Petualangan Mencari Lumba-Lumba di Kiluan

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Zulfi Rahardian|725|BENGKULU & LAMPUNG|44

Petualangan Mencari Lumba-Lumba di Kiluan

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Kamis, 26 Mei 2011 13:10 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Lega bisa melihat Pulau Kiluan kembali
Pak Agus mulai mendayung perahu
Pak Agus membantu mendirikan layar
Batu karang di Tanjung Tikus yang sering menghancurkan perahu
Petualangan Mencari Lumba-Lumba di Kiluan
Petualangan Mencari Lumba-Lumba di Kiluan
Petualangan Mencari Lumba-Lumba di Kiluan
Petualangan Mencari Lumba-Lumba di Kiluan
Jakarta -

Kamis pagi di Pulau Kiluan. Tidak biasanya saya dan Titis bangun pagi seperti ini. Pagi ini kami mau melihat lumba-lumba. Katanya, Teluk Kiluan menyimpan lumba-lumba yang jumlahnya mencapai ratusan. Kalau mau melihatnya, kita harus rela bangun jam enam pagi untuk berlayar menuju ke tengah laut. Bahkan karena begitu banyaknya lumba-lumba di sana, kita bisa menurunkan kaki ke laut untuk menyentuh lumba-lumba dan mengajak mereka bermain. Pagi ini akan sangat menyenangkan.

Namun, angin belum mengijinkan kami untuk berlayar sepagi ini. Ombak di tepi pantai pagi ini begitu kencang. Terlalu bahaya bagi kami untuk mengayuh perahu ke tengah laut. Akhirnya kami terpaksa menunggu hingga air laut tenang. Kami menghabiskan waktu dengan mengelilingi pulau yang eksotis ini.

Tiga jam berlalu dan kini jam hampir menunjukkan pukul sembilan. Kemudian salah satu pemilik kapal, Pak Agus namanya, menghampiri kami. "Lautnya udah mulai tenang, jadi mau melihat lumba-lumba gak?" tanya Pak Agus. Saya langsung menjawab dengan semangat, "Mau Pak. Mau." Namun, lain halnya dengan TItis yang tidak begitu ingin melaut pagi ini. Perasaannya mengatakan lebih baik di pulau saja. Menurutnya sudah hampir tidak mungkin menemukan lumba-lumba sesiang ini di tengah laut. Tapi saya bersikeras ingin berlayar mencari lumba-lumba. Akhirnya, kami memutuskan untuk berangkat dengan satu perahu terlebih dahulu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Motor perahu dinyalakan dan kami pun berlayar menuju ke laut lepas. Perahu kecil yang dikenal dengan nama perahu ketinting ini cukup stabil membawa kami meninggalkan pulau. Saya menikmati perahu yang mulai berayun-ayun karena ombak-ombak kecil. Sesekali datang ombak yang agak besar, namun ujung depan perahu yang didesain agak runcing ke atas dapat memecah ombak sehingga perahu dapat terus melaju ke tengah laut.

Di tengah laut, ombaknya mulai tidak santai. Perahu kami terus menerjang gunungan ombak yang membuat kami merasa seperti sedang di wahana permainan Kora-Kora di Dunia Fantasi, Ancol. Namun bedanya, ini benar-benar di tengah laut lepas dan tidak ada pengaman, kecuali life jacket yang kami pakai. Perjalanan ini benar-benar memacu adrenalin. Kemudian saya berpikir, jadi inilah rasanya jadi pelaut. Setiap hari harus menerjang ombak seperti ini di tengah laut. Saya kagum dengan nenek moyang kita yang katanya pelaut-pelaut ulung.

Sudah satu jam kami mengarungi lautan ombak yang mulai menderas, namun tidak juga bertemu dengan lumba-lumba. Kemudian Pak Agus berkata, "Biasanya banyak lumba-lumba di sekitar sini." Tapi sejauh mata memadang, hanya ada ombak-ombak yang berkejaran. Sinar matahari sudah sangat menyengat kulit. Akhirnya, Pak Agus memutar arah perahu untuk kembali ke Pulau. Saya masih berharap bertemu lumba-lumba di perjalanan pulang. Namun apa yang kami temui di perjalanan pulang lebih seru daripada lumba-lumba.

Titis sudah benar-benar lelah tapi dia masih sempat bercanda di tengah laut, "Eh bayangin kalau tiba-tiba bensinnya habis." Saya langsung panik, "Huss.. jangan ngomong yang nggak-nggak!" Saya tidak bisa membayangkan kalau harus terdampar di tengah lautan seperti ini.

Tidak lama kemudian tiba-tiba suara motor perahu menjadi sangat nyaring. Saya yang duduk persis di depannya langsung menoleh ke belakang, dan melihat Pak Agus buru-buru mematikan mesin. Kemudian Pak Agus bilang, "Baling-balingnya patah." Sontak saya langsung menoleh ke Titis dan langsung tertawa, "Hahahaha tuh kan!" Rasanya belum lama kami bercanda, dan sialnya langsung terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti ini. Ada-ada saja.

Kemudian Pak Agus bilang, "Tolong ambilkan dayung di depan." Saya diam sebentar, sambil berusaha menerima semua ini dengan akal sehat. Kami terdampar di tengah laut, tidak tampak satu pulau pun dari sini, baling-baling patah, motor tidak dapat digunakan dan kami akan pulang dengan mengandalkan satu dayung. Astaga, mau sampai pulau jam berapa?

Kemudian Pak Agus menyuruh kami mendirikan layar. Saya langsung mengambil kain kecil seukuran baju yang saya pakai. Sekali lagi ini tidak masuk akal. Kami harus menggantungkan harapan dengan layar sekecil ini. Kemudian Pak Agus membantu kami memasang layar. Kata Pak Agus, "Layar ini bisa menggantikan kekuatan satu orang mendayung."

Setelah hampir setengah jam terdampar di tengah laut, akhirnya tampak dua pulau kecil. Pulau Kiluan ada di belakang kedua pulau tersebut. Kemudian saya menggantikan Pak Agus untuk mendayung, sementara Pak Agus mencoba meminta pertolongan dengan mengibarkan kain berwarna biru. Tapi pulau masih sangat jauh, tak ada orang yang melihat kami di sini.

Satu jam kemudian akhirnya kami melintasi kedua pulau tersebut. Di sini ombaknya makin dahsyat. Ombak terus menghantam dari arah kiri dan membuat kami sempat panik. Pak Agus meminta saya untuk memegang kemudi. Katanya, "Tolong pegang kemudi ke arah kiri, di sini ombaknya ganas." Saya langsung melompat ke bagian belakang perahu untuk memegang kemudi. Laut di antara kedua pulau ini memang terkenal bahaya. Kalau perahu tidak bisa bertahan untuk merapat ke arah kiri, bisa-bisa terseret ombak dan menghantam karang besar di Tanjung Tikus. "Sudah banyak perahu di sini yang hancur gara-gara menghantam karang di sana." Saya sempat panik karena meskipun perahu diarahkan ke kiri tapi tetap terdorong ombak ke arah kanan. Sambil mendayung, Pak Agus malah bergurau, "Sekarang kamu kapten kapalnya hahaha." Saya cuma bisa ketawa miris sambil gemetar memegang kemudi.

Dengan kerja sama yang baik, akhirnya kami bisa membawa kapal ini melewati kedua pulau tersebut. Setelah melewati kedua pulau tersebut, ombak mulai tenang. Akhirnya saya bisa bernafas panjang sebentar. Saya dan Pak Agus terus bergantian mendayung untuk dapat merapat ke Pulau Kiluan. Alhamdulillah, dengan kekuasaan Tuhan, kami masih bisa sampai di pulau sekitar pukul dua belas siang. Perjalanan kami kali ini benar-benar menegangkan dan tidak akan mungkin dapat saya lupakan. Setelah turun dari perahu, Pak Agus kembali berkelakar sambil menepuk bahu kami, "Kalian memang benar-benar petualang sejati hahaha"

Β 
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads