Saat berpetualang ke Kalbar saya mendengar celetukan orang pribumi begini, "Mungkin suatu saat kalimantan akan membuat negara sendiri". Wiihh... Seram juga rasanya kalau seperti itu. Terpisahnya satu daerah dari Indonesia berarti saya sebagai anak bangsa kehilangan kekayaan budaya yang selama ini saya banggakan.
"Kekayaan bumi kami diambil tapi akses transportasi tidak diperbaiki. Tak ada manfaat,"sambungnya. Ya, saya mengerti. Mungkin sedikit mengerti. Perjalanan kami diawali dengan menyusuri Sungai Kapuas untuk menuju desa-desa tertentu. Dan jujur itu membutuhkan waktu berjam-jam sampai pinggang saya agak pegal apalagi sebelumnya saya harus mual-mual di dalam mobil menikmati jalanan bergeronjal di sana-sini. Saya merasakan akses transportasi yang sulit di tengah kekayaan alam yang melimpah.
Pikiran negatif saya rupanya terhapus pada hari ke empat. Saat itu saya sedang singgah ke Teluk Aur. Di pagi hari saya menikmati matahari terbit dari balik pepohonan. Ada yang menarik di sana. Merah putih melambai-lambai tenang dihembus angin. "Ah, merah putihku," decak saya dalam hati. Nelayan-nelayan yang melintasi Sungai Kapuas juga banyak yang mengibarkan Merah Putih di kapalnya. Itu berarti Indonesia masih di hati mereka. Saya yakin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ndak mau. Saya sangat bangga dengan keragaman budaya dan kekayaan alam yang ada di Indonesia. Saya ndak mau kehilangan," kata Darius, pemandu wisata asli Kapuas Hulu ketika ada celetukan tidak jelas tersebut.
(travel/travel)











































Komentar Terbanyak
Bukan Hanya Wisatawan, Menkes Juga Merasa Berat Bayar Tiket Pesawat
DPR Beberkan Biang Keladi Harga Tiket Pesawat Domestik di Indonesia Mahal
Terpopuler: Biang Keladi Harga Tiket Pesawat Domestik di Indonesia Mahal