Dengan menempuh perjalanan 2,5 jam kearah selatan dari Kota Soe, kami menjumpai perkampungan Suku Soe, suku yang berada di Pulau Timor ini masih mempertahankan tradisi serta adat istiadatnya.
Keramahan dari Suku ini telah nampak pada saat mobil yang membawa kami memasuki pintu perkampungan suku Boti, nampak seorang lelaki remaja Suku Boti berlari tepat disamping mobil kami sambil berbicara kearah kami dengan senyum seolah menyambut kami untuk datang ke tempatnya. Begitu kami tiba, seketika datang 4 orang pemuda yang langsung menyapa kami dan kami membalas sapaan mereka dengan berjabat tangan dan mengucapkan 'Salam'. Senyum khas mereka menyambut kami sore menjelang senja kala kami tiba dan segera mereka membantu kami membawa barang-barang bawaan kami.
Selanjutnya perjalanan kami lanjutkan menuju rumah Raja untuk melaporkan kedatangan kami. Kami menuruni tangga karena Rumah Raja berada dibawah dan karena hari sudah menjelang senja, kami tidak dapat jelas memperhatikan kiri dan kanan jalan, namun sekilas kami bisa menyaksikan kebersihan dari pekampungan Suku Boti dari tertata rapinya jalanan menuju Rumah Raja. Tiba di Rumah Raja kami harus menunggu beberapa saat sebelum Raja keluar, dan kami menunggu di teras rumah bersama beberapa pemuda yang mengantarkan kami tadi serta pemandu lokal kami.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tempat sirih yang berisi pinang dua buah serta sirih dua buah ini kami letakkan di meja tepat di depan Raja Namah Benu, setelah terjadi pembicaraan maka Raja segera membalas ucapan dari pemandu lokal kami dan mengambil sirih, pinang serta uang yang berada di dalam tempat sirih didepannya. Hal ini menandakan bahawa kedatangan kami diterima oleh Raja dan masyarakat Suku Boti. Setelah itu kami bersalaman dengan Raja dan beberapa masyarakat yang ada di rumah Raja.
Selanjutkan kami diundang untuk menikmati hidangan selamat datang berupa minum teh dan mencicipi pisang goreng yang telah disediakan. Setelah penyambutan, kami menuju Homestay kami yang berada sekitar 150 meter dari Rumah Raja.
Selanjutnya kami akan diundang untuk makan malam, tepat pukul 20.00 seorang Haef atau utusan mendatangi kediaman kami untuk mengundang kami makan malam di Rumah Raja. Keunikan yang kami jumpai adalah alat makan yaitu, piring, gelas dan sendok semuanya terbuat dari tempurung kelapa. Hal ini menambah sensasi tersendiri saat kami menikmati hidangan santap malam yang telah disediakan. Dan sebagai penghormatan bagi tamu, Raja dan orag-orang yang ada ditempat itu mempersilahkan kami makan terlebih dahulu sedangkan mereka akan makan setelah kami makan.
Kesederhanaan serta penghormatan yang nampak saat kami makan, remaja putri yang melayani kami makan duduk bersila dibawah meja makan, hal ini sebagai penanda bahwa mereka menghormati tamu yang sedang makan.
Setelah menikmati makan malam, kami lanjutkan berbincang-bincang dengan Raja serta beberapa masyarakat yang berada di Rumah Raja. Tepat pukul 21.00, kami pamit untuk beristirahat dan kembali ke Homestay kami. Kesederhaan serta keramahan dari penyambutan Raja serta masyarakat Suku Boti membuat kami bahagia bisa diterima berada di perkampungan mereka.











































Komentar Terbanyak
Viral Bule Inggris Menangis Lihat Sampah, Bukit Pergasingan Langsung Ditutup
Viral Sawah Bergaya Sabana di Prambanan, Petani Protes Lahan Jadi Tempat Bikin Konten
Petaka Selfie, Turis Tewas di Tebing Pantai Semeti Lombok