Β
Dengan segenap usaha dan keberuntungan, kami akhirnya berhasil mendapatkan penerbangan untuk keluar Fakfak hari itu dengan pesawat rute Fakfak-Ambon. Penerbangan ke Sorong akan dilanjutkan dari Ambon esok paginya.
Β
Sore hari itu kami telah berada di BandaraPattimura dan berhasil menemukan homestay yang berjarak sekitar 5 menit jalan kaki dari bandara. Murah, bersih, rapih, dan nyaman. Penginapan Dahlia namanya. Memutuskan untuk sedikit melihat kota Ambon, kami menaiki angkot merah yang lewat di depan bandara. Cukup dengan Rp.5,000 per orang sudah bisa sampai kota dalam waktu 1 jam. Untuk mobilisasi di dalam kota lalu harus pindah ke angkot berwarna kuning.
Β
Transportasi yang mudah, murah, dan meriah untuk melihat sekilas Ambon. Kota Ambon terlihat sebagai kota yang sangat rapih dan teduh di pesisir teluk. Dengan angkot merah dari bandara kita akan mengitari teluk untuk mencapai kota. Di sebelah kanan jalan ditemani pemandangan laut beserta rumah-rumah berbukit di teluk sisi seberang.
Β
Setelah puas menikmati sore dengan kopi sambil disuguhi pemandangan sunset kota Ambon di Cafe Panorama, kami memutuskan pulang. Tanpa bertanya tujuan, kami langsung menaiki angkot kuning dengan keyakinan akan melewati perempatan tujuan kami untuk kemudian lanjut dengan angkot merah. Salah!
Β
Jam 9 malam hari itu kami terdampar di terminal angkot di Ambon, Terminal Mardika. Angkot merah arah bandara sudah tidak beroperasi. Ditemani lagu Poco-Poco remix yang berkumandang keras dari ruko di belakang kami, kami mencari alternatif untuk menyewa angkot. Alternatif terbaik mengingat sewa ojek atau taksi akan terlalu mahal karena jarak yang cukup jauh. Masalahnya kami tidak melihat ada angkot merah di terminal sementara angkot kuning tidak boleh beroperasi di luar kota.
Β
Rupanya keberuntungan masih berada di pihak kami karena setelah beberapa lama kami menemukan supir angkot merah yang berbaik hati mau di-charter untuk mengantarkan kami pulang. Angkot yang sama yang membawa kami ke kota sore tadi. Dalam perjalanan pulang dengan angkot kami bahkan sempat melewati Pasar Mardika yang hidup 24 jam, yang memang letaknya bersebelahan dengan terminal. Dan petualangan singkat kami di Ambon berakhir dengan menikmati sejuknya malam di teras depan Penginapan Dahlia disertai kedipan bintang-bintang di langit.
Β
Meskipun harus merelakan kehilangan 1 hari di Raja Ampat, namun saya merasa bersyukur atas hari ini. Karena saya mendapatkan kesempatan untuk pertama kalinya menjejakkan kaki di tanah Maluku. Karena saya mendapat bonus menikmati matahari terbenam di kota Ambon. Karena mendapatkan pengalaman mengitari kota dengan angkot. Melihat sekilas kehidupan terminal angkot serta pasar Mardika di malam hari. Merasakan keramahan orang-orang yang meladeni komentar dan pertanyaan kami di angkot, serta kebaikan supir angkot yang rela bolak balik kota-bandara-kota demi mengantar kami pulang. Saya pasti akan kembali. Sampai perjumpaan berikutnya, Ambon!












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong