Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Senin, 26 Des 2022 10:50 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Ini Dia Kafe Hits di Kota Jambi, Sejuk di Tengah Hutan Kota

Riyanto
d'Traveler
Foto: detik
Foto: detik
Berada di gang sempit bilangan Jalan Sumatera, No. 16 Kebun Handil Kota Jambi. Duniawi Coffee seolah bersembunyi dari riuh dan sibuk kota Jambi.
Berada di gang sempit bilangan Jalan Sumatera, No. 16 Kebun Handil Kota Jambi. Duniawi Coffee seolah bersembunyi dari riuh dan sibuk kota Jambi.
Siapa sangka rawa yang dulunya adalah semak ini berubah menjadi ruang ekosistem kreatif yang hijau
Siapa sangka rawa yang dulunya adalah semak ini berubah menjadi ruang ekosistem kreatif yang hijau
Ruang Duduk yang sejuk dan nyaman.
Ruang Duduk yang sejuk dan nyaman.
Berjalan terus kebelakang dibagian kiri ternyata semakin menarik, ada mini teater yang ditata cukup estetik. Podiumnya disusun secara berundak dengan kursi yang ditata dengan corak beragam.
Berjalan terus kebelakang dibagian kiri ternyata semakin menarik, ada mini teater yang ditata cukup estetik. Podiumnya disusun secara berundak dengan kursi yang ditata dengan corak beragam.
Kolam yang ada di kawasan kafe.
Kolam yang ada di kawasan kafe.
detikTravel Community -

Berada di gang sempit bilangan Jalan Sumatera, No. 16 Kebun Handil Kota Jambi. Duniawi Coffee seolah bersembunyi dari riuh dan sibuk kota Jambi. Saya sempat tiga kali kesasar hingga ke gang sempit hingga menumukan ruang kopi dengan ekositem hutan yang teduh ini.

Siapa sangka rawa yang dulunya adalah semak ini berubah menjadi ruang ekosistem kreatif yang hijau. Berangkat dari Telanai menuju Jelutung. Setelah mencari beberapa refrensi kopi akhirnya saya putuskan untuk memilih Duniawi Coffee.

Saya sendiri bukan seorang coffee addict sebernarnya. Saya lebih senang mengamati budaya kopi yang hadir dalam lingkungan sosial anak muda. Menempuh perjalanan sekitar lima belas hingga dua puluh menit, akhirnya saya sampai di Jalan Sumatera, Kebun Handil. Siang yang panas bagi pengendara motor di Kota Jambi.

Mendekati titik maps yang tertera saya berusaha pelan melajukan motor sambil melihat ke kanan jalan. Namun anehnya sama sekali tidak ada coffee shop yang dituju, apalagi hutan ditengah Kota. Tiga kali saya coba mencari hingga akhirnya saya kesasar disebuah gang sempit dengan jalan yang cukup curam. Beruntungnya saya bertemu warga yang kebetulan tau lokasinya.

Ternyata lokasi Duniawi Coffee benar berada di samping jalan yang saya lewati, namun karena akses masuknya adalah jalan kecil tanpa nama sehingga agak sulit ditemukan. Saya masuk ke gang kecil yang ditunjukan tadi, sebuah jalan yang mengarah kesebuah rumah warga, disana saya diberitahu bahwa untuk menuju coffee shopnya bisa melewati jalan kecil disamping parkiran.

Lumayan capek sebenarnya mencari tadi, namun! Siapa sangka setelah sampai dilokasi, ternyata ruang hijaunya benar-benar melebihi ekspektasi yang saya bayangkan. Pohon-pohon hijau yang besar, yang didominasi gaharu dengan daun yang rimbun, tumbuh subur diarea ini. Lalu di bagian bawah ada kolam kecil memanjang dihiasi ikan mas dan lapangan badminton.

Di pintu kedatangan dan bagian dinding samping lapangan tampak mural cantik yang seolah-olah menyambut tamu dengan bahagia. Bar nya berada di bagian sebelah kiri, sebuah ruang kecil dengan kaca besar yang menghadap langsung ketaman. Disampingnya ada sebuah studio musik kecil dengan piringan hitam yang tertata rapi d iatas sebuah meja.

Satu set kursi kayu bergaya jepara sepertinya, tertata rapi disamping kiri ruangan. Di dinding ragam album musik tampak senada menghias ruangan bergaya retro ini. Saya coba pesankan secangkir latte art kepada barista, sembari menunggu saya coba berkeliling sebentar mencari lokasi duduk. Di sebelah kanan atas ada beranda dengan deretan kursi dan meja yang ditempati beberapa anak muda yang sedang membuat tugas sepertinya.

Pada pelataran di bawahnya yang berupa jalan kecil dengan ornamen batu alam bercobrak merah, tepatnya di bawah pohon-pohon besar yang rindang, ada bangku-bangku dari besi berwarna putih dengan meja senada. Lalu pada bagian bawah didekat kolam juga terdapat beberapa bangku serupa. Akhirnya saya pilihkan tempat duduk dibagian pelataran kedua di bawah gaharu besar.

Tidak berapa lama kopi yang saya tunggu datang, dan kebetulan sekali berbarengan dengan Mas Saka, Owner Duniawi Coffee. Tadi kepada barisata saya sampaikan ingin mengobrol. Kami mengobrol panjang lebar, dimulai dari bagaimana coffee shop ini lahir, apa yang ingin disampaikan hingga apa hubungannya dengan musik. Ternyata menarik sekali, kehadiran Duniawi Coffee bukan sebagai sebuah tempat ngopi. Tapi juga menjadi ekosistem sosial kreatif.

Dari obrolan hangat ini saya jadi tau bahwa Dunia Coffee, mengusung konsep kopi dan musik sebagai identitas. Tidak hanya itu disini juga ada ekosistem sosial kreatif yang dibangun, baik dengan komunitas maupun masyarakat sekitar. Beberapa ekosistem yang kolaborasi disini seperti mural, street art, hingga music selector.

Saya diajak berkeliling oleh Mas Saka kebagian belakang. Dari ceritanya saya baru tahu ternyata lapangan bulu tangkis yang ada di bagian bawah dekat kolam dipergunakan oleh warga untuk berolahraga pada malam harinya.

Kata Mas Saka di sini coffee shop dibuka sejak pagi jam 7 hingga sore jam 5, sementara malam hari area lapangan badminton digunakan sebagai ruang olahraga bagi warga. Berjalan terus ke belakang di bagian kiri ternyata semakin menarik, ada mini teater yang ditata cukup estetik. Podiumnya disusun secara berundak dengan kursi yang ditata dengan corak beragam.

Menurut Mas Saka teater kecil ini biasa digunakan untuk acara komunitas, seperti musik contohnya. Duniawi Coffee sebenarnya adalah rumah keluarga, kebetulan ayah Mas Saka adalah orang yang suka dengan lingkungan, maka rawa di belakang sini perlahan beliau tanam pohon-pohon hijau yang sekarang menghiasi Duniawi Coffee. Selain gaharu dan aneka tanaman hias, di sini juga banyak buah-buahan.

Menarik sekali menyimak bagaimana Duniawi Coffee ini hadir di tengah kota yang padat. Bukan hanya berhasil menambah nilai ekonomi tapi juga berhasil menghadirkan ekosistem yang selaras antara kopi, musik, kreatifitas dan sosial.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA