Kalau saja saya dulu dilahirkan di kota Pontianak niscaya saya akan terlahir tanpa bayangan. Bukan hal mistis yang menyebabkan ini terjadi, hanya saja saat itu terjadi titik kulminasi matahari. Saat dimana matahari tepat berada di atas kepala. Sebuah kondisi yang menyebabkan sebuah benda kehilangan bayangan karena menyatu dengan obyeknya. Seandainya dulu saya bisa memilih tempat untuk dilahirkan, maka kota Khatulistiwa ini akan menjadi pilihan. Terlahir bersamaan dengan terjadinya peristiwa alam yang mengagumkan tentu sangat membanggakan, atau bahkan bisa menjadi pertanda bahwa saya akan menjadi orang besar.
Cukuplah membahas mengenai hal mistis yang memang masih kental di bumi Kalimantan ini. Saya akan sedikit mengulas mengenai tempat dimana saya bisa mendapat pemikiran agak nyeleneh barusan. Letaknya agak di pinggir satu-satunya kota di Indonesia yang dilewati garis khatulistiwa. Dari Bandara Supadio Pontianak, tugu yang menjadi kebanggan sekaligus simbol kota ini dapat ditempuh dalam waktu satu hari penuh berjalan kaki. Tapi saya tidak menyarankan hal itu. Selain membuang waktu dan tenaga, perjalanan anda akan sia-sia. Tempat ini hanya buka sampai sore pukul setengah lima. Oleh karena itu, sebaiknya anda menyewa sebuah mobil yang banyak terdapat di bandara. Dengan harga sekitar delapan puluh ribu rupiah, dalam waktu setengah jam anda akan tiba di sebuah tempat bernama Museum Monumen Khatulistiwa.
Saya merasa tertipu pada awalnya dan mungkin Anda juga akan mengalami hal yang sama. Oleh karena itu saya berbagi pengalaman disini dengan harapan anda tidak merasakan apa yang saya rasa. Jangan hanya melihat sesuatu dari luarnya saja, pepatah ini ternyata benar adanya. Terutama bagi saya saat melihat tugu Khatulistiwa. Monumen yang tinggi menjulang ini ternyata bukan tugu yang sebenarnya. Perasaan senang dan kagum langsung berganti rasa malu saat saya diberitahu bahwa yang saya foto dari tadi bukanlah tugu khatulistiwa yang asli. Bangunan ini ternyata hanya replika yang dibuat seperti aslinya tapi dengan ukuran yang lebih raksasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya lalu berusaha untuk memuaskan dahaga rasa ingin tahu dengan cara bertanya kepada para petugas yang siap membantu. Dengan seragam berwarna hijau kebanggan mereka, senyum ramah selalu menghiasi saat mereka menjawab setiap pertanyaan yang saya ajukan. Kemudian saya diajak mengelilingi museum untuk lebih mengetahui sejarah dan beberapa benda-benda koleksi. Banyak sekali informasi yang bisa digali dari museum yang selesai dikelilingi hanya dalam waktu sepuluh menit ini. Ringkas namun lengkap adalah dua kata itu yang paling menggambarkan museum yang diresmikan bertepatan dengan perayaan titik kulminasi matahari 19 tahun lalu ini. Untuk melengkapi kunjungan, disediakan cinderamata berupa miniatur tugu khatulistiwa yang dapat dibeli dengan harga yang cukup murah. Tentu saja saya tidak melewatkan kesempatan ini. Kapan lagi saya bisa memiliki tugu yang namanya bahkan sudah saya kenal lewat buku pelajaran di sekolah dasar.
Kota Pontianak memang terkenal dengan sebutan kota khatulistiwa, oleh karena itu belum lengkap rasanya bila sempat ke kota ini tapi belum mengunjungi tugu yang menjadi ciri khasnya. Sambutan yang ramah dan benda-benda koleksi museum yang bisa dijadikan sumber informasi, membuat tempat yang menjadi landmark kota ini sangat pantas untuk dikunjungi. Apalagi bila kunjungan bertepatan dengan perayaan titik kulminasi matahari yang biasanya terjadi antara tanggal 21-24 September tiap tahunnya. Akan banyak hal menarik yang bisa Anda dapatkan di sana. Tarian daerah, pertunjukkan seni para pemuda, dan tentu saja perayaan penyambutan hilangnya bayangan dari diri Anda. Selamat mencoba.












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru