Pulau Sampah Muara Angke Bersih, tapi Masih Ada PR

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Pulau Sampah Muara Angke Bersih, tapi Masih Ada PR

Devi Puspitasari, Brigitta Belia Permata Sari - detikTravel
Minggu, 07 Jun 2026 06:01 WIB
Video hamparan sampah membentuk pulau di pesisir Jakut viral di medsos. Petugas gabungan membersihkan pulau sampah tersebut. (dok DLH DKI)
Video hamparan sampah membentuk pulau di pesisir Jakut viral di medsos. Petugas gabungan membersihkan 'pulau sampah' tersebut. (dok DLH DKI)
Jakarta -

Tumpukan sampah yang sempat membentuk "pulau sampah" di kawasan pesisir Muara Angke, Jakarta Utara, akhirnya berhasil dibersihkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Namun, persoalan belum benar-benar selesai, ada sampah kiriman dari wilayah hulu.

Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekda DKI Jakarta Afan Adriansyah Idris mengatakan tantangan terbesar dalam penanganan kawasan Muara Angke adalah sampah yang terus datang dari arah hulu melalui aliran sungai.

"Tantangan terbesarnya yang pasti adalah sampah yang selalu hadir. Selalu datang dari arah hulu," kata Afan saat dikonfirmasi, Sabtu (6/6/2026), dilansir detikNews.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Afan, Pemprov DKI tidak hanya melakukan pembersihan di Muara Angke, tetapi juga mengaktifkan penanganan di wilayah hulu melalui sekat dan saringan sampah agar tidak terus bergerak menuju pesisir.

"Tapi kita terus mengaktifkan rekan-rekan yang juga ada di hulu untuk melalui sekat ataupun saringan sampah itu untuk mencegah supaya sampah tadi tidak bergerak sampai ke pesisir," kata dia.

ADVERTISEMENT

Pemprov DKI mulai melakukan pembersihan intensif sejak Rabu (3/6). Hingga Sabtu, progres pembersihan disebut telah mencapai sekitar 85-90 persen dan ditargetkan seluruh sampah di kawasan delta Muara Angke selesai diangkut pada akhir pekan.

Dalam proses pembersihan, Pemprov mengerahkan sekitar 100 petugas, dua ekskavator amfibi, dan tiga kapal pengangkut sampah. Sebanyak 8,8 ton sampah diangkut dari kawasan tersebut.

Meski kini telah kembali bersih, fenomena "pulau sampah" di Muara Angke kembali memunculkan perhatian terhadap persoalan lingkungan pesisir Jakarta. Apalagi, kawasan ini menjadi salah satu simpul aktivitas pesisir ibu kota, mulai dari pelabuhan nelayan hingga akses menuju wisata Kepulauan Seribu.

Persoalan lingkungan pesisir ini juga muncul di tengah upaya Jakarta memperkuat kawasan waterfront dan ruang publik tepi laut, seiring ambisi ibu kota memperkuat posisinya sebagai kota global dengan kualitas lingkungan perkotaan yang lebih baik.

Keberadaan tumpukan sampah masif di kawasan pesisir merusak estetika kota, mencemari ekosistem laut, dan menciptakan citra buruk di mata internasional yang sangat sensitif terhadap isu lingkungan

Kemunculan 'pulau sampah' itu juga menjadi sorotan terkait ambisi Jakarta dalam memenuhi indikator kota global. Dalam penilaian indeks kota global seperti Global Cities Index (GCI) oleh Kearney, aspek kelayakan huni (livability) dan keberlanjutan lingkungan (sustainability) kini menjadi parameter krusial penentu daya saing.

Saat ini, Jakarta berada di peringkat 71 dunia indeks kota global. Peringkat itu menunjukkan Jakarta dalam daftar kota global tingkat menengah yang sedang bertransformasi, dengan keunggulan utama pada sektor integrasi transportasi publik dan lompatan signifikan pada infrastruktur data center dan kualitas SDM.

Namun, Jakarta masih menghadapi tantangan besar yang harus dibenahi di antaranya dalam aspek kualitas lingkungan, polusi udara, serta peningkatan daya saing tenaga kerja di bidang teknologi dan riset internasional.

Nah, ketergantungan pada penanganan sampah di sektor hilir serta kebiasaan masyarakat membuang sampah ke badan air dinilai dapat membebani penilaian kualitas lingkungan hidup Jakarta di panggung internasional.

Terkait kondisi tersebut, Pemprov DKI kembali mengimbau warga untuk menghentikan kebiasaan membuang sampah ke saluran air, sungai, maupun embung karena berdampak langsung pada pencemaran lingkungan dan memicu risiko bencana banjir.

Setelah proses pembersihan selesai, Pemprov DKI menyebut akan melakukan pemantauan rutin untuk mencegah penumpukan sampah serupa kembali terjadi di kawasan pesisir Muara Angke.

Afan juga mengimbau masyarakat tidak membuang sampah ke badan air, mulai dari saluran, kali, waduk, situ, hingga embung karena berpotensi mencemari lingkungan dan memicu banjir.

"Kepada warga kami berharap agar tidak lagi membuang sampah ke badan air. Baik ke saluran, ke kali, waduk, situ ataupun embung. Bukan apa-apa, yang mengalami kerugian adalah kita sendiri," kata dia.




(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads