Tujuan kami kesana adalah terowongan menyerupai gua, berada di bawah jembatan tanah yang dikenal dengan Gua Green Canyon. Untuk mencapai gua tersebut, kami harus menyusuri sungai Cijulang menggunakan perahu yang penduduk setempat namai dengan ketinting. Perahu ini hanya mampu ditumpangi oleh 5 penumpang, waktu itu harganya 75 ribu per perahu. Tidak terlalu mahal bukan? Dan karena waktu itu kami berenam, maka dijadikan satu tim (satu perahu). Waktu yang diperlukan untuk melakukan perjalanan yang dimulai dari dermaga Ciseureuh menuju gua kurang lebih 30 menit.
Di sisi aliran sungai Cijulang, kami dapat menikmati banyak tebing bukit yang ditumbuhi hijaunya pepohonan yang rimbun dan bebatuan yang menghiasi tebing tsb. Perjalanan tidak akan membosankan karena pemandangan yang indah dan santainya menikmati aliran sungai. Naik ketinting juga dapat menciptakan keunikan tersendiri, khususnya bagi yang menyenangi air. Di sepanjang sungai, bila beruntung beberapa kali saya melihat beberapa ekor biawak yang terlihat nemplok di pepohonan. Kedalaman sungai ini menurut guide bisa mencapai 7 meter. Sedangkan di Green Canyon sendiri bisa sampai 4 meter.
Saat hampir sampai, jalur masuk perahu akan menyempit, karena terhalang oleh bebatuan besar di mulut gua Green Canyon, sehingga perahu harus bergantian untuk bisa memasuki jalur ini. Untuk itu disediakan pengatur yang memberi arahan untuk para pengemudi perahu agar dapat melaju dengan tertib.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemandangan yang indah siap menanti setelah kami turun dari perahu. Saya dapat menikmati sisi gua yang kokoh dengan melihat stalagtit dan stalagmit yang masih meneteskan air. Air terus menerus dikeluarkan di tebing sehingga daerah ini disebut sebagai daeah hujan abadi. Saya juga dapat berenang dalam gua dengan menggunakan pelampung. Kami merasakan air yang terasa dingin dan menyegarkan. Pemandangan semakin mempesona ketika menyaksikan air terjun Palatar yang terdapat dalam Gua Green Canyon. Pemandangan stalagtit dan stalagmit yang eksotis, ditambah percikan air yang menetes, dan cahaya matahari yang menerobos masuk ke dalam melewati tebing tak beratap memberikan pemandangan yang cantik. Wawwww....!!!
Menyusuri aliran air harus berhatii-hati, karena arus yang cukup deras, bisa saja terseret. Belum lagi batu-batuan di dasar membuat kaki bisa terluka bila tidak berhati-hati. Ada sebuah bagian di mana air cukup deras, sehingga kami harus meniti pada dinding tebing.Dengan berpegangan pada celah-celah batu, mengingatkan saya pada olah raga panjat tebing yang bertumpu pada kekuatan jari. Bila tidak berhati-hati, saya juga bisa terluka karena beberapa permukaan batu yang tajam.
Selanjutnya guide menggirin kami untuk menaiki tebing-tebing tinggi tersebut dan mencapai suatu kolam kecil di atas tebing dimana airnya berasal dari tetes-tetes air yang tertampung di dalam cekungan. Cekungan ini sering disebut dengan Kolam Putri. Diyakini dulunya dijadikan sebagai pemandian seorang Putri. Untuk menuju ke sana, kami harus memanjat tebing setinggi sesayar 5 meter dengan bebatuannya yang licin, disarankan untuk lebih berhati-hati. Konon dipercaya bila menyelam sambil menahan napas di kolam ini maka akan awet muda. Air di kolam ini dingin, jernih dan segar, selain itu dari atas sini kami dapat melihat pemandangan yang indah. Benar-benar luar biasa!
Puas berendam di Kolam Putri, kami akan kembali ke perahu dengan cara berenang kembali menyusuri air dan arus yang deras. Kami menikmati mengapung dengan telentang dan membiarkan badan terseret arus sembari menikmati pemandangan di atap gua. Bener-bener indah!
Kami juga akan ditawari untuk melakukan loncat indah dari sebuah batu besar ketinggian 4 meter disebut batu payung. Melompat dari batu ini tentu akan memicu adrenalin tersendiri. Bayangkan melompat dari 4 meter dengan pemandangan di bawah berupa aliran air yang deras dan beberapa batuan besar, tentu saja memerlukan ketelitian dan keterampilan yang tinggi. Namun hal tersebut aman karena tidak sedikit juga wisatawan yang melakukannya.
Berenang di air yang dingin sambil menikmati tebing-tebing tinggi dan melihat stalagtit dan stalagmit yang begitu banyak dan tingi-tinggi, bagi saya merupakan pengalaman tersendiri yang tidak terlupakan. Selanjutnya perjalanan pulang akan menggunakan perahu kembali dan kami menikmati angin yang berdesir dan sinar matahari yang mengeringkan tubuh dan pakaian kami yang basah.
Sedikit catatan: sebaiknya berkunjung ke daerah ini pada musim kemarau karena pada musim tsb, air sungai Cijulang berwarna hijau tosca. Sedangkan pada musim hujan, saat curah hujan tinggi, air sungai berwarna coklat.
(travel/travel)












































Komentar Terbanyak
Waspada! Ini Daftar Pangkalan Militer AS di Seluruh Dunia yang Harus Kamu Tahu
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5
Daftar Negara Teraman Andai Terjadi Perang Dunia III, Ada Indonesia?