Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 31 Jan 2022 14:15 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menengok Warisan Budaya Cina Benteng di Tangerang

Santy
d'Traveler
Benteng Heritage
Benteng Heritage
Boen Tek Bio
Boen Tek Bio
Museum Pustaka Peranakan Tionghoa
Museum Pustaka Peranakan Tionghoa
Azmi Abubakar, yang mendirikan museum Pustaka Peranakan Tionghoa
Azmi Abubakar, yang mendirikan museum Pustaka Peranakan Tionghoa
Salah satu koleksi museum Pustaka Peranakan Tionghoa
Salah satu koleksi museum Pustaka Peranakan Tionghoa
detikTravel Community -

Tangerang memiliki kawasan pecinan, Cina Benteng.

Saya datang dan menetap di kota Tangerang pada 2005. Tangerang adalah kota yang belum saya kenali sama sekali. Saya hanya sekadar tinggal, melewati jalan-jalannya, melakukan tugas di jemaat.

Saya tak tertarik memiliki niat mencari tahu apa dan siapa Tangerang. Dalam benak saya, Tangerang jauh dari menarik. Baru pada 2018, saya memulai berkenalan lebih dalam dengan kota ini.

Dari beberapa tempat yang saya kunjungi, saya ingin bercerita perjalanan pada tahun 2019 menyusuri lebih detail Kawasan Pasar Lama.

Pasar Lama ternyata bukan sekadar tempat kulineran yang digemari sejak pagi sampai malam. Ada kisah di balik jalan, rumah, kelokan pasar, hingga stasiun kereta di kawasan itu. Kawasan Pasar Lama Tangerang dan sekitarnya dikenal sebagai "titik nol" Tangerang.

Di sana, pengaruh budaya Tiongkok terlihat mulai bangunan rumah, toko, jajanan makanan, musik, hingga masjid dengan menara mirip pagoda. Di sekitarnya juga ada bangunan tua, yaitu klenteng umat Konghucu, Budha, dan Tao. Namanya, "Boen Tek Bio".

Dari kawasan Pasar Lama menuju Boen Tek Bio menyusuri jalan yang sempit, cukup dengan berjalan kaki atau dengan menggunakan kendaraan bermotor roda.

Klenteng Boen Tek Bio dibangun sekitar akhir abad ke-17 atau awal abad ke-18. Saya masuk ke bangunan tersebut melihat orang-orang khusuk beribadah dengan mengangkat hio dan menundukkan kepala. Asap hio memenuhi ruangan dengan aroma yang harum.

Saya melihat ada beberapa orang tampak khusuk beribadah dengan sikap bersujud. Dekat tempat itu ada beberapa tong mengeluarkan asap. Tong itu adalah tong pembakaran kertas.

Saya masih ingin berkeliling memperhatikan beberapa benda yang menarik perhatian, tetapi hujan turun cukup deras. Saya duduk dekat tong pembakaran kertas, sambil melihat para pengunjung orang sigap mencari tempat berteduh.

Tak jauh dari tempat itu juga terdapat Museum Benteng Heritage. Bangunan ini awalnya adalah rumah tinggal yang dibangun pada pertengahan abad ke-17.

Rumah itu kemudian dibeli oleh Udayana Halim pada tahun 20009, lalu direstorasi menjadi museum pada November 2011.

Di dalam museum tersimpan begitu banyak benda-benda bersejarah yang menceritakan kehidupan etnis Tionghoa. Benda-benda bersejarah itu juga menceritakan kedatangan armada Cheng Ho dengan rombongan membawa 30.000 pengikut.

Sebagian dari rombongan ini dipimpin Chen Ci Lung yang diyakini sebagai nenek moyang penduduk Tionghoa Tangerang (Cina Benteng), mendarat di Teluk Naga pada 1407.

Sebutan Cina Benteng merujuk pada nama lama Kota Tangerang, yaitu Benteng, yang dibangun VOC pada bagian Timur Cisadane.

Dari banyaknya benda bersejarah yang ada di museum, ada dua benda yang menarik perhatian saya. Yang pertama, sepatu berukuran kecil. Ya, sepatu berukuran kecil itu dipakai oleh perempuan Tionghoa.

Sebelumnya, saya hanya melihat sepatu kecil dan kaki perempuan yang berukuran kecil dari televisi. Sepatu kecil itu membuat linu.

Saya membayangkan menderitanya perempuan kala itu memakai sepatu-sepatu kecil dengan cara mengikat kaki, bahkan mematahkan beberapa jari mereka, agar tetap bisa memakai sepatu kecil. Cara itu dilakukan para perempuan sebagai simbol status dan mendapatkan calon suami yang lebih baik.

Kondisi kaki yang sangat rapuh itu jelas tidak dapat membuat perempuan leluasa berjalan. Mereka dipaksa untuk melakukan aktivitas dengan duduk diam. Aktivitas yang dilakukan para perempuan tersebut juga bernilai ekonomi untuk keluarga. Saya bergidik membayangkannya.

Benda lain yang membuat saya tertarik adalah pipa yang digunakan sebagai penghisap candu. Nusantara di abad 17 praktik jual beli narkoba begitu bebas. Menghisap candu atau opium bukan saja menjadi gaya hidup kelas atas, melainkan juga kelas bawah. Uang hasil penjualan benda memabukkan itu dapat menggerakkan perekonomian.

Di sisi lain ada efek negatif yang ditimbulkan. Dari kalangan kelas bawah dengan upah bekerja yang tak seberapa menghabiskan sebagian upahnya untuk membeli opium yang membuat candu itu. Perdagangan opium melibatkan banyak tangan-tangan penguasa berbagai negara, yang juga menimbulkan perang opium.

Dari kawasan Pasar Lama, pada awal 2020 saya melanjutkan perjalanan ke kawasan BSD-Serpong. Sebelumnya, setiap ke kawasan BSD-Serpong pun sekadar berjalan-jalan masuk pusat perbelanjaan sekadar makan, bertemu teman, dan nonton bioskop. Namun, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Langkah kaki saya menuju Museum Pustaka Peranakan Tionghoa.

Museum ini didirikan oleh Azmi Abubakar pada tahun 2011. Azmi Abubakar adalah seorang berdarah Gayo, Aceh. Saya tertarik mengunjungi museum yang didirikan justru oleh orang Aceh itu dan berharap bisa bertemu dengannya. Namun, Azmi saat itu tidak sedang di museum.

Saat masuk dalam museum, saya melihat ada papan nama beraksara mandarin. Saya melihat ada begitu banyak sekali literatur. Bang Azmi mengumpulkan sekitar 40.000 literatur sejak tahun 1999. Setelah kerusuhan etnis di Jakarta tahun 1998, bang Azmi termotivasi mengumpulkan literatur sejarah. Tujuannya adalah untuk mengingatkan kontribusi etnis Tionghoa terhadap bangsa ini.

Di museum ini saya juga mendapat informasi yang saya tidak ketahui tentang kontribusi besar etnis Tionghoa, seperti Laksamana Jhon Lie, Kapiten Sepanjang, dan masih banyak lagi. Salah satu yang menarik perhatian adalah papan tanda pengenal sekolah swasta modern pertama di Batavia yang didirikan Tiong Hoa Hwee Kwan tahun 1900-an.

Rasanya saya membutuhkan beberapa kali datang berkunjung agar bisa melihat semua literatur dan benda bersejarah lainya. Museum ini membuat mata saya terbuka betapa Tangerang tak bisa dilepaskan dari kehadiran dan peran etnis Tionghoa.

Melihat Tangerang lebih dekat membuat mata saya terbuka, bahwa Cina Benteng tidak dapat dipisahkan dari Tangerang. Memisahkan Cina Benteng dari Tangerang adalah tindakan melupakan sejarah.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA