Tradisi Lompat Batu Nias

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Ida Hendriawati|8469|SUMUT 2|41

Tradisi Lompat Batu Nias

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Rabu, 22 Jun 2011 15:00 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Jakarta -

Sorake, 07 Oktober 2010

Apakah anda masih menyimpan uang pecahan yang ada orang lompat batu? hari ini kamis, 07 Oktober 2010, kami tim ACI Sumut 2 berkesempatan bertemu dengan orang yang ada di ikon tersebut tepatnya di desa Bawomataluo bernama Tafol Nehe, beliau menceretakan sedikit sejarah lompat batu.

Dahulu, sebelum ikut dalam perang, anak muda Nias harus bisa melompat melewati batu yang sengaja dibangun ditengah desa mereka. Berhubung desa - desa yang akan didatangi memasang benteng tinggi - tinggi, maka dari itu orang yang bisa melompat dari batulah yang akan diikut sertakan dalam berperang. Selama ini muncul rumor kalau lompat batu itu menggunakan mejik atau kesaktian, sebenarnya tidak! mereka yang bisa melompat dari batu itu karena mereka sering latihan dan karena terbiasa, mereka melompat tanpa menggunakan ilmu kesaktian.

Setelah bertandang ke rumah adat besar dan bertemu ketua adat, kamipun melihat atraksi lompat batu itu sendiri. Seperti olah raga pada umumnya , orang yang akan melompat melakukan pemanasan terlebih dahulu, dan ketika semua sudah siap dengan kameranya masing - masing maka dia pun segera melompat, kali ini yang melompat merupakan keponakan dari Tafol Nehe, kebetulan dikeluarga ini sudah turun temurun melakukan lompat batu. Bahkan sewaktu muda Tafol Nehe ini sempat bertandang ke Jepang, Belanda dan Jerman untuk melakukan atraksi lompat batu. Kadang kalau ada acara kesenian di taman mini Indonesia indah, bapak inilah yang mengisi acara sewaktu masih muda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di desa Bawomataluo ini masih mempertahankan tradisi dan rumah adat. Tidak seperti desa - desa lainnya yang kami kunjungi (Hilinawalo Mazingo, Hilisimaetono, Botohili dan Hilimaeta) rata - rata rumahnya sudah berbahan baku semen, ini terjadi akibat gempa 8.7 SR yang terjadi Senin (28/3/2005) yang meluluh lantakan desa mereka. Memang masih ada beberapa yang mempertahankan rumah adat.

Seperti yang dibilang Tafol Nehe, "kebudayaan itu harus dijaga dan dilestarikan karena merupakan warisan budaya bangsa bahkan mungkin dunia. Sebagai bentuk penghargaan kepada nenek moyang kita" [Ida]

(travel/travel)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads