Saya diam saja saat Ray Robert Ongge (21) melukis dengan perlahan di atas selembar kulit kayu dengan lebar 70 x 60 centimeter. Pria asli Pulau Asei ini menyapu kuas dengan perlahan, memenuhi bidang kosong yang penuh dengan skesta pensil dengan cat hitam. Menurut Ray, lukisan yang dia bikin bermotif Melemai, berupa gambar hiu gergaji. βDulu hiu jenis ini hidup di Danau Sentani. Tapi sekarang tampaknya sudah sangat sulit ditemukan,β katanya.
Lukisan kulit kayu dari Pulau Asei memang selalu menarik perhatian saya. Motifnya sangat khas dan menggambarkan kisah sehari-hari penduduk yang tinggal di sekitar Danau Sentani. Bisa berupa mitos, ikan, alam, kehidupan, hingga motif-motif yang mengandung filosofi khusus. Salah satunya adalah motif Fov yang serupa rantai-rantai yang terkait satu sama lain. βMotif Fov ini melambangkan kekeluargaan yang erat,β kata Ray.
Saat saya tanya mulai kapan kerajinan ini bermula, tampaknya Ray tidak paham benar. βSaya bisa belajar dari saya punya ayah, kalau ayah saya bisa karena diajarkan oleh saya punya tete (kakek), begitu seterusnya,β kata Ray. Tampaknya memang kesenian melukis ini ada sejak zaman kiwari. Buktinya para penduduk Sentani purba sudah meninggalkan jejak seni pada batu-batu megalitik di situs Tutari yang penuh dengan gambar binatang dan ikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setiap lukisannya dihargai mulai dari 20.000 β 200.000 rupiah, tergantung ukuran dan motif. βKalau ini saya kasih kakak harga murah, soalnya lukisannya hanya menggunakan cat hitam,β kata Ray menjelaskan.
Tapi tentu saja Pulau Asei ini tidak hanya memiliki budaya lukisan kulit kayu. Salah satu yang menarik dari pulau ini untuk dieksplor adalah sejarahnya. Injil masuk di pulau ini sejak tahun 1923, itu juga menandai kedatangan misionaris pertama di Danau Sentani. Selanjutnya dalam rangka melakukan dakwah, para misionaris ini membangun sebuah gereja yang masih berdiri kokoh sampai hari ini.
Saya mengagumi bentuk arsitekturalnya yang kuno dengan bentuk atap yang berundak.
Untuk memperingati masuknya gereja di Pulau Asei, maka penduduk pulau membuat sebuah tanda salib besar di ujung dermaga. Sehingga tamu yang datang bisa tahu tentang sekelumit sejarah Pulau Asei.
Setelah lelah berputar-putar di pulau kecil ini, saya pun nongkrong dengan Yan Uhere (28) di ujung dermaga. Remaja berbadan tegap ini sehari-hari menembak ikan gabus di Danau Sentani. Ia dengan antusias memperlihatkan sebuah tombak berpegas yang sederhana. Dengan alat itu dalam sehari Yan bisa mendapatkan tiga puluh ekor ikan atau jika beruntung bisa lebih.
Sebelum pulang saya memintanya untuk menyelam dan memperagakan cara menangkap ikan. Ternyata Yan adalah seorang perenang ulung, seperti halnya anak lain yang tinggal di Pulau Asei. Sekali menyelam ia bisa bertahan hingga tiga menit lamanya, membuat saya kagum dengan kantong paru-parunya yang besar. Saya menunggu sambil menyiapkan rana kamera, siapa tahu Yan muncul dengan tiba-tiba. Ternyata tidak perlu waktu lama bagi seorang penduduk Asei untuk mendapat seekor ikan. Saya hitung hanya satu setengah menit dari menyelam, hingga Yan muncuk dengan seekor ikan gabus yang kelojotan di ujung tombak []












































Komentar Terbanyak
Tak Biasa, Pantai di Bantul Sepi Wisatawan Saat Libur Lebaran
Bali Kehilangan Sawah, 3 Ribu Hektare Raib dalam 8 Tahun
Turis Belanda Tewas Ditusuk di Bali, Apakah Pulau Dewata Masih Aman bagi Wisatawan?