Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Kamis, 11 Agu 2022 11:45 WIB

D'TRAVELERS STORIES

7 Alasan Gunung Sanggabuana Harus Jadi Taman Nasional

Landscape Pegunungan Sanggabuana, Jawa Barat yang sedang berproses menjadi Taman Nasional
Landscape Pegunungan Sanggabuana, Jawa Barat yang sedang berproses menjadi Taman Nasional
detikTravel Community -

Gunung Sanggabuana yang sempat viral karena mitos buang kutang dan celana dalam, harus jadi taman nasional. Berikut 7 alasannya:

Pegunungan Sanggabuana yang terletak di Jawa Barat menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati yang lengkap. Kawasan Pegunungan Sanggabuana terletak di 4 kabupaten di Jawa Barat, yaitu Karawang, Purwakarta, Bogor, dan Ciajur.

Sejak tahun 2020, eksplorasi yang dilakukan telah mengidentifikasi berbagai macam kekayaan keanekaragaman hayati yang mencengangkan. Status hutan Pegunungan Sanggabuana yang merupakan Hutan Produksi Terbatas (HPT) diusulkan untuk dirubah statusnya menjadi kawasan pelestarian alam (KPA) dengan status Taman Nasional.

Berikut ini adalah 7 fakta kenapa Pegunungan Sanggabuana harus dirubah statusnya menjadi Taman Nasional:

1. Dalam eksplorasi yang dilakukan oleh tim ekspedisi "Sanggabuana Wildlife Expedition" pada tahun 2020 ditemukan 157 titik mata air yang ada di sepanjang Pegunungan Sanggabuana. Lebih dari 60% aliran air ini merupakan penyumbang debit air untuk Waduk Jatiluhur di Purwakarta. Sedangkan sisanya mengalir ke daerah aliran sungai (DAS) Citarum.

2. Gunung Sanggabuana (1.291 m dpl) merupakan salah satu gunung yang ada di kawasan Pegunungan Sanggabuana dan merupakan satu-satunya dataran tinggi dengan hutan hujan tropis yang ada di Kabupaten Karawang.

Dengan Karawang yang merupakan kawasan industri, hutan hujan tropis Pegunungan Sanggabuana merupakan salah satu oase penyumbang oksigen dan air untuk masyarakat Karawang, juga mempunyai potensi wisata alam yang tinggi.

3. Hutan di kawasan Pegunungan Sanggabuana merupakan habitat dari 5 jenis primata, 4 diantaranya adalah endemik jawa. Kelima primata itu adalah owa jawa (Hylobates moloch), Lutung jawa (Trachypithecus auratus), surili (Presbytis comata), Kukang jawa (Nycticebus javanicus), dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Dalam IUCN Red List, owa jawa (Hylobates moloch) masuk dalam ketegori Endagered (EN).

Sedangkan dalam CITES masuk dalam kategori Appendix I, yaitu daftar seluruh spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilarang dalam segala bentuk perdagangan secara internasional. Lutung jawa (Trachypithecus auratus) masuk ketegori Vulnerable (VU) atau rentan dalam IUCN Red List dan Appendix II CITES.

Kukang jawa (Nycticebus javanicus) primata nocturnal yang pemalu masuk dalam status Endagered (EN) IUCN Red List dan Appendix I CITES. Sedangkan primata lainnya, surili (Presbytis comata) masuk dalam status Endagerad (EN) IUCN Red List dan Appendix II CITES.

4. Garuda masih merajai angkasa dan menjadikan hutan Pegunungan Sanggabuana sebagai habitatnya. Adalah elang jawa atau manuk dadali atau javan hawk eagle (Nisaetus bartelsi) yang dijadikan lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila.

Top predator yang menguasai angkasa Sanggabuana ini dalam IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) Red List masuk dalam kategori Endagered (EN) atau terancam punah. Sedangkan dalam CITES (Convention on International Trade in Endagered Species of Wild Fauna and Flora) masuk dalam kategori Appendix 1, yaitu daftar spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional.

5. Hutan Pegunungan Sanggabuana merupakan habitat macan tutul jawa (Panthera pardus melas). Kamera trap yang dipasang oleh Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) di sepanjang Pegunungan Sanggabuana dari kurun waktu 2021-2022 banyak merekam macan tutul jawa, bak yang tutul maupun melanistik/hitam/macan kumbang.

Dalam IUCN Red List, macan tutul jawa masuk dalam ketegori Endagered (EN). Sedangkan dalam CITES masuk dalam kategori Appendix I. Selama tahun 2020-2022 masih terjadi konflik antara karnivora besar ini dengan manusia di beberapa kampung di perbatasan hutan. Juga masih banyak perburuan liar yang mengincar top predator ini.

6. Hasil pendataan dari Divisi Perlindungan dan Pelestarian Satwa (DPPS) SCF sampai Maret 2022 telah diidentifikas terdapat 150 jenis burung di sepanjang kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana.

Dari 150 jenis burung ini banyak terdapat burung dilindungi dan langka yang masuk dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P/10 MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi.

7. Dengan keindangan landscape, keunikan alamnya, juga dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang ada di Pegunungan Sanggabuana ini, belum ada upaya pelestarian dan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati Pegunungan Sanggabuana.

Hal ini disebabkan karena hutan di kawasan Pegunungan Sanggabuana merupakan hutan produksi terbatas (HPT) yang dikelola oleh Perum Perhutani. Dengan perubahan status kawasan Pegunungan Sanggabuana menjadi Taman Nasional diharap keanekaragaman hayati yang ada di pegunungan Sanggabuana akan mendapat upaya perlindungan dan pelestarian yang layak.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA