Berkeliling Jakarta, menikmati suasana tempo dulu di Kota Tua dan Rumah Si Pitung di Cilincing, rasanya belum afdhol jika tidak melihat perkampungan Betawi Setu Babakan di Kelurahan Srengseng Sawah. Sebuah danau yang mulai mengering menghiasi kampung ini dengan pohon-pohon rindang di pinggirnya.
Di pinggir danau ini, sudah menanti para penjual jajanan khas Betawi. Seperti Kerak Telor, Toge Goreng, Soto Betawi, Soto Mie dan Roti Buaya. Tapi sayangnya saat kami di sana, hanya ada penjual Toge Goreng dan penjual soto mie. Mungkin karena bukan hari libur makanya tidak banyak yang berjualan.
Toge Goreng, cara memasak makanan ini ternyata tidak sesuai dengan namanya. Bukannya digoreng, tapi direndam dalam air panas, dicampur dengan ketupat/lontong lalu disiram kuah kacang di atasnya. Rasanya enak seperti gado-gado tapi sayurnya hanya dengan toge saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selesai makan toge goreng dan menyaksikan para nelayan yang sedang menjala ikan di tengah danau, kami melanjutkan perjalanan ke Puncak. Kami akan mengunjungi pabrik teh Gunung Mas memproduksi Teh Walini. Tapi sayang sekali tour ke dalam pabrik sudah ditutup karena kami tibanya sudah pukul tiga sore. Ingin melihat pemetik teh di atas bukit juga tidak bisa karena mereka sudah pulang.
Terakhir kami singgah di cafe yang letaknya bersebelahan dengan pabrik teh. Di situ kami membeli beberapa produk teh. Dari ibu-ibu penjualnya kami baru tahu kalau teh Walini ini adalah produk yang diekspor ke Jepang, Taiwan dan negara-negara di Eropa. Jadi teh ini tidak dijual bebas di Indonesia, hanya dijual di cafe pabrik ini.
Sekitar dua ratus meter dari kompleks pabrik, ada istal mini yang menambatkan beberapa ekor kuda. Ternyata kuda-kuda ini untuk ditunggangi. Tarifnya Rp. 30.000,- per orang. Masing-masing kuda yang kita tunggangi akan dituntun oleh bapak-bapak yang penjaga di istal. Menaiki kuda ini, saya baru mengerti kenapa berkuda menjadi salah satu olahraga. Ternyata menungganginya selama lima menit saja sudah membuat keringat mengalir.
Pak Ahmad, si pemilik kuda mengajarkan saya beberapa teknik dasar menunggangi kuda. Seperti cara memegang tali kekang, cara duduk yang benar di atas pelana dan perintah-perintah sederhana untuk berhenti, berjalan dan berlari. Untuk menyuruh kuda berlari, cukup dengan menghentakkan kaki ke perut kuda dan kendurkan tali kekang. Jika ingin berhenti, tarik kekang ke belakang. Sederhana sekali tapi melakukannya di atas kuda butuh keseimbangan ekstra karena badan berguncang dan terlonjak ke atas setiap kali kuda berlari.
Pengalaman seru berkuda sore itu mengantarkan kami ke penginapan dengan perasaan senang dan tiba-tiba ingin punya kuda sendiri.












































Komentar Terbanyak
Lagi, Finlandia Dinobatkan Jadi Negara Paling Bahagia Sejagat
Duh, Jembatan Ikonik Suramadu Jadi Sasaran Pencurian, 480 Kg Besi Raib
Hotel Legendaris di Gerbang Malioboro Kembali Beroperasi