Β Β Β Β Pukul 17.30 WITA, kami sampai di Long Bagun setelah menempuh perjalanan selama 6 jam menggunakan ktingting-semacam loang boat yang menggunakan speed-. Degap-degup tabuhan gendang memenuhi suasana malam ini. Ini adalah malam ke-29 dari pesta ritual warga lokal menyambut masa penanaman padi.
Β Β Β Ritual ini dilakukan oleh semua warga, anak kecil, remaja, ibu-ibu, pria dewasa, dan juga lansia. Mereka berbaur dalam satu suasana riang mengharmonisasikan detakkan kaki dengan nada gendang. Dep! Dep! Dep!
Β Β Β Mereka bernyanyi dan menari. Menggunakan kostum-kostum khas dayak. Kebanyakan dari mereka adalah keturunan dayak Bahau Busang. Beberapa orang menggunakan kostum yang terbuat dari rumbai-rumbai tali rapia dan juga dedaunan-biasanya menggunakan daun pandan dan daun pisang-. Sebut saja Ryan, anak pemilik penginapan kami, ia sibuk mengenakan kostum rumbai-rumbai tali rapia berwarna biru langit, lengkap dengan topeng kayu yang dipenuhi bulu burung elang Borneo diatasnya. Kostum ini telah dipakainya sebulan terakhir ini. Ia memerankan tarian burung elang Borneo. Setelah siap, ia pun melangkahkan kakinya menuju lamin utama kecamatan Long Bagun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β Β Β Ritual ini diadakan setahun sekali selama sebulan penuh berbarengan dengan hut Kota Long Bagun. Mulai dari pagi hari hingga tengah malam.
Β Β Β sayang kami tidak dapat menyaksikan hari terakhir ritual tersebut yang akan diadakan besok malam karena kami harus melanjutkan perjalanan ke hulu terakhir sungai Mahakam di Long Apari.












































Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun