Sore itu saya terbangun dari tidur panjang dalam perjalan menuju Waingapu, ibukota Sumba Timur (17/10/10). Perjalanan memang akan kami mulai dari wilayah paling timur hingga barat Sumba. Segera setelah pesawat mendarat di Bandara Tambolaka, kami pun melaju ke arah timur Sumba agar tidak tiba larut malam karena kurang lebih 5 jam perjalanan yang harus kami tempuh.
Saya menyesuaikan diri dengan keberadaan. Cuaca di luar tidak bersahabat, hujan rintik mengiringi perjalanan kami. Pepohonan hijau yang saya lihat sebelum tidur ternyata telah digantikan dengan bukit sabana yang berwarna kuning. Alang-alang nampak menghias di kanan-kiri jalan. Pohon tidak serapat sebelumnya, hanya terdapat satu atau dua saja yang tumbuh berjauhan. Waktu menunjukan pukul 17.00 WITA, matahari pun telah bersiap kembali ke peraduannya.
Saya merasakan pegal di seluruh tubuh. Saya membutuhkan tempat istirahat. Lama kami berkendara, hingga akhirnya terlihat ada sebuah gubuk di sisi kiri jalan yang menuju ke arah Waingapu. Saya meminta kendaraan dihentikan dan keluar dari mobil. Saya renggangkan tubuh dan menghirup udara dalam-dalam sambil menatap indahnya matahari di belakang saya. Sungguh menenangkan jiwa.
Ketika saya berbalik, saya pun berteriak kencang. "Ada pelangi!" sambil menunjuk ke langit. Itu adalah pelangi kedua yang kami temukan, namun kali ini lebih indah - luar biasa. Saya girang sekali hingga Pak Yoakhim memberi julukan "orang gila baru". Saya teringat cerita yang didongengkan mama tentang Joko Tarub. Pelangi adalah tangga para bidadari untuk turun ke bumi. Dan perkataan teman saya bahwa jika menemukan ujung pelangi, maka semua keinginannya akan terwujud. Teman lain berkata bahwa perjalanan saya diberkati.
Apapun dongeng atau mitos dibalik keberadaan pelangi, saya memang sangat bersyukur karena saya dapat berada di sana dan untuk menikmati keindahan Tuhan. Kesehatan dan kekuatan telah Ia berikan agar saya mampu melakukan perjalanan dengan jadwal padat. Lelah, capek dan semangat yang mengendur sudah saya rasakan setelah satu minggu berlalu. Namun, saya merasa disegarkan kembali dengan sapaan-Nya.












































Komentar Terbanyak
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Nyeleneh! Jemaah Zikir di Candi Prambanan: Mau Lepaskan Kutukan Roro Jonggrang
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru