Mereka Bilang itu Popcorn dan Cornflakes (Seri Kearifan Lokal#2)

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Muhammad Lukman Hakim|1885|NTT 1|24

Mereka Bilang itu Popcorn dan Cornflakes (Seri Kearifan Lokal#2)

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Rabu, 08 Des 2010 21:56 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Tungku perapian jagung titi
Pak Yosef meniti jagung
Batu ibu dan batu anak
Mama Ana dengan cucu
Dapur mama Ana tampak depan
Mereka Bilang itu Popcorn dan Cornflakes (Seri Kearifan Lokal#2)
Mereka Bilang itu Popcorn dan Cornflakes (Seri Kearifan Lokal#2)
Mereka Bilang itu Popcorn dan Cornflakes (Seri Kearifan Lokal#2)
Mereka Bilang itu Popcorn dan Cornflakes (Seri Kearifan Lokal#2)
Mereka Bilang itu Popcorn dan Cornflakes (Seri Kearifan Lokal#2)
Jakarta -

Pulau Flores yang menjadi bagian Indonesia timur, memiliki keadaan geografis yang beraneka ragam. Kita dapat menemukan dinginnya udara pegunungan di wilayah tengah Pulau Flores, kita dapat merasakan indahnya laut dan semilir angin pantai yang mengelilingi pulau ini kapan saja. Namun, dibagian Pulau Flores sebelah timur, keadaan geografisnya tidaklah memadai untuk dijadikan lahanΒ  persawahan. Karena tanahnya kering dan berbatu. Suhu yang panas, meskipun tidak sepanas menyengat temperatur kota Surabaya tempat saya tinggal. Lahan yang masih luas, susah sekali untuk dicangkul karena tekstur tanah yang berbatu, dan masih banyak dijumpai batu - batuan gunung yang besar. Tidak seperti kebanyakan lahan yang berada di Pulau Sumatera, Jawa, Bali dan pulau - pulau lain di Indonesia.

Pilihan yang arif untuk lahan seperti ini adalah ditanami palawija dan umbi - umbian. Dan itu yang dilakukan oleh orang - orang dari Flores bagian timur. Karena itu yang hanya bisa menjadi pilihan, tanpa bisa menolak dan menggugat hasil karya Sang Raja - diraja.

Beberapa saat yang lalu, kami mengunjungi sebuah kampung di timur kota Larantuka. Sebuah kampung adat yang mulai tergerus oleh laju gerak modernisasi. Rumah - rumah kayu mulai tergantikan dengan rumah permanen berbahan dasar semen. Sisa sisa adat yang bisa kami temui disana hanyalah sebuah tanah lapang. Tanah lapang yang kiri kanannya memiliki garis pembatas batu - batuan ceper yang tertumpuk rapi. Ditanah lapang itu terdapat meja besar yang terbuat dari batu - batuan yang tersusun rapi, dan dikelilingi dengan kursi - kursi raja dari batuan sejumlah 8 buah. Itulah sisa - sisa romantisme kejayaan masa lalu yang tersisa di desa ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian atas saran dari bapak Yoseph selaku kepala dusun, kami berlanjut berkunjung menemui mama (ibu) Ana Jawaketan di sebuah pondok kecil berukuran sekitar 4 x 5 meter. Pondok kecil yang berada disamping sebuah rumah permanen ini ternyata berfungsi sebagai dapur untuk memasak makanan sehari hari. Di dapur kecil ini, sebuah tungku terpasang perapian yang diatasnya terdapat sebuah gerabah yang rusak separuh. Gerabah yang sepertinya sudah menjadi saksi kehidupan dari keluarga mama Ana. Kami mengobrol di dapur ini bersama mama, sembari mengobrol dia duduk di depan tungku dan memasukkan sedikit biji jagung diatas gerabah yang kayunya mulai terbakar dengan api kecil merata.Β 

Ternyata dia akan membuat makanan berbahan baku jagung. Makanan yang biasa disebut dengan jagung titi oleh orang - orang Flores Timur. Sembari menunggu jagung, kami bertanya seputar cuaca di kota Larantuka akhir - akhir ini. Karena itu pertanyaan yang aman untuk memulai sebuah percakapan. Hujan mengguyur akhir - akhir ini di kota Larantuka dan sekitar Flores Timur, mungkin ini efek dari global warming, yang membuat cuaca berubah - ubah.

Tanpa kami sadar, terdengan suara 'kretek - kretek - kretek' (pelafalannya bukan seperti pada rokok kretek) dari atas tungku itu. Mama Ana mengambil beberapa biji jagung yang sudah berwarna agak kekuningan dengan tangannya, "tidak terasa panas", kata dia. Biji jagung itu diletakkan pada satu batu kokoh yang rata seukuran piring makanan atau mungkin sedikit lebih lebar. Biasa disebut sebagai batu ibu. Satu persatu jagung itu diletakkan pada batu landasan, kemudian butiran itu ditumbuk dengan menggunakan batu lonjong yang disebut batu anak. Proses menumbuk ini ternyata dinamai dengan titi, atau ditumbuk. Jadilah jagung titi pertama kami buatan mama Ana.

Bentuk dari jagung titi sekilas mirip dengan cornflakes, namun rasanya seperti rasa pada popcorn tawar. Tipis, bulat melebar dan berwarna putih kekuningan. Ketika kami makan, empuknya seperti empuk pada popcorn.Diperlukan kecepatan, ketepatan dan keakurasian dalam meniti jagung. Sekali tumbuk harus sudah jadi. Karena salah sedikit bisa tertumbuklah tangan, pasti sakit sekali rasanya. Jangan anda bayangkan kalau jari tangan tertumbuk batu yang disebabkan oleh jari tangan yang lainnya.

Ternyata jagung titi ini adalah makanan pokok masyarakat setempat sebelum beras menjadi populer untuk dikonsumsi bagi masyarakat di wilayah ini. Pada masa lalu, setiap hari mama Ana akan membuat jagung titi untuk dimakan bagi keluarga. "Beras mulai menjadi populer sebagai bahan makanan pokok rakyat Indonesia di jaman Orde Baru", begitu kata pak yosef sang kepala dusun. Jagung titi biasanya dimakan dengan ikan dan sayur yang berkuah, terkadang hanya dicampur air saja. "Bagi kami, rasa bukan no 1, yang penting perut kenyang", ujar beliau. Terkadang ditaburi dengan garam untuk menghilangkan rasa tawarnya, tanpa ada bumbu - bumbu lain.

Tradisi memakan jagung titi sepertinya tidak akan pernah hilang, meskipun saat ini hanya menjadi makanan selingan atau cemilan. Namun, disatu sisi ada ketahanan pangan yang telah disesuaikan oleh penduduk lokal dengan hasil bumi mereka apabila beras mulai sulit untuk didapat.

Artikel ini dimuat untuk memperingati Hari Ketahanan Pangan 16 Oktober.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads