Saya Tidak Takut Dengan Terik Panas Matahari
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Christina Sugihwati|4670|NTT 1|24

Saya Tidak Takut Dengan Terik Panas Matahari

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Selasa, 08 Mar 2011 10:52 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Terima kasih Optikseis. Terima kasih XL.
Saya Tidak Takut Dengan Terik Panas Matahari
Jakarta -

Menurut rencana perjalanan yang diberikan panitia ACI, jadwal kami hari ini (13/10/10) adalah berkunjung ke Desa Lama yang terletak di bawah kaki Gunung Ille Ape (baca: Ille Api). Hujan yang tejadi bebeapa hari terakhir dan kondisi jalan yang masih 'off road', memaksa kami mengubah rencana perjalanan yang diberikan. Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Desa Lamalera di selatan Pulau Lembata.

Ada kendaraan reguler untuk mencapai desa ini, yaitu dengan naik truk seharga Rp. 25.000/orang yang berangkat dari Terminal Barat Waikomo di Lewoleba atau menyewa kendaraan 4WD milik Pak Fidelis seperti yang kami lakukan. Jika memilih opsi pertama, maka perjalanan pulang harus dilakukan pada pukul 03.00 pagi, jam keberangkatan truk ke Lewoleba.

Akses kendaraan masih sulit karena kondisi jalan yang tidak mulus, berbatu dan banyak lubang besar. Tidak disarankan memakai city car kecuali siap dengan segala resikonya. Tiga jam perlu kami tempuh untuk tiba di tujuan. Langit biru, hijaunya perpohonan dan teriknya sinar matahari di siang itu menjadi kombinasi pas di sepanjang perjalanan kami. Meski sengatannya cukup tajam, saya tidak takut untuk menikmati hari. Optikseis telah membekali saya sebuah kacamata hitam dengan 40% UV protection. Tidak hanya itu, untuk melindungi kepala - XL memberikan saya sebuah topi cantik.

Desa Lamalera terkenal dengan mata pencahaian penduduknya yaitu memburu ikan paus atau ikan yang berukuran besar lainnya. Menurut Pak Philipus, penduduk Lamalera yang menumpang mobil kami, terkadang mereka menangkap lumba-lumba atau ikan pari. Karena ikan yang dapat ditangkap hanya ikan cakalang atau ikan tebang yang keduanya tidak dapat bertahan dalam waktu lama. Sehingga sisanya menjadi makanan babi, jika tidak habis dikonsumsi. Atau mereka akan membawa hasil tangkapan untuk ditukarkan dengan hasil pertanian di Pasar Barter, Desa Wulandoni. Pasar ini hanya dibuka setiap hari Sabtu dari pukul 09.00 hingga pukul 13.00. Para pembeli dan penjual wajib membayar retribusi berupa barang sebelum masuk ke area pasar. Transaksi terjadi ketika pluit dibunyikan oleh seseorang yang bertugas untuk menjaga kelancaran proses barter di pasar tersebut.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads