Itulah empat bait kata potongan lagu Aku Papua karrya Franky Sahilatua yang dibawakan Edo Kondologit. Bait demi bait menggambarkan betapa dahsyat alam Papua. Hingga seorang Frangky Sahilatua menuangkannya dalam syair lagunya. Sebagai seorang yang telah menggeluti duania petualangan lebih dari 20 tahun, Papua adalah salah satu daerah di wilayah timur yang belum pernah saya kunjungi sama sekali. Melalui program Aku Cinta Indoensia (ACI) sDetikcom kesempatan yang tidak pernah saya duga itu datang.
Seperti halnya saya, partnert saya, Erwin, juga mempunyai semangat yang sama untuk mengenal lebih jauh tentang Papua. Selasa, 12 Oktober 2010, kami pun tiba di Merauke setelah menempuh penerbangan selama hampir 10 jam dari Jakarta. Petualangan selama 14 hari lamanya pun di mulai dari kota bersejarah ini.
Mulai dari Merauke, Wasur, Kumbe, Agats, Asmat, Senggo, Basman, Korowai, Sentani, Jayapura dan beberapa daerah sekitarnya kami jelajahi. Berbagai moda transportasi mulai dari pesawat jenis Twin Otter, Cesana Caravan, Speedboat, kapal hingga trekking kami lakukan. Berkali-kali terbang di udara, menyusuri laut, sungai dan rawa kami jalani. Sulitnya komunikasi hingga terkendalanya transportasi menjadi bagian dari petualangan yang tidak terpisahkan.
Mengenal Bumi Cendrawasih selama 14 hari memang tidak akan cukup. Namun, setidaknya selama dua pekan itu, kami dapat mengenal betapa tanah Papua ini begitu memesona. Alamnnya begitu natural. Sungai-sungainya yang besar dan meliuk-liku bagaikan ular. Hijau hutannya yang asri. Aneka satwa serta tumbuhannya yang unik dan bahkan beberapa diantaraany endemik hanya berada di wilayah ini merupakan bagian dari kekayaannya. Keunikan dan kekhasan kebiasaan masyarakatnya yang berbeda-beda di setiap daerah. Berbagai kreatifitas seninya yang menawan. Semuanya serba eksotis. Termasuk tentunya aneka kulinernya yang khas.
Kenangan lain yang tidak bisa terlupakan dan membuat rindu untuk kembali adalah keramahan masyarakatnya. Senyum tawa anak-anak yang tulus. Bahagia rasanya dapat mengenal mereka. Walaupun pertemuan kami begitu singkat, namun rasa persaudaraan begitu terasa ketika kita akan berpisah. Terlebih pada tempat dimana kami dapat bermalam dan bercengekarama langsung dengan mereka.
Petualangan selalu membentuk kepribadian setiap orang. Pengalaman-pengalaman selama berpetualang akan memperkaya jiwa kita. Seperti halnya yang saya dan Erwin rasakan. Inilah untuk pertama kalinya kami berdua melakukan petualangan bersama semenjak diperkenalkan melalui Program ACI Detikcom. Rasa persahabatan dan persaudaraan kami pun timbul disini layaknya dua orang sahabat yang telah kenal lama.
Seperti bait-bati syair lagu yang dinyanyikan Edo Kondologit, segala yang ada di Papua memang mungkin ‘Surga Kecil Yang Jatuh ke Bumi’. Tanah dan batu di dalamnya merupakan harta harapan yang tidak ternilai. Di tanah Papua kami mendapatkan banyak teman dan saudara baru. Juga tentunya persahabatan kami berdua.
Papua kami akan selalu merindukanmu. Suatu saat kami akan kembali. Berawal dari ACI kami akan kenalkan kepada dunia bahwa engkau memang indah dan eksotis. Tidak hanya mutiara hitam bahkan lebih dari itu. Engkau adalah Black Diamond.












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong