Pelesir ke Nias Barat (2): Desir Rupiah di Pantai Sirombu

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Pelesir ke Nias Barat (2): Desir Rupiah di Pantai Sirombu

Nias Bangkit - detikTravel
Rabu, 15 Jun 2011 15:07 WIB
Jakarta - NBC Enam tahun pascagempa di Pantai Sirombu, penduduk mulai merehab bangunan yang ditelantarkan sejak terjadinya bencana dan menjadikannya tempat usaha. Setahun terakhir ini, di atas Pantai Sirombu sudah tumbuh belasan saung beratap daun rumbia yang  menjual makanan dan minuman. Desir pantai berpasir putih itu begitu strategis menggerakkan ekonomi Sirombu bila dikelola dengan bagus dan membuat rupiah ikut berdesir.

Melintasi bekas Desa Sirombu kini banyak perubahan dan sudah biasa terlihat. Misalnya, sebuah rumah di sebelah kiri jalan kini sudah dijadikan tempat penjualan bahan bangunan.

Di lokasi lainnya terdapat warung penjual bahan-bahan pokok serta kedai kopi.  Saya teringat akan gurauan Agus Mendröfa, mantan Wakil Bupati Kabupaten Nias, saat hari pertama saya tiba di Gunungsitoli. “Dulu, setiap mau berangkat keluar dari Gunungsitoli, saya merepotkan istri karena dia harus menyediakan bontot (bekal) di perjalanan,” ujarnya saat berbincang sebelum berangkat dari Miga Beach Hotel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Memang, lima tahun lalu, hampir tidak ditemukan sebuah warung pun di pantai ini. Berbeda di siang hari Minggu 20 Maret 2011 itu, kami menyaksikan belasan pengusaha saung (pondok) beratap rumbia tak berdinding tumbuh di pinggir pantai. Di sepanjang pantai di belakang bekas Desa Sirombu kini tumbuh gubuk-gubuk dari atap rumbia. Dari mulai ukuran besar sampai hanya ukuran 2 meter x 3 meter sudah ada di tempat itu. Bangunannya memang masih sederhana, tetapi sudah lengkap dengan meja dan kursinya. Sangat nyaman untuk duduk sambil menikmati  minuman dan pemandangan indah Pantai Sirombu.

Sama seperti kami, bagi pendatang yang ingin ke Sirombu, tidak perlu mempersiapkan bontot lagi.

Siang itu kami memilih rumah makan yang terletak di sebuah sudut yang sepi, di pinggir sebelah kiri jalan hotmix. Rumah makan, layaknya rumah makan bagi mahasiswa di kompleks USU Medan.

Sambil menunggu hidangan disiapkan pemiliknya, kami melepas pandangan ke arah Pantai Sirombu. Siang hari yang cerah itu terlihat pantai pasir putih dengan gulungan ombak yang mengilap diterpa cahaya mentari. Kami mengaso sejenak menghilangkan rasa penat setelah naik kendaraan selama dua jam.

Pemilik rumah makan itu adalah Syarifuddin Maru’au alias Ama Abel (50). Pria yang memiliki delapan orang anak ini adalah korban bencana tsunami yang disusul dengan gempa Maret 2005. Dia tinggal di Perumahan Delasiga.

“Itu lokasi rumah saya yang hancur karena gempa kemarin,” ujarnya sambil menunjuk bekas lokasi rumahnya tidak jauh dari rumah makan yang baru dibukanya beberapa bulan sebelumnya. Kini pria kelahiran Sirombu ini tinggal di perumahan yang disumbangkan dermawan lewat Posko Delasiga (sekarang Yayasan Delasiga).

Memang tak banyak pilihan makanan di rumah makan itu. Siang itu kami menikmati ikan kehu segar yang dibeli Syarifuddin dari para nelayan yang baru kembali dari laut pagi harinya. Ikan yang diramu dengan sambal seadanya cukup lezat di saat perut sudah keroncongan. Sedaap…!

Rumah makan Syarifuddin adalah satu-satunya yang buka di siang hari itu. Sementara gubung-gubug lainnya masih tutup “Biasanya gubuk ini ramai di sore hari,” ujar Bung Effendi, salah seorang anggota tim kami yang sudah beberapa kali berkunjung ke sana setahun terakhir ini.

Untuk mengamati kegiatan pantai di sore hari, kami kembali mengunjungi tempat itu sekitar pukul 16.00. Gubuk-gubuk yang tadinya kosong, kini sebagian besar sudah diisi pengunjung yang kebanyakan datang dengan sepeda motor.

Kami memasuki sebuah kafé tanpa nama, tetapi merupakan kafe terbesar di pantai itu. Dengan mudah kita mengetahui makanan dan minuman yang tersedia. Anda tinggal memilih. Ada ikan bakar, mi sop ayam, mi goreng, bakwan, nasi goreng, gado-gado, mi ayam, minuman dingin berbagai jenis.

Di kafe ini kami merasa terhibur dengan video yang memutar  lagu-lagu Nias dan Indonesia. Sore itu, kami terlena dengan sebuah lagu Nias yang klip videonya menampilkan tari “maena”, tarian tradisional Nias. Dalam video itu ratusan orang menari bersama tarian yang mirip tarian poco-poco dari Manado. Orang Nias memang memiliki rasa seni yang tinggi.

Melepas mata ke arah lain,  terlihat puluhan kendaraan roda dua berpacu di sekitar garis pantai pasir putih itu. Para anak muda laki-laki melakukan “balapan”. Tentu bukan balapan seperti di Sirkuit Sentul. Mereka melaju tanpa merebut kejuaraan. ”Hanya menikmati pantai sambil mengendarai sepeda motor,” ujar seorang anak muda yang ikut dalam balapan itu.

Bahkan, terlihat sebuah mobil Inova sendirian melaju di atas pasir dengan kecepatan 40-60 kilometer per jam. Bannya terlihat menyembur pasir dan membelah empasan air laut yang terdorong gelombang ke pantai. Pemandangan baru, hiburan baru bagi pengunjung Sirombu.

Keramaian sore itu di Pantai Sirombu membuat rupiah ikut berdesir. Para pengunjung membutuhkan berbagai jasa untuk menukarkan rupiah milik mereka. Perlu dipikirkan untuk membangun wahana permainan laut, semisal penyewaan ban pelampung untuk mandi laut, perahu pisang (banana boat), serta wahana bermain untuk anak-anak. Dengan begitu, ekonomi warga sekitar bisa menggeliat. [JG]

(travel/travel)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads