembatan untuk menunggu, agar tidak mengganggu mobil lain yang akan lewat. Dengan bersemangat, saya mulai berfoto bak model di sisi jembatan yang dibuat seperti trotoar bagi pejalan kaki dengan tinggi sekitar 50 cm. Sambil terus mengabadikan jembatan ini, pemandangan Sungai Barito yang mengalir dibawahnya juga rumah-rumah lanting yang terdapat di sisi-sisi Sungai Barito, saya terus berjalan di trotoar.

Sore itu, 20 Oktober 2010, saya melihat banyak pengendara sepeda motor yang berhenti di sisi jembatan untuk sekedar duduk-duduk bersama teman-teman, bahkan ada sepasang muda-mudi dengan asik duduk diatas motor. Berjalan lebih jauh, saya melihat lebih banyak motor dan mobil yang diparkir di samping penjual makanan dan minuman dengan gerobak dorongnya. Pemandangan yang biasa di Indonesia, dimana banyak orang berkumpul, pasti akan ada penjual makanan dan minuman. Meskipun tidak sampai membuat macet karena jumlah kendaraan tidak terlalu banyak, namun tentu saja sebenarnya hal ini sangat berbahaya dan mengganggu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sambil menyusuri Jembatan Barito, saya meneliti jembatan ini lebih jauh. Di beberapa bagian, warna kuning-nya sudah tertutup debu-debu hitam yang menempel, bahkan saya sempat menemukan seekor laba-laba indah dengan nikmat berada di jaringnya. Namun bukan laba-laba itu yang saya permasalahkan. Menurut saya, sang laba-laba justru mempermanis Jembatan Barito yang diresmikan pada tahun 1997 oleh Presiden RI ke-2, Soeharto.

Coretan-coretan yang berada di sisi-sisi tembok tempat peletakan plakat peresmian jembatan ini-lah yang saya permasalahkan. Coretan-coretan kotor, tak bernilai seni, dan membuat mata sakit yang dibuat oleh orang-orang yang tak menghargai nilai Jembatan Barito, ditambah beberapa bekas poster pasangan saat pemilihan kepala daerah . Sungguh kesal hati saya saat melihat coretan yang merusak keindahan jembatan ini. Nampaknya Gary, sang pendamping, menyadari perubahan raut wajah saya menjadi kesal. "Biasa, anak-anak muda mau cari tantangan" ujarnya membaca isi hati saya.

Saya terdiam, tak membalas ucapannya, dan hanya membatin, bagaimana bisa mencoret-coret fasilitas umum dianggap sebagai tantangan? Mengapa orang-orang dengan tangan jahil ini tidak menantang diri mereka sendiri untuk membangun negara ini. Tidak perlu menjadi peneliti roket atau semacamnya, cukup dengan tindakan kecil namun nyata, menghargai dan menjaga semua yang ada di negeri ini, alam dan isinya, termasuk Jembatan Barito.

Sungguh sayang, Jembatan dengan panjang 1.082 meter dan lebar sekitar 10 meter yang melintasi Sungai Barito ini sebenarnya bisa menjadi salah satu objek wisata yang sangat indah. Seandainya kita semua bisa menjaganya dengan lebih baik. Seandainya.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads