Perjalanan Menyenangkan Menuju Nanga Bungan

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Gigih Gesang|42472|KALBAR 2|38

Perjalanan Menyenangkan Menuju Nanga Bungan

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Kamis, 24 Feb 2011 11:21 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Pemandangan langit dari Sampan
Perjalanan Menyenangkan Menuju Nanga Bungan
Jakarta -

Setelah melakukan perjalanan selama 6 jam menggunakan sampan bermotor dengan kekuatan 40 PK akhirnya kami sampai di desa terakhir di hulu sungai Kapuas. Desa ini bernama Nanga Bungan dan merupakan pemukiman suku dayak Punan. Mungkin Anda membayangkan bahwa perjalanan ini sangat membosankan. Duduk berjam-jam di atas sampan tentu sangat menjemukan. Awalnya saya juga mengira demikian. Mengetahui bahwa perjalanan akan sangat lama, saya sudah menyiapkan pemutar musik untuk menghibur diri sepanjang perjalanan. Tapi ternyata hal itu tidak dibutuhkan, perjalanan berlangsung sangat menyenangkan. Bila Anda tidak percaya silahkan buktikan. Atau setidaknya silahkan lanjutkan membaca cerita ini sebagai bukti perkataan saya barusan.

Sekitar jam 11 siang tanggal 27 Oktober 2010 kami telah selesai memuat perbekalan di Lanting (rumah terapung) Dinas Perhubungan Putussibau dan siap melanjutkan perjalanan. Sebelumnya kami telah diperingatkan untuk memasukkan barang-barang kami ke dalam plastik yang sudah disediakan. Dengan menggunakan sampan bermotor tradisional, kami berlayar ke arah timur melawan arus sungai Kapuas menuju ke hulu. Matahari yang sudah agak condong ke arah barat berada di belakang perahu kami sehingga tidak menyilaukan mata. Teriknya sang surya makin menambah kayanya warna yang bisa kami nikmati sepuasnya. Rimbunnya hutan di kanan dan kiri sungai memanjakan mata dengan warnanya yang hijau menyejukkan. Dengan latar belakang gumpalan awan putih di langit berwarna biru terang tentu saja membuat makin indahnya pemandangan alam.

Di sepanjang perjalanan kami dapat menyaksikan berbagai jenis burung terbang melintasi perahu atau sekedar mencari ikan di pinggir sungai. Suara bermacam serangga bercampur dengan suara deruman motor perahu terkesan menciptakan alunan lagu yang merdu. Di dahan-dahan pohon terdapat berbagai jenis primata bergelayutan atau bahkan berteriak kepada kami seakan mengucapkan selamat jalan. Mungkin cerita ini terkesan dilebih-lebihkan, tapi sejujurnya hal inilah yang saya rasakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak dapat dipungkiri indahnya pemandangan, semilir angin yang sejuk, dan suara-suara monoton yang terus berulang dapat menina-bobokan. Tidak lama setelah perjalanan kami lakukan, saya telah terlelap dan melewatkan sebagian perjalanan. Tidak lama, hanya setengah jam saja saya tertidur, tetapi saya sempat bermimpi indah. Tepat jam satu siang saya dibangunkan untuk makan siang. Kami berhenti di sebuah dermaga di desa Lunsara kecamatan Putussibau Selatan untuk memakan bekal kami berupa nasi bungkus dengan lauk berbagai macam ikan. Tidak ingin membuang waktu lebih lama, dengan cepat makanan kami habiskan agar perjalanan dapat kami lanjutkan. Motoris atau pengemudi sampan memperingatkan agar kami bersiap karena arus sungai setelah ini akan sangat deras dan banyak jeram.

Belum lama perjalanan kami lanjutkan, arus sungai langsung membuat detak jantung saya berdetak lebih kencang. Bagaimana tidak, perahu kami terkesan jalan ditempat karena derasnya arus. Sampan pun bergerak zig-zag dari satu sisi sungai ke sisi lainnya untuk menghindari jeram dan kayu berukuran besar yang mampu menenggelamkan sampan. Kami bersyukur motoris kami termasuk handal dalam mengendalikan laju perahu sehingga kami terhindar dari kemungkinan tenggelam. Bagaimana perahu bergerak meliuk menghindari rintangan menjadi atraksi tersendiri yang sangat menarik dan menegangkan.

Setengah perjalanan terakhir lebar sungai semakin sempit. Sampan tidak lagi memiliki ruang untuk menghindari jeram. Mau tidak mau kami harus berlayar melawan jeram yang cukup besar. Sampan terombang-ambing dengan kencang, kami harus berpegangan agar tidak terjatuh dan tenggelam. Percikan air tak henti-henti menyambar muka dan tubuh kami. Jujur saja, bukan takut yang saya rasakan, tapi ketegangan yang menyenangkan. Pengalaman arung jeram di sungai Citarik jawa barat kalah seru dibandingkan pengalaman kali ini.

Sekian cerita dari saya, semoga cukup menggambarkan ketegangan dan kesenangan yang kami rasakan. Bila Anda merasa cerita kami ini kurang dapat mewakili, saya sarankan untuk langsung datang ke tempat ini dan merasakannya sendiri. Untuk petualangan selama 2 hari 2 malam di Nanga Bungan, biaya yang dikeluarkan adalah 7 juta rupiah untuk satu rombongan dengan jumlah hingga tujuh orang. Perjalanan menuju tempat petualangan saja sudah sangat seru dan menyenangkan, apalagi pengalaman tinggal dan mengikuti aktifitas suku dayak Punan, saya yakin pasti akan lebih menngagumkan. Saya tidak sabar untuk segera bertualang di tempat ini dan menceritakan kembali pengalaman yang saya rasakan. Saya akan menuliskan kembali untuk Anda nanti, selamat menanti.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads