Memanjakan Lidah di Aceh (Bagian 3) Teroris Kenikmatan

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Wahid Masrukan|841|NAD|10

Memanjakan Lidah di Aceh (Bagian 3) Teroris Kenikmatan

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Rabu, 08 Des 2010 19:47 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Nipan, kemasannya mirip nagasari, rasanya mantab.
Memanjakan Lidah di Aceh (Bagian 3) Teroris Kenikmatan
Jakarta - Nagasari apa lemet? Inilah pertanyaan kami saat pertama kali menggigit jajanan tradisional ini. Meski sama-sama dibalut daun pisang, rasanya membuat penasaran. Ada pisangnya, ada legit sagu dan manis gula merah yang tersaru dalam kelapa muda parut. Apakah ini?


Hal paling pantang dilakukan saat berwisata kuliner adalah berprasangka. Inilah bagian terberat yang paling susah diabaikan terutama saat lelah dan kenyang mulai mendera. Siang itu begitu terik di Takengon, panas menyengat matahari dipadu dengan kelembaban tinggi membuat kulit lebih legam tanpa disadari. Sembari menanti pacuan kuda berikutnya, kami ngaso di salah satu kedai yang ada di pinggir lapangan.


Usai menenggak es teh manis untuk mengusir haus yang mendera. Kami melihat setumpuk jajanan tradisonal terhidang di meja. Dari bentuknya sih mirip nagasari, lonjong dan lebar dibalut daun pisang muda yang telah lunglai dikukus. Berawal dari penasaran, Pakdhe Wahid menelanjangi bungkus tersangka β€œNagasari.”


β€œWaaah bukan nagasari, ini mah lemet. (makanan tradisional Jawa yang terbuat dari parutan singkong dipadu gula merah-red).” Teriak Pakdhe Wahid. β€œDi Jawa udah umum yang kayak gini. Apa istimewanya” gerutunya. Tetapi sesaat setelah menggigit terduga β€œLemet”, komentar baru pun langsung meluncur. β€œEh bukan ding, rasanya beda. Ini bukan lemet juga bukan nagasari.” Lah kalo begitu opo?


Saat digigit rasa dominannya adalah pisang, pisang raja yang manis. Namun kami tak menjumpai sebatang pun pisang raja di dalamnya. Yang terlihat hanyalah balutan tepung sagu berwarna coklat dengan parutan kelapa dicampur gula di tengahnya. Gigitan berikutnya langsung disusul dengan kunyahan tanpa henti yang menewaskan tersangka β€œTeroris kenikmatan”.


Dua nipan rasanya tak cukup. Sebelum berlanjut ke korban teroris salah sasaran selanjutnya. Rasa penasaran yang menggoda memaksa kami untuk bertanya ke penjualnya. Dan ternyata jajanan yang meneror lidah kami ini bernama Nipan. Ya, Nipan adalah jajanan tradisional khas Gayo. Dibuat dari gilingan pisang raja, dipadu dengan tepung sagu yang dilarutkan dengan gula merah cair. Adonan kental ini kemudian ditaruh diatas selembar daun pisang muda . Di tengahnya disisipkan parutan kelapa muda yang dicampur dengan gula putih. Sebelum daun pisang disunting, satu bagian adonan ditambahkan untuk membuat Nipan tampak padat montok tampak saat disantap. Setelah dikukus kurang lebih 45 menit, Nipan yang tampak cantik ini siap dihidangkan.


Spektrum rasa Nipan memang unik. Pisang giling dalam adonan membuat hidung dan lidah menjadi tak sinkron. Bagi kita yang terbiasa menikmati pisang goreng dan nagasari, aroma pisang yang wangi selalu diikuti dengan gigitan embut buah pisang. Tak demikian dengan Nipan. Anda akan dibuat penasaran untuk mencari asal muasal rasa pisang sementara gigi memotong legit adonan sagu. Saat lidah mulai beradu dengan parutan kelapa muda bercampur gula, semburat manis bercampur tekstur kelapa muda muda yang kasar akan mengajak lidah Anda menari-nari.


Nipan setidaknya telah mengajarkan kami sesuatu saat mereview kulinari tradisional. Jika sebelumnya kami menganut hukum don't judge the food by its smell and size, kini saatnya kami menambahkan aturan baru. Don't judge the food by its cover, smell and size. Hal ini penting agar kita tak lagi terperdaya oleh β€œTeroris kenikmatan” seperti Nipan yang membuat kami menandaskan sepiring saji 6 Nipan tak bersisa. (Taufiq-Wahid)

Β 

Harga per nipan Rp. 1.000.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads