Hari Jumat Pagi (15/10/10) kami sudah bersiap-siap untuk berangkat. Ada dua pilihan transportasi menuju daerah Wabudori, tempat wisata tujuan kami, yaitu melalui jalur darat dan jalur laut. Tentu saja kami lebih memilih jalur laut dengan menggunakan perahu karena rute perjalanannya jauh lebih menantang daripada menggunakan jalur darat. Pagi itu cuaca begitu mendung dan sudah mulai gerimis. Tetapi hal itu tidak menjadi penghalang bagi tim kami untuk meneruskan penjelajahan.
Rutenya adalah kami menyusuri Teluk di distrik Sabar Miokre yang langsung terhubung dengan Samudera Pasifik, lalu menyusuri daerah sungai Wabudori dimana sungai itu dikelilingi oleh Hutan Hujan Tropis dan Mangrove. Benar-benar Eksotis! Perjalanan menggunakan perahu terasa begitu seru karena pemandu dan bapak pengendali perahu berkali-kali melakukan aksi manuver yang membuat perahu hampir saja terbalik. Saya sempat deg-degan juga karena takut perahu terbalik dan hanyut hingga ke Samudera Pasifik. Perjalanan perahu kami tempuh kurang lebih dalam kurun waktu setengah jam. Dan akhirnya sampailah kami di titik pemberhentian Hutan Hujan Tropis Supiori.
Titik pemberhentian ini disebut "Indas Murem" oleh warga setempat. Jarak antara titik pemberhentian hingga ke Air Terjun Wabudori adalah sekitar 40 menit perjalanan. Tetapi, itu baru jarak hingga air terjun tingkat pertama. Air Terjun Wabudori merupakan air terjun yang memiliki tingkat hingga tujuh. Karena kondisi cuaca yang hujan dan demi keselamatan, akhirnya kami memutuskan untuk naik hingga tingkat pertama saja. Menurut penuturan Pak Kades, Air Terjun Wabudori yang indah ada di tingkat satu dan tingkat empat. Ternyata benar, di tingkat pertama saja kami sudah disuguhi pemandangan menakjubkan dari air terjun setinggi enam belas meter yang memiliki tiga cabang jalur air.
Penjelajahan kami terasa semakin menarik tidak hanya karena air terjun yang kami kunjungi benar-benar indah, tetapi penyusuran kami melewati hutan hujan tropis Supiori pun sangat menantang. Berkali-kali kami melihat burung kakak tua jambul kuning, bunga anggrek Papua, dan terdengar satwa-satwa lain yang saling sahut-menyahut. Jalurnya pun dapat dikatakan sangat memacu adrenalin sekali. Berkali-kali saya terpeleset dan sempat hampir hilang karena nyaris tertinggal dari pemandu dan rekan saya.
Yang menarik disini adalah, sesaat sebelum kami memasuki hutan atau pada saat di titik pemberhentian, pemandu saya memberikan setangkai dedaunan untuk dipakaikan di rambut. Nama tumbuhan itu adalah "Aruwam" yang merupakan nama suku penguasa hutan Supiori - Wabudori. Tentu saja saya bertanya langsung untuk apa tumbuhan ini diberikan untuk saya. Beliau menjawab,"Itu tumbuhan dipakaikan ke rambut supaya aman, tidak ada yang mengganggu". Menarik sekali, bukan?!
Saya benar-benar menikmati sekali penjelajahan saya ke daerah Supiori-Wabudori. Selain saya merasakan serunya menyusuri daerah Teluk, Sungai Wabudori, dan menjelajahi Hutan hujan tropis, saya juga menikmati panorama Air Terjun tujuh tingkat Wabudori. Sekarang saya mengerti mengapa daerah wisata ini begitu terkenal hingga ke manca negara. Jika orang dari luar negeri saja begitu senang menjelajahi daerah ini, kenapa kita yang merupakan orang Indonesia harus jauh-jauh berlibur ke luar negeri? Cintai Indonesia, kenali Indonesia.












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Sebelum Bikin Patung Macan Putih Gemoy, Seniman di Kediri Sempat Mimpi Aneh