Mengunjungi Kampung Betawi dan Berkuda di Puncak

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Citra Rahman|5419|JAKARTA & KEP. SERIBU|45

Mengunjungi Kampung Betawi dan Berkuda di Puncak

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Senin, 09 Mei 2011 11:15 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Rumah Betawi tempo dulu
Ramah tamah dengan ibu-ibu arisan di Setu Babakan
Gerobak Toge Goreng
Si Abang sedang merebus toge
Toge Goreng yang sehat ini siap disantap
Saya sedang menunggangi kuda yang dinamai Bella. Kuda yang didatangi langsung dari Lombok
Mengunjungi Kampung Betawi dan Berkuda di Puncak
Mengunjungi Kampung Betawi dan Berkuda di Puncak
Mengunjungi Kampung Betawi dan Berkuda di Puncak
Mengunjungi Kampung Betawi dan Berkuda di Puncak
Mengunjungi Kampung Betawi dan Berkuda di Puncak
Mengunjungi Kampung Betawi dan Berkuda di Puncak
Jakarta -

Berkeliling Jakarta, menikmati suasana tempo dulu di Kota Tua dan Rumah Si Pitung di Cilincing, rasanya belum afdhol jika tidak melihat perkampungan Betawi Setu Babakan di Kelurahan Srengseng Sawah. Sebuah danau yang mulai mengering menghiasi kampung ini dengan pohon-pohon rindang di pinggirnya.

Di pinggir danau ini, sudah menanti para penjual jajanan khas Betawi. Seperti Kerak Telor, Toge Goreng, Soto Betawi, Soto Mie dan Roti Buaya. Tapi sayangnya saat kami di sana, hanya ada penjual Toge Goreng dan penjual soto mie. Mungkin karena bukan hari libur makanya tidak banyak yang berjualan.

Toge Goreng, cara memasak makanan ini ternyata tidak sesuai dengan namanya. Bukannya digoreng, tapi direndam dalam air panas, dicampur dengan ketupat/lontong lalu disiram kuah kacang di atasnya. Rasanya enak seperti gado-gado tapi sayurnya hanya dengan toge saja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain menu jajanannya yang berbagai jenis, bangunan di Setu Babakan juga berarsitektur asli Betawi. Juga ada pementasan budaya Betawi setiap hari Sabtu dan Minggu. Karena kami berkunjungnya hari selasa (12/10) kami hanya melihat ibu-ibu yang sedang arisan.

Selesai makan toge goreng dan menyaksikan para nelayan yang sedang menjala ikan di tengah danau, kami melanjutkan perjalanan ke Puncak. Kami akan mengunjungi pabrik teh Gunung Mas memproduksi Teh Walini. Tapi sayang sekali tour ke dalam pabrik sudah ditutup karena kami tibanya sudah pukul tiga sore. Ingin melihat pemetik teh di atas bukit juga tidak bisa karena mereka sudah pulang.

Terakhir kami singgah di cafe yang letaknya bersebelahan dengan pabrik teh. Di situ kami membeli beberapa produk teh. Dari ibu-ibu penjualnya kami baru tahu kalau teh Walini ini adalah produk yang diekspor ke Jepang, Taiwan dan negara-negara di Eropa. Jadi teh ini tidak dijual bebas di Indonesia, hanya dijual di cafe pabrik ini.

Sekitar dua ratus meter dari kompleks pabrik, ada istal mini yang menambatkan beberapa ekor kuda. Ternyata kuda-kuda ini untuk ditunggangi. Tarifnya Rp. 30.000,- per orang. Masing-masing kuda yang kita tunggangi akan dituntun oleh bapak-bapak yang penjaga di istal. Menaiki kuda ini, saya baru mengerti kenapa berkuda menjadi salah satu olahraga. Ternyata menungganginya selama lima menit saja sudah membuat keringat mengalir.

Pak Ahmad, si pemilik kuda mengajarkan saya beberapa teknik dasar menunggangi kuda. Seperti cara memegang tali kekang, cara duduk yang benar di atas pelana dan perintah-perintah sederhana untuk berhenti, berjalan dan berlari. Untuk menyuruh kuda berlari, cukup dengan menghentakkan kaki ke perut kuda dan kendurkan tali kekang. Jika ingin berhenti, tarik kekang ke belakang. Sederhana sekali tapi melakukannya di atas kuda butuh keseimbangan ekstra karena badan berguncang dan terlonjak ke atas setiap kali kuda berlari.

Pengalaman seru berkuda sore itu mengantarkan kami ke penginapan dengan perasaan senang dan tiba-tiba ingin punya kuda sendiri.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads